1 Komentar

Boekoe Gandroeng #1

Buku Gandrung, itu sepasang diksi yang saya pilih menjadi judul jurnal ini. Ya… tampaknya memang agak menjiplak sepasang kata yang sudah pernah ada sebelumnya, seperti lakon wayang Gatotkaca Gandrung, Arjuna Gandrun, dan yang serupa dengan itu, seperti Mendadak Dangdut dan sebagai. Dengan sedikit cara tulis dengan ejaan lama, sehingga menjadi “Boekoe Gandroeng”, judul jurnal ini menjadi agak nyentrik: Terkesan jadoel.

Jurnal ini mewakili suasana hati saya tentang hobi baru yang tiba-tiba menghentak-hentak dalam lima bulan terakhir. Hobi mengoleksi buku, baik terbitan lama maupun baru. Tentu saja, buku yang sesuai dengan minat dan kebutuhan saya. Namun, daya hentak hobi itu jika dibilang sudah mengarah menjadi candu, ya ndak juga sih.

Continue Reading »

Iklan
1 Komentar

Kunpaksakeun, Bukan Kunfayakun

Ini sebuah kenangan tentang dinamika anak-anak pergerakan Madinah Indonesia–sebutan lain bagi pergerakan NII. Agar tak bias dan menggeneralisir ke NII faksi lain, cerita ini bergulir di kalangan NII faksi Zaytun.

Kun-paksakeun” adalah sebuah istilah yang lahir sebagai sebuah improvisasi spontan di sebagian kalangan aktivis pergerakan kelompok ini pada era dekade 1990-an. Di sel (baca: network/ idariah) Jakarta Barat, para mas’ul (aparat) di kompartemen (pernah disebut dengan istilah “komandemen”) ini semakin familiar dengan diksi: kun paksakeun.  Memang, tak pernah ada penjelasan resmi bahwa diksi ini merupakan plesetan dari “kun fa ya kun“–sebuah penggalan ayat di Surat Yasin, yang terkenal itu.  Entah di sel lain, apakah  para aktivisnya juga sering memunculkan diksi ini dalam dialog-dialog di antara mereka.

***

Di blog ini juga, pada jurnal terdahulu dengan judul: “Kun fa ya Kun” (sebaiknya Anda membaca juga, pen), saya menulis tentang kegelisahan atas pemaknaan kun fa ya kun sebagai sebuah legitimasi mutlak terhadap sikup hidup yang penuh kepasrahan terhadap ketentuan Tuhan atas detail kehidupan manusia, yang seolah-olah menafikan campur tangan upaya manusia.

Di sana, saya menulis:

Continue Reading »

2 Komentar

The Old Man and The Sea

Satu Novel Berupa-rupa Wajah

Membaca novel klasik, yang sudah berkali-kali difilmkan, ternyata tetap mengasyikkan. Bukan lantaran karena si penulisnya adalah Ernest Hemingway, yang melegenda itu. Tapi karena memang alur cerita dan detail peristiwa yang ada di dalamnya membuat saya seperti tertarik ke dalam, enggan lepas. Hahaha….seperti ikan marlin raksasa yang tertangkap kail Santiago; dua tokoh dalam buku berjudul: The Old Man and The Sea.

Naskah buku yang saya baca memang bukan naskah berbahasa Inggris, yang orisinil, melainkan naskah berbahasa Indonesia hasil terjemahan penerjemah Penerbit Serambi.

Di antara kebimbangan apakah buku itu sebuah ‘cerpen’ panjang atau novel, saya mencoba meneroka kembali jejak karya Ernest yang ia tulis saat tinggal di Kuba dan berhasil menyabet Hadiah Pulitzer 1953 untuk kategori fiksi serta Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters, sekaligus mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Sastra itu.

Info yang saya peroleh, novel atau cerpen panjang ini dianggap menyentuh sehingga berkali-kali difilmkan dan terus dibaca orang di berbagai penjuru dunia hingga saat ini. Salah satu pemeran Santiago adalah Anthony Quinn. Buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Menurut Majalah TIME terbitan 8 September 1952, buku ini tergolong novel yang sangat pendek. Hanya 27.000 kata.

Sebelum yakin benar, Ernest sampai harus membaca ulang sampai 200 kali.

“I have had to read it now over 200 times and every time it does something to me. It’s as though I had gotten finally what I had been working for all my life.”

Namun, ada secarik sisi menarik dari kisah karya Ernest ini, yang membuat saya tergerak untuk membuatnya menjadi sebuah artikel semi album gambar di blog ini. Ya…ini tentang desain sampul The Old Man and The Sea, yang ternyata multirupa. Tak seragam, seperti gaya komunis Kuba, tempat Ernest menuliskannya.

Ah…ini memang tentang sesuatu yang renyah di antara keberbobotan The Old Man and The Sea.

Ini dia cover-cover novel The Oldman and The Sea dari berbagai edisi (klik untuk detail cover).

klik untuk melihat album foto aneka cover buku novel The Old Man and The Sea di kalipaksi@multiply dot com

5 Komentar

Rossa in Action

Ini link dari beberapa foto Rossa, ketika ia menjadi pengisi acara pada PU Award yang kemudian ditayangkan di Metro TV pada 5 Desember 2009.  Untung ada lensa 300, segalanya jadi bisa lebih jelas dari tribun atas.

Click on preview

1 Komentar

Koin Prita: Seteng Dadi Genteng, Century: Sewu Dadi Awu

gambar dari Yogyakarta Coin a Chance

Ada dua peristiwa dengan skala perhatian publik besar yang saat ini sedang terjadi secara bersamaan. Namun, keduanya adalah merupakan sebuah anomali, bagi satu sama lainnya: koin Prita dan bailout Century.

Continue Reading »

1 Komentar

Neraka (cerbata #2)

sekadar modifikasi ilustrasi

Sembilan November lalu, dunia memperingati keruntuhan Tembok Berlin. Kenangan tentang masa-masa kejayaan komunisme di Eropa Timur pun kembali disebut-sebut. Salah satunya tentang anekdot-anekdot yang hidup di masa itu. Kompas menuliskannya di sini: Anekdot Era Komunis Tetap Hidup.

Di antara anekdot yang dirilis kembali oleh Kompas, ada satu yang membuat saya tergelitik. Ini kutipannya:

”Mana yang lebih baik, sebuah neraka komunis atau sebuah neraka kapitalis?

Tentu saja jawabannya neraka komunis! Selalu terjadi kelangkaan korek api dan bahan bakar, pemanas selalu rusak, dan para iblis serta makhluk-makhluknya selalu sibuk dengan pertemuan-pertemuan partai”

Saya pun teringat anekdot serupa yang beberapa hari sebelum tulisan di Kompas itu naik cetak membuat tawa sekelompok komunitas meledak. Masih tentang neraka. Sebuah anekdot yang juga lahir karena perasaan ketertindasan.

Continue Reading »

1 Komentar

Kiat Surabaya “Melawan” Banjir

Musim penghujan telah tiba. Jakarta pun mulai disesaki dengan genangan air. Banjir adalah momok. Tak hanya bagi Jakarta, tapi juga bagi kota-kota lain. Surabaya merupakan salah satu kota yang tergolong sukses mengantisipasi banjir. Tulisan ini merupakan beberapa kiat kota-kota besar di negeri kita berkelit dari banjir. Ada yang masih berupa ide. Ada yang sudah diterapkan. Ini hanya sebuah catatan, yang pernah dimuat di sebuah majalah bertemakan infrastruktur.

Oh ya, sebagian isi tulisan ini adalah hasil bincang-bincang dengan Cak Bambang DH, Walikota Surabaya, ketika saya ke Surabaya tahun lalu. Thanks Pak Bambang… 🙂

Continue Reading »