11 Komentar

Pak Harto Bukan Abu Lahab

Pernah aku begitu benci Pak Harto, tapi sekarang aku sadar: aku salah!

 

Pak Harto adalah pahlawan bagi para pencintanya. Aku yakin itu. Jika almarhum Bapak masih hidup, mungkin ia akan sudah ceriwis mengomentari tarik ulur pengusulan Pak Harto sebagai Pahlawan Nasional. Ia adalah seorang Soehartois (meniru istilah Soekarnois, hehe). Sebagai cah Yogjo, almarhum Bapak memang pengagum Soeharto. Sewaktu aku kecil dulu, ia selalu bercerita tentang kisah heroik Pak Harto, terutama tentang perannya dalam Serangan Umum 1 Maret, yang terkenal dengan momen Enam Jam di Jogja itu. Ia pula yang selalu mengingatkanku untuk menonton film “Janur Kuning”, yang menampilkan Kaharudinsyah sebagai Letkol Soeharto.

Tapi entah mengapa, sejak SD pun aku sudah tak suka Pak Harto. Tak obyektif, memang. Mungkin aku silau dengan pesona Margareth Tacher, Ronald Reagen, atau Lee Kuen Yeuw yang fasih ber-english ria. Juga tentang kisah Bung Karno yang fasih multibahasa. Sedangkan Pak Harto, tentu saja tidak. Ia selalu berpidato dalam bahasa Indonesia. Sebagai anak kecil, aku punya kesan: seorang presiden harus bisa berbahasa asing. Sebagai anak buruh, situasi hidup yang serba pas-pasan menambah ketakpuasanku pada keadaan, yang ketika itu identik dengan Pak Harto.

Di usia belasan tahun, persisnya 18 tahun, ketika aku dicekoki semangat perlawanan anti NKRI, lagi-lagi ketaksukaanku atas Pak Harto tambah memuncak. Apalagi ia dianalogikan sebagai Abu Lahab, pemimpin Quraisy yang memusuhi Nabi. Tentang ini, ada baiknya kuceritakan sedikit agar lebih jelas duduk perkaranya.

Ihwal penganalogian Pak Harto sebagai Abu Lahab itu bermula dari penafsiran surat Al-Lahab, yang menyebutkan sifat-sifat Abu Lahab sebagai pemimpin Quraisy yang banyak harta dan perusahaan (ma aghna anhu maaluhu wa ma kasab = tidak berguna segala harta kekayaan dan usahanya).  Bahkan nama Soeharto pun secara bahasa bermakna “banyak harta”  (Su = banyak dan Harto = harta). Ditambah lagi dengan kelanjutan ayat itu wa amroatuhu (dan perempuannya atau istrinya), yang kemudian dinisbatkan kepada peran Bu Tien, yang konon sangat besar. Bahkan, ada mitos Jawa yang bilang: nasib Pak Harto sebagai Presiden karena ia ketiban wahyu kepabron lantaran memperistri Bu Tien (jangan-jangan begitu pula dengan Pak Beye dan Bu Ani?!?!?).

Sungguh, aku jadi suka tertawa geli jika mengingat kekonyolan gothak-gathik gathuk itu. Embuh, benar atau tidak. Yang jelas itu konyol karena mempertaruhkan penafsiran sejarah dengan penafsiran model semau gue.

Lanjut, alhasil berkat model provokasi sejarah yang semacam itu aku masuk ke dalam barisan manusia penentang NKRI. Memang, mereka itu tak bersenjata. Tapi, militansinya luar biasa. Selama bertahun-tahun, aku memperolok-olok Pak Harto. Bahkan, bos kami sempat memberi nama seekor sapi dengan Toing, yang merupakan plesetan dari nama Pak Harto. Hmm, jika kupikir-kupikir, jahat betul kami.

Memang, belakangan ketika skema perjuangan organisasi melunak, justru si Bos malah mendekat Pak Harto. Berkat strategi pendolopan yang luar biasa, Pak Harto mengirim banyak sapi untuk dipelihara oleh si Bos, yang belakangan bergelar Syaykh. Sebagai imbalan kebaikan Pak Harto, sebuah bangunan megah bernilai puluhan miliar dinamai Gedung H.M. Soeharto. Anda bisa menjumpai gedung itu di kompleks Kampus Universitas Al-Zaytun Indramayu. Jika dipikir-pikir, politik memang menggelitik. Dulu dikatai dengan istilah Toing, belakangan disanjung-sanjung setinggi awan. Yah, namanya juga politik, bukan?!?! Meski levelnya, menurut banyak orang, masih merupakan politik ethok-ethok (belum politik sungguhan).

Sekarang, setelah era reformasi bergulir, aku banyak menguping aspirasi saudara se-Indonesia dari Binjai sampai Wamena (itu karena aku belum pernah menginjak tanah Sabang dan Merauke).

“Enakan zaman Pak Harto,” kata mereka membandingkan.

Memang, Pak Harto bukan sosok yang tak memiliki cacat politik. Tapi jika mau jujur: adakah para politisi yang benar-benar tak memiliki cacat politik? Bahkan, tokoh seideal HOS Tjokroaminoto pun dituding punya cacat politik oleh para aktivis Sarekat Islam kiri. Ya, mereka menuduh Tjokroaminoto tak bisa mempertanggungjawabkan keuangan organisasi.

Betul, bahwa fakta Pak Harto dan para kroninya menjadi begitu bergelimang rupiah dan harta patut dicurigai sebagai hasil penyelewengan kekuasaan selama 32 tahun. Tapi, janganlah juga kita menafikan jasa-jasanya membangun stabilitas politik dan ekonomi selama ia memimpin.

So, apa poin dari celoteh tak penting ini?

Begini, jika sebagai jelata aku ditanya apakah Pak Harto layak jadi Pahlawan Nasional. Aku akan menjawab: Ya, aku tak keberatan tapi ndak usah dipaksakan sekarang. Biarkan luka-luka rakyat yang merasa pernah terzalimi Pak Harto mereda sakitnya.

Nah, biar adil. Tunda pula rencana penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional bagi Bang Ali Sadikin dan Gus Dur. Biarkan pula jasa-jasa mereka mengendap sesaat. Ibarat anggur, semakin lama disimpan semakin oke punya, kan?

Mungkin, sikap seperti ini naif.  Ya, biarlah begitu. Toh, setiap orang boleh berbeda pendapat, bukan?!? Yang jelas, bagiku sekarang Pak Harto bukan Abu Lahab. Ia adalah orang yang pernah berjasa bagiku. ©

Iklan

11 comments on “Pak Harto Bukan Abu Lahab

  1. yang pernah membantai orang2 PKI tanpa pandang bulu, membawa amerika menghacurkan freeport, yang mengucurkan darah di timor-timur..yg membungkam mulut mahasiswa dengan gagah beraninya.. silakan nilai sendiri.

  2. pak… saya sepakat demikian meski memang seharusnya ketika beliau masih hidup proses peradilan harus tetap berjalan. nah kearifan kita memaafkan pak harto tentu diperlukan untuk membangun indonesia lebih baik… Eh pak menurut sampeyan anggota dewan sekarang ini yang sok pahlawan itu dibanding pak harto lebih baik yang mana ya…? hehe salam kenal pak

  3. dadi kelingan cara-carane wong nii kw 9 menafsirkan AQ

    mung modal “terjemah DEPAG” kanggo gawe menilai kehidupan “NKRI”

    tanpo : asbun nuzul, hadist-2 shohih pendukung, asbabul wurud pilihan hadist yang digunakan, bahasan nahwu shorof balaghah mantiq, dan kajian2 kitab mashur & terpercaya …

    🙂

    salam,
    eks nii kw 9
    08132 8484 289
    bahtiar@gmail.com
    admin http://niikw9.wordpress.com

  4. He yang abu lahab itu bukan Pak Harto, tetapi tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya adalah Abu Jahal, Siapa dia ?ya pembantu pembantunya dalam pemerintahan yang banyak berperan terutama era sebelum tahun 1990 an. Siapa mereka ? tahu sendiri lah. yang merancang kasus talang sari siapa? kasus priok siapa? Tapi eranya berakhir setelah pemilu 1992. Karena merasa di tinggalkan, mereka berulah dengan bantuan Amerika

  5. dasar budak Zaytun… Soeharto si pembantai Tanjung Priuk, Lampung, Aceh, mau disebut pahlawan….. mual ane sama kaderan si Panci Gomintang

  6. hantam blehh…!!!

  7. seharusnya sebagai manusia harus menjunjung..tinggi..!! martabat manusia, karena itu kan yang di ajarkan…, bukan malah olok mengolok…!!! gmana ya, kabarnya temen2 yang pernah ikut NII, MASH GAK APA PADA KABUR NEH…!!!

  8. Kalo menurut aku sih, sampe sekarang belum ada presiden yang lebih mempesona dan super berwibawa kayak pak harto. Presiden yang bisa ngebuat para rakyatnya tidur dg tenang, karna perutnya udah kenyang

    kalo setelah era nya beliau, yaah bisa kita liat sendiri gimana -_-

  9. presiden legendari banget ini , makasi infonya gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: