Tinggalkan komentar

Wajahku Mirip Banyak Orang? Huff …

“Di banyak kota yang pernah kusinggahi, ada saja cerita orang salah kira. Bahkan, di kotaku sendiri aku pernah ditampar  seorang supir angkot karena disangka orang lain …”

Entah sudah berapa belas kali aku disangka orang lain. Apakah karena model wajah yang dilukiskan Tuhan untukku memang pasaran? Bisa jadi. Lha, buktinya, dalam dua hari ini lagi-lagi aku disangka orang lain. Kejadian terkini tadi siang, ketika menghadiri sejenak sebuah diskusi di sela-sela even Expo Pembiayaan di Gedung SMESCO Indonesia. Seorang perempuan separuh baya menyapaku, “Apa kabar Pak Umar? Sekarang kerja di media apa?”  Ia yakin betul bahwa aku adalah Umar, seorang jurnalis bulletin internal sebuah lembaga.

Sehari sebelumnya, dalam sebuah sesi wawancara, seorang pejabat Bank Indonesia sempat menyangka aku adalah wartawan Kompas yang sudah lama ia kenal. Ketika kami berpapasan di muka lift dan saling menyapa, ia sempat bertanya pada diri:  “apakah ia (maksudnya aku) sudah keluar dari Kompas dan bekerja di Kementerian Koperasi dan UKM?”.

Duh, mendengar pengakuan si pejabat, aku jadi berfikir: “jangan-jangan mukaku ini memang tipe pasaran ya? Apakah Tuhan sedang libur ketika menciptakanku?” Hehehe… maaf Tuhan, jangan kau tersinggung karena candaku ini.

Yang jelas, kejadian orang “salah kira” seperti dua cerita di atas tadi, bagiku bukan yang pertama dan kedua.  Di banyak kota yang pernah kusinggahi, ada saja cerita orang salah kira. Bahkan, di kotaku sendiri aku pernah ditampar  seorang supir angkot. Memang, bukan tamparan karena emosi melainkan tamparan bersahabat lantaran ia sangka aku adalah seorang sahabat lama yang telah lama pergi merantau ke Sumatera. Sungguh, cerita ditampar sopir angkot itu tak kan pernah kulupakan. Begini ceritanya.

Waktu itu aku baru saja kembali dari liputan. Turun dari pesawat, aku melanjutkan perjalanan menumpang bus Damri ke Pasar Minggu. Pindah moda, aku melanjutkan perjalanan dengan kereta rel listrik.  Dari stasiun KA Depok, kutumpangi sebuah angkot. Karena kursi di sebelah sopir masih kosong, kupilih untuk duduk di samping kemudi.

Tiba-tiba. Plok. Tangan kiri sopir mendarat ke pipiku. Sebuah tamparan, yang tak terlalu kencang, memang. Seraya ia berkata, “Ding, kemane aje loe. Kagak pernah kasih kabar ke gue,”  kata si Sopir. Hmmm.. jelas aku tak terpancing emosi. Ia pasti mengira aku orang lain. Ia pasti mengira aku sahabat lamanya. Oh ya, sehari sebelumnya, seorang PNS di Kalimantan pun bilang bahwa aku sangat mirip seseorang.]

“Maaf, abang pasti salah orang. Saya bukan Ending,” jelasku.

“Ah, elo jangan maen-maen, Ding. Biar elo udah tahunan kerja di luaran sono, gue gak mungkin lupa ame elo,” sahutnya lagi dengan logat Betawi Depok, yang menurutku sangat kental.

“Asli, Bang. Saya bukan kawan Abang. Saya bukan Ending,” kucoba yakinkan ia sekali lagi. Dan, tampaknya kali ini aku berhasil. Ia pandangi wajahku sekali lagi. Hingga akhirnya ia sadar telah berbuat keliru.

“Wah, maaf banget Bang. Saya kira abang kawan saya. Maaf ye, Bang,” kata ia. Kali ini ia tak lagi menggunakan kata “gue”, tapi “saya”. Mungkin, karena ia sudah sadar bahwa ia berhadapan dengan orang asing. Sejurus kemudian, ia minta lima orang penumpang yang sudah ikut ngetem di kursi deretan bagian belakang angkot untuk turun.

“Maaf ya Bapak Ibu. Saya nggak narik. Maaf banget,” kata ia sopan. Sungguh, aku jadi heran: ada urusan apa ia menyuruh para penumpang itu turun.

“Bang, sebagai permohonan maaf, saya antar Abang sampai rumah ya. Saya nggak enak banget udah nampar Abang tadi,” katanya meminta.

Aku menggangguk tanda setuju. Dan, ia pun mengemudikan angkotnya menuju rumahku, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari terminal. Sebagai imbalan, kuberi ia Rp 20.000. Yah, hitung-hitung naik taksi. Ia sempat menolak, memang, meski akhirnya malu-malu menerima.

***

Masih ada cerita lain, yang tak kalah konyol. Waktu itu di sebuah kota di Jawa Tengah, di sebuah kantor Dinas LLAJ (aku lupa nomenklatur resminya). Untuk kepentingan sebuah liputan, aku membuat janji dengan Kepala Dinas di kantor dinas teknis tersebut. Usai wawancara, aku bermaksud menggandakan beberapa data-data sekunder di kedai fotokopi yang terletak di belakang kantor dinas. Selanjutnya:

Seseorang (pria) menepuk bahuku.

“Pripun Mas, sampun beres urusan kulo,” tanya si pria dalam bahasa Jawa. Ah, daripada harus menterjemahkan lebih baik kuceritakan saja dialog kami dalam bahasa Indonesia. “Gimana Mas sudah beres urusan saya. Tadi panjenengan sudah ketemu Pak Kepala Dinas, tho?” kata si lelaki.

Hmmm, pasti orang ini salah orang, pikirku. Tapi kok ya sama tho. Apa ia tahu bahwa aku juga baru saja berjumpa Kepala Dinas, pikirku lagi.

Yang lebih menjengkelkan, ia pikir dokumen yang aku gandakan di kedai fotokopi adalah dokumen surat menyurat yang ia titipkan pada oknum calo, untuk dimintakan persetujuan Kepala Dinas. “Itu berkas-berkasnya apa sudah ditanda tangan, Pak Kepala Dinas?”  kata ia melanjutkan pertanyaan.

“Wah, Bapak pasti salah orang. Saya bukan orang yang Bapak maksud?” aku mencoba menjelaskan. Dan, benar saja, muka si pria memerah. Rupanya ia malu. Fyuhhh.. ada-ada saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: