1 Komentar

Mas Parimin Mencabut Pakubumi

ConstructionArt-RGB

Ini tentang seorang sahabat yang kini telah tiada. Mendahuluiku dan kami para sahabatnya. Ia seorang “pejuang” penuh sahaja. Mungkin, ia bukan seorang patriot. Tapi ia adalah peluru yang siap melesat ke mana saja. Namanya tak kan pernah ku lupa: Parimin.

Semangat Parimin mewakili sosok orang desa yang enggan hidup manja. Meski ia lancar baca dan tulis, seingatku Ia tak lulus Sekolah Dasar.  Ia sosok yang polos. Tak banyak bicara ketika melaksanakan perintah. Jarang berteori. Yang ia yakini: pengabdian adalah segalanya. Ia tak peduli apakah malaikat pencatat merekap amal jihadnya atau tidak. Fyuuuh, sebuah sikap yang bagiku menampar banyak pribadi. Termasuk aku, tentunya.

Senyum Parimin adalah fenomena langka. Sesekali saja ia tersenyum. Sebaliknya, ia hampir selalu membuatku tersenyum karena ketulusannya. Juga, karena kepolosannya. Pertanyaan-pertanyaannya di luar dugaan. Bagi orang lain, mungkin, ia melontarkan pertanyaan bodoh. Bagiku tidak.

Satu pertanyaan Parimin tak kan pernah kulupa, kecuali jika kelak aku telah tertawan penyakit pikun. Pertanyaan Parimin kala itu kaitan erat dengan latar belakangku sebagai mahasiswa jurusan Planologi–yang berkaitan dengan ilmu tata kota.  Begini ceritanya:

Ketika itu tahun 1992. Sebagai mentor, aku hampir selalu mencoba memasukkan unsur-unsur keplanologian dalam sesi-sesi kaderisasi. Kuakui, saat itu aku memang terlalu latah memaksakan variabel-variabel planologi, yang tentu saja, belum kukuasai benar (sampai sekarang pun sebenarnya tak pernah kukuasai). Begitulah, dalam sesi-sesi kaderisasi ketika aku menyampaikan penjelasan tentang konsep “fitrah”, secara konyol aku kaitkan dengan prinsip ideal tentang penataan ruang: pemanfaatan yang sesuai dengan peruntukan.

Sebagai aktivis gerakan anti-pemerintah, kami hampir selalu mencari-cari kesalahan kebijakan pemerintah. Biasalah, dagang isu politik kan memang begitu. Nah, sewaktu kami (saya dan Mas Parimin) melintas di kawasan Tanjung Duren Jakarta Barat. Waktu itu Mall Taman Anggrek sedang dibangun. Ketika kami melintas, suara tiang-tiang pancang pondasi bangunan sedang ditancapkan. Boom. Boom. Sesekali kami merasakan getarannya.

Sebagai awam, dengan sok tahunya kubilang kepada Mas Parimin.

“Lokasi ini semestinya bukan untuk mall. Kota kita ini memang salah kaprah. Pantai Indah Kapuk, misalnya. Wong daerah buffer kok dibangun permukiman mewah. Ya pasti banjir”.

Mas Parimin merespon:

“Ooo gitu ya, Mas. Wah berarti kita ini berdosa betul ya karena membangun kota tidak sesuai fitrahnya.”

“Berarti, jika kelak perjuangan kita berhasil. Negara ini telah diatur dengan syariat, semua yang tidak fitrah harus dikembalikan pada fitrahnya. Bukan begitu, Mas?

Aku menjawab (tentu saja dengan argumen-argumen bodoh):

“Sampeyan benar, Mas. Semua akan kita kembalikan pada fitrahnya. Yang untuk daerah resapan air, kita kembalikan fungsinya. Gedung-gedung di atasnya kita ratakan dengan tanah. Harus benar-benar kembali pada fitrahnya”.

Parimin mengangguk-angguk tanda mengerti. Tapi secepat kilat mimiknya menunjukkan kebingungan. “Ah, pasti ada yang menggantung di benaknya?” pikirku. Dan, benar saja.

Parimin kembali bertanya:

“Lalu bagaimana kita mencabuti tiang-tiang pancang yang sudah terlanjur jadi pondasi bangunan-bangunan bertingkat, Mas? Pasti susah sekali. Apakah kita sudah punya ilmunya?”

Dan, pertanyaan itu menutup ke-soktauan-ku. Aku cuma bisa bilang.

Nanti kutanyakan kepada Pimpinan. Mungkin mereka punya sudah punya cara dan teknologinya. (hehehe … ngeles MODE-ON)

***

Mas Parimin, kutahu engkau tak sempat membaca jurnal ini, yang kutulis jauh sesudah kepergianmu, kecuali di rumah barumu di alam barzah sana memang ada koneksi internet yang bisa mengakses kecanggihan berkomunikasi di era sekarang.

Yang jelas ketika aku menuntaskan jurnal ini aku sedang bernostalgia tentangmu. Tentang sosok yang lugu, jujur, tapi berdedikasi. Yang aku tahu, meski aku terlalu sering mengguruimu, sesungguhnya aku banyak belajar darimu.

Senayan, 2010

Iklan

One comment on “Mas Parimin Mencabut Pakubumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: