2 Komentar

Komik Gandrung

Boekoe Gandroeng #2

Pada tulisan terdahulu, yang saya beri judul Boekoe Gandroeng #1, ada bagian tulisan yang berbunyi begini:

Demi anak-anak, perpustakaan juga dilengkapi dengan kumpulan buku-buku komik dan kartun, seperti: Trilogi Komik Riwayat Peradaban, komik Filsuf Jagoan, biografi grafis Che Guevara, komik Bersabdalah Zarathustra – Nietzsche, komik Mein Kampf – Hitler, kartun Biografi Mahatma Gandhi, hingga kartun buku “On The Origin of Species” karya Charles Darwin.

Buku-buku itu, memang sengaja saya beli untuk bacaan anak-anak saya, terutama si sulung dan si tengah. Si Sulung kini duduk di bangku kelas III SMP, sedangkan Si Tengah duduk di bangku kelas I SMP. Oh ya si bungsu masih kecil. Ia baru saja merasakan seragam sekolah putih merah.

Jujur, meski pada mulanya buku-buku tadi saya dedikasikan untuk anak-anak, tapi buku-buku ini tetap penting dibaca, tak hanya anak-anak atau remaja. tapi juga orang dewasa Apalagi, yang tidak terlalu “nyaman” dengan buku aslinya, yang jelas memerlukan energi khusus untuk  membacanya, seperti Bersabdalah Zarathustra tulisan Nietzsche, Mein Kampf karya Hitler, atau “On The Origin of Species” karya Charles Darwin, si Bapak Teori Evolusi itu.

Yang menarik, saya tak bisa berhenti membaca trilogi Komik Riwayat Peradaban karya Larry Gonick hingga tuntas tiga buku. Meski berbentuk cerita kartun, buku ini dibuat memang bukan semata untuk dikonsumsi anak-anak atau remaja. Orang dewasa pun layak membaca trilogi dahsyat ini. Memang, saya agak kurang sreg dengan trilogi Filsuf Jagoan karya Van Lente. Meski secara substansi cerdas, gaya ilustrasi komik ini kok terkesan “apa adanya”. Meskipun, saya paham betul bahwa ini hanya soal selera.  Buku komik “On The Origin of Species”, yang merupakan versi sederhana dan bergambar dari buku aslinya, juga sangat informatif. Saya menjadi lebih paham detail teori Darwin, yang ternyata tak hanya bicara tentang kemungkinan kera sebagai nenek moyang manusia.

Tentang komik, beberapa tahun lalu saya pernah menulis sebuah artikel berjudul “Anak Membaca Komik, Kenapa Tidak?“. Ketika itu, buku-buku komik berdimensi sains dan sejarah belum banyak diterbitkan di negeri kita. Yang menggelisahkan, masih ada semacam sinisme terhadap komik. Bahkan, ada guru yang melarang muridnya membaca komik. Padahal, komik tak selamanya buruk, bukan? Bahkan, komik telah menjadi bagian dari budaya positif sebuah bangsa maju seperti Jepang. Di negeri sakura itu, teknik menggambar komik yang paling terkenal adalah manga.

Setelah sukses dengan ekspor mobil, mainan (seperti tamiya dan tomagochi) hingga perangkat elektronikanya, Jepang juga sukses membanjiri dunia (khususnya di Indonesia) dengan komik-komik Jepang dengan tokoh Chin Mi (Kungfu Boy), Kapten Tsubasa, Doraemon, Sailormoon, dan sebagainya yang bahkan kemudian dibuat film kartunnya. Tentu ada sebab sehingga dunia perkomikan Jepang begitu besar (tapi jangan dulu dibandingkan dengan apa yang sudah dikerjakan oleh Walt Disney).

Ternyata masyarakat menempatkan komik sebagai variabel penting. Manga, begitu orang Jepang menyebut komik, menyentuh hampir semua aspek kehidupan. Majalah Panji Masyarakat No. 21 tahun 1997 menuliskan bahwa ada manga tentang seni manajemen Sun Tzu (yang terkenal dengan strategi bernegara dan manajemen perangnya itu), kehidupan dinasti Tokugawa, tentang Thomas Edison, komik fisika, teknik berolahraga, bahkan komik tentang kitab Injil.

Di Jepang, manga akhirnya menjadi wahana penyampai segala macam pesan yang komunikatif dan memikat, bagi anak-anak juga bagi orang dewasa. Semangat semacam itu serupa dengan yang dilakukan Yohanes  Surya, PhD (kini Rektor Universitas Pelita Harapan) dalam mensosialisasikan fisika bagi anak-anak melalui pengayaan visualisasi kartun, yang digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena fisika.

Para guru di Jepang justru tak menabukan manga masuk ke ruangan kelas, seperti di Indonesia. Anak saya bercerita, ketika forum diskusi tentang Hitler, ia mengutip cerita dari komik Mein Kampf. Tapi, oleh si guru, ia malah dibilang: mendongeng. Bahkan, diminta untuk tidak lagi menjadikan komik sebagai referensi. Menyebalkan, bukan?

Padahal di Jepang, pada hari-hari tertentu,  siswa-siswa SD diminta membawa komik kesayangan mereka. Di kelas, mereka berbincang tentang komik, sambil menari, mendongeng dan berkeliling alam terbuka. Alhasil, guru bisa menanamkan nilai-nilai moral dan pengetahuan, tanpa si murid sadar bahwa mereka sedang belajar.  Ternyata, aktivitas semacam itu mampu merangsang kreativitas, minat baca dan daya imajinasi anak-anak Jepang.

Seperti yang diakui kelirumolog Jaya Suprana, bahwa ketertarikannya terhadap minat baca dimulai dari membaca komik. Usai menamatkan Mahabharata, komik-komik bermutu seperti Classic Illustrated yang memuat karya besar Shakespeare, Goethe, Schiller, atau Hugo, pun dilahap habis. Setelah semua komik milik sang ayah telah habis dibaca, Jaya mulai terpacu untuk beralih membaca bacaan serius seperti novel dan ensiklopedia.

Usai membaca tulisan ini, ada sekilas tanya untuk Anda: Apakah komik dan buku-buku kartun atau novel-novel grafis akan segera mengisi rak-rak buku Anda di rumah? Keputusan ada di tangan Anda. Selamat berkomik ria.

Iklan

2 comments on “Komik Gandrung

  1. salam kenal mas, saya juga pecinta komik…kalau boleh saya mau menambahkan link blog anda ke blogroll saya

  2. salam kenal juga. Wah terima kasih sudah mampir ke blog saya yg biasa-biasa saja ini. Silahkan jika ingin membuat link apa saja dari blog ini. Matur sembah nuwun. Hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: