1 Komentar

Boekoe Gandroeng #1

Buku Gandrung, itu sepasang diksi yang saya pilih menjadi judul jurnal ini. Ya… tampaknya memang agak menjiplak sepasang kata yang sudah pernah ada sebelumnya, seperti lakon wayang Gatotkaca Gandrung, Arjuna Gandrun, dan yang serupa dengan itu, seperti Mendadak Dangdut dan sebagai. Dengan sedikit cara tulis dengan ejaan lama, sehingga menjadi “Boekoe Gandroeng”, judul jurnal ini menjadi agak nyentrik: Terkesan jadoel.

Jurnal ini mewakili suasana hati saya tentang hobi baru yang tiba-tiba menghentak-hentak dalam lima bulan terakhir. Hobi mengoleksi buku, baik terbitan lama maupun baru. Tentu saja, buku yang sesuai dengan minat dan kebutuhan saya. Namun, daya hentak hobi itu jika dibilang sudah mengarah menjadi candu, ya ndak juga sih.

Mengoleksi buku sebenarnya sebuah obsesi lama, yang baru mulai bisa terealisasi akhir-akhir ini. Di masa sekolah dulu, setidaknya pada jenjang SMP, saya hobi datang ke Perpustakaan LIPI di Jalan Gatot Subroto. Hampir tiap pekan hilir mudik ke sana. Jika bosan, bergeser ke Gramedia Melawai. Yah, karena tak punya cukup banyak uang saku yang bisa disisihkan, rasa-rasanya ketika itu hampir tak bisa membeli buku yang diimpikan.

Ada beberapa bidang peminatan yang akhirnya mempengaruhi bacaan dan koleksi buku di rumah. Peminatan itu tak bisa dilepaskan dari variabel-variabel pengalaman hidup saya. Kini, perpustakaan mini di rumah sudah mulai diisi dengan  koleksi buku-buku tentang Sastra, Pluralisme, Eksklusivisme, Sains, Arsitektur, Tata Ruang, dan Filsafat.

Selain itu, buku-buku tersebut, masih sangat terbatas pada karya beberapa penulis tertentu. Pada buku kategori kumpulan esai, sebagian besar buku-buku tersebut ditulis oleh: Goenawan Mohamad, Emha Ainun Najib, Umar Kayam, Mohamad Sobary, dan Kuntowijoyo.

Buku-buku tentang pluralisme adalah buku-buku yang saat ini sedang saya gemari, seperti buku-buku karya Cak Nur, Gus Dur, Buya Syafii, Abd. Moqsith Ghazali, Musdah Mulia, Budhy Munawar Rachman. Entah mengapa, saya selalu merasa haus tentang berbagai diskursus tentang tema ini, yang bagi sebagian orang masih sangat sensitif.

Pada kelompok sastra Indonesia, para penulis seperti Seno Gumira Ajidarma, Ahmad Thohari, Rendra, Pramoedya, dan Sobron Aidit, adalah beberapa yang menjadi favorit. Sedangkan pada kelompok sastra asing, yang paling banyak adalah koleksi novel-novel karya sastrawan Rusia, seperti Leo Tolstoy, Anton Chekov, Maxim Gorky dan Mikhail Lermontov.

Selain beberapa novel karya sastrawan Rusia, novel-novel karya sastrawan Barat seperti Ernest Hemingway, Jostein Gaarder, dan Paulo Coelho, jelas menjadi koleksi yang patut dilengkapi.

Tentu saja, tak semua buku tergolong ‘buku-buku berat’. Demi anak-anak, perpustakaan juga dilengkapi dengan kumpulan buku-buku komik dan kartun, seperti: Trilogi Komik Riwayat Peradaban, komik Filsuf Jagoan, biografi grafis Che Guevara, komik Bersabdalah Zarathustra – Nietzsche, komik Mein Kampf – Hitler, kartun Biografi Mahatma Gandhi, hingga kartun buku “On The Origin of Species” karya Charles Darwin (si Bapak Teori Evolusi itu).

Buku-buku lama juga menghiasi perpustakaan yang kini mulai kekurangan rak buku itu. Buku-buku itu merupakan hasil “pencarian” di toko-toko buku atau kios buku bekas. Sebagian lagi merupakan hasil membeli di beberapa toko buku online.

Sayangnya, masih banyak beberapa buku incaran yang belum bisa diboyong menjadi penghuni rak-rak perpustakaan, yang saya idamkan kelak bernama Perpusatakaan Mini “Kalipaksi” itu. Beberapa yang masih dicari yakni: koleksi Catatan Pinggir 4 dan 5 karya Goenawan Mohamad.  Lalu novel “The Satanic Verses” karya Salman Rusdhie, yang sebenarnya sudah tersedia tapi belum saya beli karena cukup mahal (Rp400 ribu).

Ternyata, asyik juga menekuni hobi yang satu ini. Selain ada kepuasan batiniyah karena bisa mengoleksi buku-buku bermutu, yang jelas, dorongan untuk membaca pun semakin meninggi. Tak hanya saya tapi juga anak-anak di rumah.

Memang, apa yang saya sedang saya gandrungi ini belum sampai pada level yang dikisahkan novel “The Man Who Loved Books Too Much” karya  Allison Hoover Bartlett terbitan Penerbit Alvabet. Saya pun tak punya target untuk menjadi semacam ini. Ini hanya sekadar pelampiasan minat positif, yang saya pikir memiliki lebih banyak manfaat ketimbang mudarat.

Nah, jika ada yang mau merekomendasikan buku-buku bagus, saya menerima dengan tangan terbuka. Bahkan, jika ada yang gratisan pun mau. Hehehehe.

Iklan

One comment on “Boekoe Gandroeng #1

  1. Ijinkan Saya berkunjung ke Perpustakaan anda bang.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: