1 Komentar

Kunpaksakeun, Bukan Kunfayakun

Ini sebuah kenangan tentang dinamika anak-anak pergerakan Madinah Indonesia–sebutan lain bagi pergerakan NII. Agar tak bias dan menggeneralisir ke NII faksi lain, cerita ini bergulir di kalangan NII faksi Zaytun.

Kun-paksakeun” adalah sebuah istilah yang lahir sebagai sebuah improvisasi spontan di sebagian kalangan aktivis pergerakan kelompok ini pada era dekade 1990-an. Di sel (baca: network/ idariah) Jakarta Barat, para mas’ul (aparat) di kompartemen (pernah disebut dengan istilah “komandemen”) ini semakin familiar dengan diksi: kun paksakeun.  Memang, tak pernah ada penjelasan resmi bahwa diksi ini merupakan plesetan dari “kun fa ya kun“–sebuah penggalan ayat di Surat Yasin, yang terkenal itu.  Entah di sel lain, apakah  para aktivisnya juga sering memunculkan diksi ini dalam dialog-dialog di antara mereka.

***

Di blog ini juga, pada jurnal terdahulu dengan judul: “Kun fa ya Kun” (sebaiknya Anda membaca juga, pen), saya menulis tentang kegelisahan atas pemaknaan kun fa ya kun sebagai sebuah legitimasi mutlak terhadap sikup hidup yang penuh kepasrahan terhadap ketentuan Tuhan atas detail kehidupan manusia, yang seolah-olah menafikan campur tangan upaya manusia.

Di sana, saya menulis:

“… semua detail peristiwa dan kejadian yang terjadi di muka bumi ini sesungguhnya merupakan skenario Ilahi. Tak ada yang tidak! Diksi Kun fa ya-Kun, memang sebuah bentuk dukungan terhadap terminologi takdir. Namun, saya gelisah ketika melihat fenomena bahwa diksi ini kemudian justru dijelmakan sebagai sebuah tool (alat) “kepasrahan membabi buta” sebagian besar saudara seiman sesama muslim. Bahkan, ada yang sampai pada taraf begini: “sedahsyat apapun upayamu jika Allah tak berkehendak tak akan pernah terwujud cita-citamu, sebaliknya jika kau sudah memasrahkan segalanya pada Allah, niscaya mudah bagi-Nya untuk berkata Kun fa ya-Kun. Jadi, maka jadilah.”

Bagi saya–dan juga sebagian besar teman-teman aktivis di pergerakan ini:

Konsep “Kun” (dalam kun fa ya kun) justru milik manusia. Konsep “fa ya” yang berdimensi memproses adalah bentuk keridaan Ilahi atas seberapa besar “kun” diperjuangkan. Artinya, jika hasrat “kun” diperjuangkan secara optimal, hasil “kun” optimal pula yang akan dicapai. Mana mungkin upaya minimal memberi hasil optimal?

Sikap semacam itu, bagi saya seperti pisau bermata dua: bisa berefek positif, bisa juga sebaliknya. Tergantung bagaimana ia digunakan.  Berdampak positif, karena ia bisa memompa semangat kader untuk berkinerja optimal. Berdampak negatif, karena ia adalah sebuah penafsiran yang belum tentu bisa diterima oleh mayoritas umat, juga karena ia bisa berujung pada kelahiran diksi: kun paksekeun, yang menjadi judul jurnal ini.

Rupanya, karena doktrin yang semacam ini, beberapa oknum “pimpinan” di sana–yang memang gemar meng-gathuk-gathuk-kan konsep ilahi dengan fakta pergerakan yang ada–menemukan istilah kun paksakeun, sebagai sebuah diksi plesetan, yang digunakan untuk mewakili pemaknaan kun fa ya kun yang menjadikan manusia sebagai subyek penentu. Diksi itu memang agak bernuansa Sunda, karena kebetulan si individu “pimpinan” tersebut berlatar belakang Sunda.

Dengan diksi itu, tak ada alasan bagi setiap aktivis aparat organisasi untuk tidak memenuhi berbagai kesanggupan (tashdiq) atas target-target macam rupa program organisasi, utamanya dua hal: penggalangan anggota/jamaah baru dan penggalangan dana dari anggota/ jamaah.

***

“Hai Ibrahim, sudah tuntas target kalian memenuhi neraca keuangan bulan ini?” tanya si pimpinan.

“Belum, Abi. Dari target 200 juta baru terkumpul 165 juta. Akan terus kami perjuangkan?” jawab Ibrahim.

“Bukankah semestinya kalian menyanggupi akan menuntaskan itu kemarin? Bagaimana kalian ini, lima taquulu ma la taf alun–berkata tapi tak dilaksanakan,” timpal si pimpinan dengan nada sinis meninggi…

“Masih ada beberapa idariah/ jejaring sel yang belum menuntaskan kesanggupan mereka, Bi. Sudah kami berikan pemahaman, tapi kondisi jamaah memang sedang minus, sedang banyak persoalan,” jelas Ibrahim.

“Tidak perlu beralasan. Alasan itu hadir untuk membela diri. Kasih ayat dong… Kun paksakeun. Mulai dari antum. Antum harus memaksakan diri untuk tegas, memaksakan diri untuk lebih giat mengawal. Paham!!?” simpul si pimpinan.

***

Dialog di atas hanyalah sebuah ilustrasi atas fragmen-fragmen peristiwa yang pernah terjadi pada komunitas pergerakan Madinah Indonesia di era dekade 1990-an . Dialog tersebut menggambarkan sebuah militansi yang tumbuh di kalangan para aktivis untuk “tak menyerah” pada target-target yang telah mereka bubuhkan sendiri.

 

Dengan militansi semacam itu tidak heran pada pertengahan dekade 1990-an, Komandemen Wilayah Jakarta Raya NII faksi ini pernah secara konsisten membukukan penerimaan keuangan hingga mencapai Rp 9 miliar per bulan.  Juga, penerimaan Obligasi Negara (qiradl) dengan nominal Rupiah yang setara dengan emas senilai  2.200 kilogram emas dengan nilai konversi sesuai dengan nilai kurs emas berjalan ketika itu.

Kalangan luar pergerakan ini (mungkin) hanya bisa menuding ketika mereka mendengar terjadi terjadi praktik-praktik penyimpangan yang dilakukan para kader pergerakan ini dalam memenuhi target-target operasional mereka, seperti ketika terpaksa membohongi keluarga, bahkan ketika mereka terpaksa mencuri.  Saya sengaja menebalkan kata terpaksa sebagai bentuk penekanan atas fakta yang sesungguhnya terjadi. Karena, sungguh, sejatinya tak ada perintah untuk berbohong atau mencuri. Penyimpangan yang terjadi merupakan sebuah dampak dari pola operasional yang kun paksakeun tadi, yang membuat sebagian kader terpaksa melanggar garis organisasi untuk memenuhi target. Apalagi, terkadang si pimpinan tak begitu giat bertanya dari mana uang-uang yang disetorkan ke kas organisasi itu diperoleh.

 

Berangkat dari yurisprudensi yang semacam itu, kini setelah belasan tahun berlalu, saya hanya bisa membenangmerahi: “Sesuatu yang dipaksakan melampaui batas kewajaran berpotensi meniscayakan kerusakan. Ah…. semoga cerita tentang kun-paksakeun ini bisa menjadi bahan perenungan, terutama buat diri saya sendiri.

Artikel/jurnal yang berkaitan:

  1. Rompi Sakti (cerbata #1)
  2. Neraka (cerbata #2)
  3. Pleidoi
  4. Agustus: Bulan Dua Proklamasi
  5. Caleg N Sebelas
  6. Gus Dur tentang Al-Zaytun
Iklan

One comment on “Kunpaksakeun, Bukan Kunfayakun

  1. Wah mantab nih ulasannya, Mas Sofwan, ditunggu banget bukunya ya..:))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: