1 Komentar

Koin Prita: Seteng Dadi Genteng, Century: Sewu Dadi Awu

gambar dari Yogyakarta Coin a Chance

Ada dua peristiwa dengan skala perhatian publik besar yang saat ini sedang terjadi secara bersamaan. Namun, keduanya adalah merupakan sebuah anomali, bagi satu sama lainnya: koin Prita dan bailout Century.

Satu, peristiwa solidaritas publik dalam mengumpulkan koin recehan, yang pada awalnya diniatkan untuk membayar denda ratusan juta yang harus dibayar Prita Mulyasari kepada manajemen RS. OMNI Internasional. Memang, belakangan RS. OMNI akhirnya mencabut gugatan mereka. Sepertinya mereka risih dengan respon publik yang sedemikian menggelombang. Yang lebih tragis, jika memang Prita harus membayar denda hasil putusan PN Tangerang itu, maka Prita akan membayarnya dengan sekitar 6 ton uang rupiah koin. Sungguh, akan menjadi berita yang sangat menghebohkan. Bahkan, mungkin saja masuk catatan Rekor MURI atau Guinness Books of Record. Ah, mana mau RS. OMNI, yang konon diinvestori oleh pengusaha Tommy Winata, masuk dalam catatan Guiness Book of Records dalam rekor yang “memalukan” itu.

Kedua, peristiwa dana talangan (bailout) Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun, yang kini sedang menggelinding menjadi isu politik yang super sensitif. Begitu sensitifnya, bahkan, ada yang mensinyalir kasus yang sudah akan segera dibahas dalam Rapat Angket DPR itu merupakan kasus yang digunakan sebagai senjata balas dendam politik, hingga gada untuk meng-impeachmen Presiden SBY.

Dua peristiwa itu jelas anomali. Anomali yang kemudian mengingatkan kita pada sebuah pepatah Jawa, yang berbunyi: Seteng Dadi Genteng, Sewu Dadi Awu. Oh, ya terima kasih untuk Pak Syekh Abdussalam Rasyidi yang sudah memperkenalkan istilah ini pada saya beberapa tahun silam.

Pepatah Jawa itu jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih memiliki makna seperti ini:

“uang setengan (recehan) jika dikelola secara benar bisa menjadi genteng untuk atap rumah, sedangkan uang seribuan tapi jika dikorupsi bisa menjadi abu, yang akan hilang tertiup angin begitu saja.”

Pepatah itu jelas memiliki dimensi moralitas yang luhur. Mengajarkan pada kita tentang sikap hidup amanah dan cerdas dalam mengelola sekecil apapun potensi finansial yang ada demi kemaslahatan pribadi, keluarga, masyarakat, dan akhirnya bangsa pada lingkup yang lebih besar. Sebaliknya, pepatah ini menyindir sikap brengsek yang tidak menghargai uang, menghamburkannya untuk sesuatu yang tidak produktif. Bahkan, cenderung mengkhianati amanah rakyat. Karena, sedihnya, uang yang besar itu ternyata milik publik, yang idealnya digunakan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan publik.

***

Saya pun bermimpi. Seandainya gerakan koin, yang populer sebagai coin a chance, menjadi gerakan publik dengan skala yang lebih besar. Dua perempuan yang menggagas gerakan ini, Hanny Kusumawati dan Nia Sadjarwo, sudah memulai mengetuk nurani publik untuk mengumpulkan koin-koin rupiah yang sering tak dianggap itu. Namun, di tangan mereka, koin-koin itu sudah disalurkan untuk membantu biaya pendidikan anak-anak kurang mampu. Dan, kini, bergulir menjadi gerakan publik bagi Prita Mulyasari.

Ah, seandainya, setiap Kepala RT hingga Bupati juga mengumpulkan koin-koin untuk menyantuni janda-janda miskin, anak-anak tak mampu yang berpotensi putus sekolah, warga yang tak mampu membiayai pengobatan sakitnya, hingga modal usaha para warga tak mampu. Itulah, seteng dadi genteng. Niscaya, dengan keteladanan itu para koruptor akan mundur teratur. Karena jika mereka tetap nekat melawan arus, bukan penjara jeruji besi lagi yang akan mengurung mereka, tapi peti mati di dalam kubur.

Iklan

One comment on “Koin Prita: Seteng Dadi Genteng, Century: Sewu Dadi Awu

  1. halah ……… duit segerobak gitu cuman liat doank … gue mau minta tapi gimana caranya ???
    ntar kalo mbak prita ndak mau ambil itu koin,
    kasihkeun ma aye aja yah …. soal century..
    dah ganti nama ya habis perkaranya .. masih diributin gituh …….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: