1 Komentar

Jansen Sinamo: Mr. Ethos Indonesia

jansen sinamo

foto: koleksi pribadi Jansen Sinamo

Sejak kecil, langganan juara kelas ini sudah dikenal piawai berbicara di depan khalayak ramai. Bahkan, mengajar menjadi salah satu hobinya. Setelah sempat bekerja sebagai seorang seismic engineer selama empat tahun, ia kemudian bergabung dengan Dale Carnegie, sebuah lembaga pelatihan bisnis internasional yang berpusat di New York. Belasan tahun berkecimpung sebagai trainer dengan lisensi dari Dale Carnegie, bahkan hingga mencapai level grand master (pelatih untuk para pelatih), ia kemudian pindah frekuensi untuk mengkampanyekan “Delapan Etos” yang dirumuskannya sebagai basis dan navigator menuju sukses. Sejak itu, ia lebih dikenal sebagai ‘Mr. Ethos’ atau ‘Bapak Etos’. Sebagian orang lagi menyebutnya sebagai ‘Guru Etos Indonesia’. Pria ini bernama Jansen Hulman Sinamo, seorang sarjana fisika, dengan kekhususan fisika nuklir, dari kafilah  ITB78.

***

Jansen Sinamo sebenarnya bercita-cita menjadi pendeta. Cita-cita primordialnya itu, oleh orangtuanya dan guru agamanya semasa masih sekolah di Sidikalang, Sumatera Utara, bahkan dianggap sebagai yang paling pas untuk dirinya. Namun, takdir berkata lain. Melihat prestasi akademik dan kecerdasan yang dimilikinya, seorang kerabat memboyongnya ke Bandung. “Oleh kerabat  itu saya diarahkan masuk ITB,” kenang Jansen.

Dari sebuah SMA di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Jansen pun pindah ke sebuah sekolah swasta di Bandung bernama SMA LPSK (Lembaga Pendidikan Sosial Kristen). Target Jansen untuk menembus ujian ITB berhasil. Pada masa-masa Tahap Persiapan Bersama (TPB), Jansen tinggal serumah dengan salah seorang mahasiswa Jurusan Fisika ITB, yang juga berasal dari Sidikalang. “Suhut Purba, namanya,” kenangnya. Interaksi dan diskusi yang intens antara keduanya bermuara pada keputusan Jansen untuk juga memilih jurusan Fisika. “Bagi saya, fisika yang selalu menggeluti hal-hal yang fundamental sangat cocok dengan jiwa saya yang selalu bertanya hingga hal yang paling mendasar,” ungkap suami dari Tri Handayani, yang kini telah memberinya dua anak, Imanda Priskila Sinamo dan Marco Antonio Carnegie Sinamo, ini.

Lulus dari ITB, dengan kekhususan fisika nuklir, Jansen sempat bekerja sebagai seismic engineer selama empat tahun (1983-1986) di dua perusahaan asing di bidang jasa perminyakan. Setahun berikutnya, ia kemudian dikontrak untuk meletakkan dasar-dasar sistem informasi manajemen pada World Vision International Indonesia, sebuah LSM yang berpusat di Amerika Serikat. Memang, perpindahannya ke dunia LSM dari dunia migas seolah tampak kontras. Tapi, tidak bagi Jansen. “Spektrum minat saya sangat lebar. Sejak kecil, saya aktif di banyak bidang kegiatan, mulai dari kerohanian, kebudayaan, organisasi, bahkan di dunia jurnalistik,” jelasnya. Namun, selain itu, “tentu saja benefit finansial yang dijanjikan World Vision lebih menjanjikan,” ungkapnya membuka kartu.

Tahun 1985, Jansen kemudian bergabung dengan Dale Carnegie (DC), sebuah lembaga pelatihan internasional. “Di lembaga ini saya menjadi guru,” ungkapnya. Tampaknya Jansen lebih suka menggunakan kata ‘guru’ ketimbang ‘trainer’ atau  ‘motivator’. Bersama DC, kemampuan public speaking Jansen berkembang. Apalagi, bidang ini juga sudah menjadi minatnya sejak kecil. “Sejak kecil saya sudah suka tampil dan berbicara di depan umum,” ungkapnya.

Selama sepuluh tahun berkiprah di lembaga ini ia melahap berbagai jenis pelatihan di berbagai benua, baik di Amerika, Australia, dan Asia. Ibarat pemain catur, Jansen sudah masuk kategori grand master. Bahkan, Jansen adalah orang Indonesia pertama yang mewakili Dale Carnegie untuk melatih para instrukturnya di kawasan Asia Tenggara.

Berangkat dari segudang pengalamannya bersama Dale Carnegie, Jansen kemudian mengembangkan sebuah konsep sendiri berupa strategi, solusi, dan pondasi menuju sukses, yang ia beri nama Ethos 21. Lantaran label inilah, kemudian, Jansen dikenal sebagai Mr. Etos.

Jansen pun kemudian mewadahi kegiatannya dalam sebuah organisasi yang diberi nama Institut Darma Mahardika. Bersama mitra utamanya, Andrias Harefa, mereka mengembangkan gagasan-gagasan, menulis, berseminar, menyelenggarakan pelatihan dan konsultansi untuk mengimplementasikan Etos. Berbagai modul pelatihan mereka uji dan kembangkan, antara lain Ethos21, The Ethos Leadership Training, Business Ethics, Creativity and Systematic Innovation, Superior Motivation, dan Excellent Management Series.

Jansen sudah melayani hampir semua jenis industri dan kelompok usaha terkemuka di Indonesia seperti ABN Amro, Amex, Astra, BASF, BCA, Bentoel, Bumiputera, Caltex, Danamon, Dankos, Gajah Tunggal, Hilton, Hyundai, Kalbe, Kompas-Gramedia, Lippo, LG, Metropolitan, Microsoft, Patra Jasa, Prudential, Siemens, SOGO, Thames PAM Jaya, TNT, Toyota, United Tractors termasuk BUMN seperti Telkom, Indosat, Jasa Marga, Jiwasraya, Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI, dan juga Institut Teknologi Bandung, Kementerian Ristek, LIPI, serta Bank Indonesia.

Dalam berbagai sesi pelatihan Etos yang dilakukannya, Jansen mencoba membentuk kultur atau etos pada peserta. Jansen yakin dan tahu bahwa kultur kerja sebuah bangsa, organisasi, perusahaan, atau komunitas terletak pada etos kerja mereka. “Pada tingkat internasional sudah terbukti bahwa maju tidaknya peradaban sebuah bangsa ditentukan oleh etosnya,” ungkap pria yang mengoleksi lebih dari 2.000 buku tentang sukses ini.

Kini selain bergiat di Institut Darma Mahardika, Jansen Sinamo menulis banyak artikel dan sejumlah buku serta menjadi pembicara publik dan narasumber pada jaringan Radio SmartFM dan beberapa stasiun TV. Beberapa bukunya bahkan sukses menjadi best seller, seperti “Mengubah Pasir Menjadi Mutiara”, yang sudah dicetak ulang lima kali sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 2000. Di waktu luangnya ia juga mengurus sejumlah yayasasan dan organisasi kemasyarakatan.

***

Jika kini Jansen tumbuh menjadi seorang motivator ‘papan atas’, jelas ITB memiliki peran penting atas pencapaian itu. Tentang itu, Jansen menyebut tiga hal yang diwariskan ITB kepada dirinya.

Satu, ITB menjadikan saya, yang anak desa ini, menjadi Indonesia, yang berfikir dengan wawasan Indonesia dan merasa sungguh-sungguh menjadi Indonesia, dan turut menjadi besar karena memikirkan dan menghayati itu. Waktu di kampung, kemanapun saya bergerak secara 360 derajat ketemunya pasti sama orang Batak, tapi di ITB saya bertemu dan bergaul intensif dengan putra-putri Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Dua, Fisika ITB telah membentuk saya menjadi seorang sarjana yang selalu berpijak pada prinsip-prinsip ilmiah universal, yang selalu bertanya dan terus bertanya serta hanya bersandar pada konfirmasi bukti-bukti ilmiah untuk menentukan kebenaran hakiki. Fisika juga mewariskan pada saya cara berpikir logis, selalu berpijak pada prinsip simetri, koherensi, dan komprehensivitas.

Dan Tiga, atmosfer dan sikap civitas akademika ITB telah mengajarkan pada saya untuk menjadi pribadi yang terbuka, gemar belajar, dan bertanggung jawab.”

Tapi, di balik tiga warisan tadi, ada seorang tetua ITB yang sangat berkesan dalam kehidupan Jansen. Ia adalah Prof. Dr. Hariadi Paminto Soepangkat, dosen Fisika ITB, yang pernah menjadi dekan F-MIPA dan rektor ITB. Ada sebuah kisah yang membuat Jansen terkesan pada sosok ini. Kisah itu, kemudian, ia tulis di Majalah TATAP, yang juga dikomandani oleh Jansen. Dalam sebuah rubrik bernama SOROT, Jansen menuliskannya dalam sebuah artikel berjudul Guru Fisika yang Inspirasional.

Dari sekian kenangannya bersama Prof. Hariadi Soepangkat, ia paling terkesan ketika pada ujian akhir semester, Jansen meraih nilai A untuk mata kuliah Fisika Kuantum. “Sangat tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Apalagi ini Fisika Kuantum, salah satu mata kuliah paling prestisius di Jurasan Fisika, di mana banyak mahasiswa harus mengulang sampai dua atau tiga kali,” kenangnya. Nilai A itu pun membuat Jansen merasa terbang ke langit. “Sejak itu saya rasa percaya diri saya kembali ke batin, anak desa dari Sidikalang ini memang layak ikut berkompetisi di Bandung,” ungkapnya. Soalnya, mental Jansen sempat turun begitu menghadapi fakta kompetisi yang sangat ketat di ITB. Sebagai anak desa, yang selalu tampil sebagai juara kelas, di ITB ia tampil rata-rata. “Mayoritas nilai saya C, agak lumayan dapat B,” kenangnya.

***

Akhirnya, Jansen Sinamo adalah sebuah pribadi unik. Dengan spektrum minat yang lebar, Jansen mencoba tetap eksis di semua bidang yang diminatinya. Sebagai sarjana fisika, misalnya, meski tak lagi berkiprah secara profesional, ia masih melahap berbagai buku tentang fisika dan menulis artikel populer tentang fisika. Ia juga senantiasa meng-update wawasan tentang fisika dari berbagai situs di dunia maya. “Hidup saya seperti pergerakan jarum jam: suatu ketika singgah di fisika, lalu ke etos, kemudian ke spriritualitas, ke kebudayaan, lantas kembali lagi ke fisika, begitu seterusnya,” simpulnya. Oh ya, aktivitas Jansen Sinamo bisa diintip melalui www.institutmahardika.com

(dari hasil wawancara saya atas Jansen Sinamo, 2008, untuk Buku Alumni ITB78)

Iklan

One comment on “Jansen Sinamo: Mr. Ethos Indonesia

  1. Selamat sore Pak Jansen Sinamo,

    Apa kabar pak. Sewaktu saya bekerja sebagai salesman di Inti Mobil (sekarang Auto 2000) saya pernah mengkuti training bapak dan Pak Andreas Harefa. Pada waktu itu tahun 1991 dan bapak dan Pak Andreas masih bergabung di Dale Carnegie.

    Saya sangat berkesan dengan metodologi bapak dalam mengajarkan salesmanship & public speaking, terutama sekali adalah sewaktu bapak melemparkan koper yang bapak bawa dan kemudian menginjak-injaknya untuk bagaimana menyampaikan fakta mengenai kualitas produk yang kita tawarkan kepada customer. Cara tersebut sangat efektif dan saya sudah mempraktekan cara seperti itu mungkin sudah ratusan kali dan mata para customer saya terlihat begitu terpesona.

    Buku salesmanship yang dulu bapak berikan kepada kami yang berjudul “Meretas Belenggu Kegagalan dan Meraih Sukses Dalam Penjualan” yang ditulis oleh Frank Bettger seakan-akan menjadi kitab suci buat saya dalam menjalankan usaha saya.

    Terima kasih Pak Jansen, terima kasih Pak Andreas.. ilmu-ilmu yang bapak pernah bagikan kepada saya tidak akan pernah saya lupakan dan bahkan saya selalu membagikan ilmu-ilmu tersebut kepada siapapun yang saya kenal. Sukses untuk Pak Jansen, Sukses untuk Pak Andreas, sukses untuk Darma Mahardika.

    With Best Regard
    Oki Dwi Hartoko
    Ex. Salesman INTI MOBIL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: