1 Komentar

Donny “Krakatau” Suhendra

doni suhendra

Donny Suhendra dalam music nite ITB 78 (gambar dicomot dari: itb78land.multiply.com)

Meski hanya sesaat, ia sempat merasakan kebersamaan bersama ITB. Toh, meski tak sampai merasakan kebesaran toga ITB dalam sebuah seremoni wisuda, ia selalu menyempatkan diri untuk singgah ke Jalan Ganesha, hanya untuk sekadar menapaktilasi masa lalunya di kampus tercinta. “Di sanalah saya sering merenung dan menitikkan air mata,” ungkapnya.

Dia adalah Donny Suhendra, seorang musisi yang berjasa melahirkan sebuah grup musik legenda di negeri ini: Krakatau Band. Kontribusinya terhadap geliat musik Jazz tanah air, jelas, tak ternilai harganya. Bahkan, nama Java Jazz, nama band musik Jazz yang sempat ia usung itu kini digunakan sebagai nama festival musik jazz terbesar di negeri ini.

Krakatau Band, siapa penikmat musik Indonesia yang tak mengenal grup ini. Terlebih, para penggemar aliran musik jazz. Begitulah, Krakatau adalah sebuah ikon generasi musik pop dan jazz di negeri ini. Kelahiran grup musik ini tak terlepas dari kiprah dua orang pendirinya, yakni Pra B Dharma dan Donny Suhendra.

Donny Suhendra masuk ke Jurusan Seni Rupa ITB pada tahun 1978. “Rasanya bangga banget bisa kuliah di sekolah tinggi terbaik di negeri ini,” tulis Donny bagi buku memori ITB 78.

Bagi Donny, masa-masa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) – ITB merupakan salah satu masa-masa paling membahagiakan di dalam hidupnya. Lantaran diterima sebagai mahasiswa ITB, Donny sempat berpikir untuk berhenti dari kegiatannya bermusik. Bahkan, ia sudah sempat menjual gitar kesayangannya. “Waktu itu saya yakin betul bahwa masa depan saya bersama ITB lebih menjanjikan,” kenangnya.

Namun, ternyata sejarah berkata lain. Peristiwa ‘agresi’ terhadap kampus ITB yang dilakukan pihak militer membuat suasana kampus berubah. “Saya ingat betul ketika itu mulai ada cara-cara yang berbau militeristik di kampus. Banyak urusan mahasiswa Departemen Seni Rupa yang menjadi rumit karena semua urusan disentralkan ke ‘pusat’,” kenangnya. Rupanya, peristiwa ini menjadi awal kelesuan Donny. “Saya ini kan orang sangat moody. Mungkin juga, daya juang saya tidak sedahsyat teman-teman. Jadi, ketika ada satu urusan nyangkut dan harus diselesaikan melalui proses birokrasi yang berbelit-belit dan rumit, saya mulai merasa tidak nyaman,” ungkapnya.

Dalam suasana yang serba tidak nyaman itulah, kerinduannya bermain gitar muncul. Padahal, gitar-gitar miliknya sudah entah di mana keberadaannya. Donny pun mulai sering nongkrong di Bumi Sangkuriang, tempat di mana aktivitas musik jazz sering digelar. Di tempat ini pula sering dilakukan jam session, yakni semacam kebiasaan para pemusik jazz untuk saling sharing dan adu skill satu sama lainnya. Malangnya, Donny yang ketika itu bagai orang yang sedang patah hati berat, hanya duduk di pojok ruangan yang agak gelap. “Saya hanya bisa menonton mereka tanpa bisa berbuat apapun,” kenangnya lirih.

Hingga suatu ketika, datanglah seorang teman lama mendatanginya. Si teman itu bilang bahwa ada sebuah grup band jazz trio dari Seattle, Amerika akan datang dan manggung di Bumi Sangkuriang. Salah satu personel grup itu bernama Pra B Dharma. Ia orang Indonesia, yang lulusan salah satu jurusan seni rupa di sebuah universitas di Seattle. “Selain manggung, mereka juga jam session,” kenang Donny. Singkat kata, Donny diminta untuk ikut terlibat dalam jam session itu.

Berbekal gitar pinjaman, Donny unjuk kebolehan. Di luar dugaan, sambutan para personel grup jazz dari Amerika itu sangat luar biasa. Bahkan, Pra memutuskan untuk tinggal di Bandung dan mengajak Donny membentuk sebuah grup band, yang kemudian diberi nama KRAKATAU. Di grup itu, Donny menjadi gitaris, sedangkan Pra sebagai bassist.

Donny, yang sedang dalam kondisi kalut, tentu saja sangat terhibur dengan ajakan itu. Sebagai senior, Pra terus memotivasi Donny untuk bangkit dari keterpurukan. “Sungguh, motivasi dari Pra menjadi modal kuat bagi saya untuk bangkit dan mengembalikan kepercayaan diri yang sempat pudar,” kenang Donny. Mereka pun sepakat menyusun jadwal latihan super padat. “Yang saya ingat, jadwal latihan itu seperti orang kerja dari nine to five,” kenangnya.

Setelah berlatih beberapa bulan, Krakatau semakin semarak dengan bergabungnya beberapa personil, seperti Dwiki Dharmawan (keyboards) dan Budi Haryono (drums). Krakatau juga mulai ikut festival “Light Music Contest” (LMC), yang merupakan ajang festival paling bergengsi saat itu. Pada festival yang digelar oleh YAMAHA Music ini, Krakatau sukses menggondol peringkat satu tingkat nasional. Bahkan, para personelnya juga meraih predikat best player, termasuk Donny, yang terpilih sebagai “the best guitarist”.

Rasa percaya dirinya semakin tumbuh. Apalagi, selain menerima hadiah yang lumayan berlimpah, Krakatau menjadi band pertama LMC yang dikirim ke Tokyo. Di luar dugaan, di Tokyo mereka kembali meraih predikat band favorit. Kemenangan itu semakin lengkap karena setiap personel Krakatau juga meraih predikat the best player.

Di Hotel Grand Hammamatsu, tempat mereka menginap, Donny sempat menyendiri dan merenungkan perjalanan hidup yang tidak terduga itu. “Kok jadinya begini ya nasib saya,” renungnya ketika itu. “Inilah kuasa Allah, yang telah mengganti kegagalannya dengan sebuah keberhasilan di bidang yang lain,” lanjut Donny. Betapa tidak, sepulang dari Jepang, nama Krakatau semakin populer. Hampir setiap hari mereka diinterview oleh pers maupun TV. Aktivitas manggung pun semakin padat, bisa empat sampai lima kali dalam sepekan.

Untuk memenuhi permintaan publik dan industri musik ketika itu, Krakatau pun melengkapi formasinya, antara lain, Ruth Sahanaya (yang belakangan digantikan oleh Trie Utami) sebagai vokalis dan Indra Lesmana (keyboards). Sementara, posisi Budi Haryono sebagai drummer digantikan oleh Gilang Ramadhan.

***

Selain nge-band, Donny juga adalah seorang session player atau musisi studio rekaman paling laku pada masanya. Hampir semua artis di Indonesia pernah menggunakan jasanya sebagai gitaris. Pada tahun 1991 kiprahnya sebagai musisi mulai melebar hingga mancanegara. Bersama Indra Lesmana, Gilang Ramadhan serta Embong Raharjo (alm) mereka mengusung bendera Java Jazz Band, yang kemudian namanya diambil menjadi salah satu nama festival jazz terbesar di tanah air. “Ketika itu, saya sudah tidak di Krakatau,” jelas Donny. Selama ngamen di Amerika, Java Jazz Band bahkan sempat rekaman di studio musisi jazz terkenal; Chick Corea. “Selama di Amerika pula saya banyak belajar tentang music programming, arranging dan composing,” tambahnya. Sejak itu, Donny mulai sering manggung di luar negeri, seperti di Den Haag, Hawaii, Hongkong, Shanghai, Tokyo, California, Las Vegas, Toronto, Singapore, Malaysia, dan Paris.

Kini, aktivitas Donny tetap dalam koridor bermusik. Ia adalah pemilik salah satu sekolah musik di Jalan Hang Lekiu, Kebayoran Baru. Sekolah musik, yang juga mengembangkan sistem digital recording untuk band-band yang baru mau rekaman, itu itu ia beri nama “Gladi Resik Musik Lab”.

(tulisan ini dibuat untuk penerbitan Buku Alumni ITB78)

Baca juga:

  1. Teringat Tegallega, Don!
  2. Indonesian Guitar Hero
  3. Konser Jazz Donny Suhendra Project
  4. Donny Suhendra @ Bintaro Jazzies Night
  5. Donny Suhendra @ Serambi Jazz
Iklan

One comment on “Donny “Krakatau” Suhendra

  1. makasih infonya sangat berguna
    cara main gitar melodi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: