8 Komentar

Che Guevara Di antara Kita yang Ambigu

foto dari: Wikipedia

foto dari: Wikipedia

Hari ini 8 Oktober 2009.

Empat puluh dua tahun silam, 8 Oktober 1967, Che Guevara tertangkap. Satu hari kemudian, 9 Oktober 1967, ia dieksekusi secara ‘diam-diam’ oleh seorang sersan Bolivia, Mario Teran. Pria Argentina berdarah campuran Irlandia dan Basque itu gugur, di tempat ia ditembak secara tidak jantan, di sebuah ruang kelas sekolah berdinding tanah liat.

Guevara sosok langka. Sosok tak wajar. Ia orang Argentina tapi menjadi pahlawan Kuba. Ia pengidap asma, ringkih, namun justru memimpin gerilya. Ia orang asing  (Argentina) yang pernah menjadi Menteri di sebuah negara lain (Kuba).  Memang, ia menerima status kewarganegaraan istimewa dari  sahabatnya Fidel Castro. Ia  juga seorang pejabat sebuah negara berdaulat (Kuba), yang kemudian memilih kembali ke hutan untuk memimpin revolusi di negara lain (Bolivia). Fotonya, yang ‘diragadiamkan’ oleh Alberto Korda itu, menjadi foto yang paling  banyak direpro dan dicetak ulang di seluruh di dunia. Ia seorang Guerrillero Heroico. Ia adalah ‘pahlawan’ lintasbangsa.

Che, sosok klandestein intelektual sekaligus panglima gerilyawan yang ekstrem. Karena itu ia menarik. Bagi orang-orang Kuba, yang mendadak menjadi lebih moderat setelah memenangkan revolusi, Che dianggap terlampau tegas; sulit berkompromi. Karena itu, meminjam ungkap Mas Goenawan Mohamad (dalam sebuah catatan pinggir pada tahun 1978), ia bukan tipe manusia hambar. Ia penikmat konfrontasi.

***

Paras Che melekat pada dada remaja dan pemuda-pemuda di Jakarta, di Bangkok, di Kuala Lumpur, di Frankfurt. Kecuali di Polandia, negara yang melarang wajah Che dijadikan sebagai ikon desain apapun, wajah Che melekat di banyak wahana: fashion, souvenir, juga monumen. Bahkan,  wajah Che menjadi motif tatto.

Ketika pada 1997 Castro memutuskan menggali kuburan Che di Bolivia dan memindahkan tulang belulangnya ke Santa Clara di Kuba dalam sebuah parade militer akbar, dunia seolah kembali menemukan Che. Dunia kembali memperbincangkan ia. Siapa Che: anak dari keluarga borjuis yang menentang kelasnya sendiri?

Perlahan, ia menjadi ikon perlawanan, juga konfrontasi, sebagian lagi tentang radikalisme dalam bersikap. Tak hanya tentang marxisme atau komunisme, tapi juga dalam dunia di polar yang berbeda, tentang demokrasi. Di satu sisi, Che adalah simbol minoritas, di sisi lain ia digunakan sebagai ikon kelompok mayoritas. Karena itu ia  tak diharamkan menjadi ikon kapitalisme terselubung. Wajahnya yang legendaris itu menjadi komoditas. Bahkan, ketika ekonomi Kuba melimbung, souvenir tentang Che adalah sumber devisa.

Memang, ada ambiguitas di sana. Ambigu yang serupa ketika Castro ‘terpaksa membiarkan’ Che diburu CIA di pedalaman Bolivia. Castro, yang mulai berkompromi dengan dua ‘raja’ papan catur dunia masa itu: Moscow dan Washington, tak ingin rencananya buyar karena hasrat konfrontasi Che yang melampaui kewajaran. Castro meng-ambigu karena ia terlanjur dianggap ‘banci’, bagi Che yang menyenangi kejantanan dan aksi.

***

Kini, memang bukan era 1960-an, ketika pertarungan ideologi adalah permainan yang mengasyikkan. Bagi mayoritas manusia sekarang, ideologi politik adalah masa lalu. Ideologi masa kini adalah konsumerisme. Karena itu uang menjadi fuhrer. Ini linier dengan proses yang sedang menjadikan masyarakat masa kini menjadi masyarakat yang ambigu–kata ini lebih lembut ketimbang munafikisme.

Benar, bahwa ada di antara kita, yang ketika berkaus dengan larik desain manusia penuh aksi, kejantanan, dan keteguhan macam Che itu karena termotivasi oleh semangat ia. Kita ingin meneladani ia.  Atau jangan-jangan tidak?

Orang yang merangkai tulisan ini pun sering berada dalam kekhawatiran atas ambiguitas itu. Berapi-api tapi mudah padam. Menggebu-gebu dalam kemalasan.  Karena ia bukan Che. Ia, dan mungkin juga Anda, adalah manusia mayoritas yang wajar. Karena itu hanya ada sedikit Che.

Ia, Ernesto ‘Che’  Guevara, adalah sosok yang tak wajar, yang hidup dalam ketakwajaran. Lagi-lagi ambiguitas berbicara: Wajar dan ketakwajaran adalah jalan hidup untuk menjadi mulia.

***

Tepat pada tanggal hari ini, 42 tahun silam, manusia tak wajar itu terciduk. Esok hari ia ditembak mati.

Ini bukan tentang imortalitas hidupku, aku sedang bertafakur tentang imortalitas revolusi, kata Che kepada Mario Teran, si eksekutor.

Ayo tembaklah aku, kau hanya akan membunuh seorang manusia, kata Che. Dan, ia pun pergi untuk selamanya, sembari menghadiahkan kepada kita sebuah kenangan tentang spirit untuk terus beraksi terhadap rezim yang tak adil. Ia benar, imortalitas revolusi adalah hadiahnya untuk dunia, meski hanya terpancar dari sebuah pin bergambar dirinya. Bukankah revolusi tak hanya tentang komunisme atau kudeta? Melawan diri sendiri untuk tak menjadi manusia yang terbelenggu ambigu dan munafikisme adalah juga revolusi, bukan?

Iklan

8 comments on “Che Guevara Di antara Kita yang Ambigu

  1. wah blue senangnya minta ampun mendapat postingan seperti sedemikian ini bang.
    keren
    mantab
    dan blue suka banget
    makasih ya
    salam hangat selalu

  2. Tulisan yang cukup inspiratif, dan kita tertantang untuk menghadirkan semangat ‘Che’ dalam semangat kita…saya sendiri tak tahu, apakah kita masih butuh revolusi sekarang atau tidak? atau minimal revolusi untuk kita sendiri…
    terima kasih mas…saya suka baca tulisannya

  3. isi dari tulisan ini sungguh membuat saya terperangah..bagai mana bisa ada pahlawan lintas bangsa sperti yg telah di ungkapkan diatas…. Smangat Che bukan pantas lagi, tapi wajib untuk kita tiru…

    Trima kasih atas postingan tulisan sangat inspiratif ini….^^

  4. Saya lihat banyak pemuda di Indonesia mengenakan kaus bergambar Che Guevara hanya karena gambar wajahnya ngetrend. Tapi mereka bahkan tidak tahu siapa orang yang gambarnya ada di kaus mereka itu.

  5. Saya termasuk salah seorang dari banyak orang yang menyukai Che. Tapi saya sedih ketika si gambar / foto Che justru menjadi suatu hal yang dijual.

  6. kita boleh bangga dengan Che, tapi kita juga harus lebih bangga dengan Tan Malaka yang melakukan revolusi tuk bangsa ini ketika di pegang Imperialisme belanda..jika che hanya lintas 3 negara..Tan malaka melakukan kurang lebih 8 negara dan melakukan perjalanan gerilya 2 kali lebih panajang dari Che..artinya,kita boleh bangga oleh Che di tshirt kita,tapi kita harus lebih bangga dengan revolusioner Tan Malaka asli Indonesia yang satu2nya wakil komintren di rusia pada masanya..

  7. jangan memperbandingkan Che guevara dngn Tan malaka, skrng yg harus kita tiru adalah semangat perjuangan mereka.
    “Berjuang sampai tujuan kita tercapai..”

  8. Apapun komentar anda minumnya teh botos sosro,, eh bukan. apapun komentar anda semua, yang jelas Tan Malaka dan Che adalah dua sosok yang patut untuk dijadikan api semangat mengobarkan sifat kritis terhadap ketidak adilan dimanapu itu. dan obsesi adalah hal yang wajar-wajar saja, karena obsesi sebenarnya bukan membuat kita menjdi orang lain, melainkan memperkaya diri kita dengan pemikiran-pemikiran baru agar menjadi pribadi yang baru..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: