6 Komentar

Topeng Bulan Syawal

ilustrasi: sumber topeng dari mana-mana

ilustrasi: sumber topeng dari mana-mana

Semoga ini tak begitu terlambat. Bukankah ini masih bulan Syawal?

Syawal adalah akhir. Ia juga permulaan. Akhir dari rital suci Ramadan. Akhir dari keterburu-buruan spiritual yang begitu bersemangat agar tak tertinggal parsel ampunan dan tiket penukar kavling surga. Karena itu, Syawal menjadi awal dari sebuah kefanaan yang kembali pulang. Fana yang terusir sejenak oleh Ramadan.

Jika Goenawan Mohamad terang-terangan menyebut bahwa yang dirayakan Ramadan adalah kekosongan (Tatal 59), izinkan saya melengkapinya: Syawal diciptakan untuk mengisi kekosongan itu. Meski sesungguhnya Syawal tak kan pernah bisa memerankannya. Tatal 59 Mas Goen itu di antaranya berbunyi seperti ini:

Yang dirayakan Ramadhan adalah kekosongan. Tapi kata ini memang terdengar buruk di zaman ini. Jalanan telah sesak, etalase meriah, ruang tamu ramai perabot, hutan tak punya pertapa, dan orang bersaing menyatakan kesalehan dengan pengeras suara. Puasa kini proses menunggu tabuh yang bertalu-talu. Kita telah mengubah maghrib jadi isyarat merayakan makan. Menjelang saat itu, lapar ibarat 12 jam transit.

Mas Goen memang berhak menjadi sinis. Sepertinya, Ia  kecewa dengan kedangkalan memanfaatkan peluang Ramadan. Dan, sepertinya ia benar. Ketika Ramadan yang sebuah masa tempaan itu ibarat kendi kosong, tak ada air yang mengalir untuk menjadi penawar haus di bulan Syawal. Juga, bulan-bulan selanjutnya, sehingga Ramadan kembali mengambil estafeta masa.

Awal Syawal adalah lebaran. Memang, itu hanya ada di Indonesia. Oktober 2006, Mas Goen lagi-lagi berulah satir:

Di Indonesia, yang justru indah dari lebaran ialah bahwa ia tak identik dengan kesucian. Lebaran adalah pesta, perayaan, kegembiraan, bahkan di sana-sini “kemewahan”.  (Suara Merdeka)

Hari ini, pesta itu telah usai. Topeng-topeng dengan karakter penuh maaf telah teronggok di pojok kursi cadangan. Ia baru akan berguna lagi pada satu tahun mendatang. Wajah-wajah pun kembali sibuk dengan topeng-topeng yang lain: Topeng yang selama awal Syawal teronggok di kursi cadangan. Topeng serakah, topeng juru culas, topeng pendusta, topeng ahli keji, bla…bla..bla.

Jadi, sebenarnya Tuhan tak perlu dianggap cemburu seperti pesan Emha dalam “Sedang Tuhan pun Cemburu“, 1994) menyaksikan nurani kemanusiaan universal yang tiba-tiba menguasai ruang-ruang sesak Lebaran yang penuh dengan keinginan untuk berkumpul dan bersilaturahmi dalam suasana yang guyub. Karena Tuhan tahu, keguyuban itu hanya mampir sejenak.

Hai saya, aku, anda, juga kamu:  Apakah Ramadan yang kau miliki adalah Ramadan yang kosong? Cuma kita yang tahu, topeng apa yang menjadi kaver wajah kita.

Iklan

6 comments on “Topeng Bulan Syawal

  1. *Memakai topeng*
    Mohon Maaf Lahir Bathin ya mas

    *Melepas Topeng*
    Bisik bisik bisik bisik….

    Tulisannya penuh perumpamaan dan sindiran hehe.

  2. Sebulan sudah kita jalani Ramadhan bersama
    Malam penghujung hari yang indah ini
    Genderang Perang sudah di tabuh.
    Pekik Kemenangan dikumandangkan
    Alunan Nada Pengagungan dinyanyikan
    Suara Riang Gembira berkeliling kota
    Ramadhan dengan segala perniknya telah kita lewati bersama

    “Demi Masa sesungguhnya manusia itu merugi”

    Mudah mudahan Jerit kemenangan ada dalam diri kita semua
    Sebab tiadalah semua ini kecuali kembali kepada Fitrah Diri
    Mari bersama kita saling mensucikan diri menuju Illahi Robby
    Membersihkan diri melangkah menemukan diri sebenar diri
    Mulai menghampiri DIA tulus ikhlas karena CINTA
    Meraih keselarasan diri dalam Ketenangan Jiwa
    Bebenah dan jadikan momentum kemenangan ini
    Menjadi Manusia seutuhnya meliputi lahir bathin
    Dahulu datang putih suci bersih
    Mudah mudahan kembali suci putih bersih
    Tiada kata yang terungkap lagi
    Mari kita bersama menyambut hari yang FITRI
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Taqoba lallahu minnaa wa minkum
    Shiyamanaa wa shiyamakum
    Minal ‘aidin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin

    Dari :
    ” Kang Boed Sekeluarga “

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabat Sahabatkuku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

  3. mudah mudahan semangat lebaran.. semangat persahabatan dalam CINTA dan KASIH SAYANG terus melekat di hati kita semua.. dan bertumbuh kembang membangun kembali kepribadian bangsa yang ramah dan penuh CINTA
    salam sayang untukmu saudaraku

  4. waaaakaakakakakkk ke asyikan komeng sampai botol hijau lupa bicara

  5. hehehe.. cuma sehari itu saja.. setelah itu kembali ke habitatnya masing masing

  6. “Di Indonesia, yang justru indah dari lebaran ialah bahwa ia tak identik dengan kesucian. Lebaran adalah pesta, perayaan, kegembiraan, bahkan di sana-sini “kemewahan”. Satu yang perlu dipertanyakan apakan orang yang berkata seperti itu muslim? kalau iya saya rasa tidak akan bicara seperti itu.
    Minal aidin wal faidzin…….. 🙂
    (Hanya orang-orang yahudi yang sinis akan lebaran)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: