11 Komentar

Agustus: Bulan Dua Proklamasi

 

 

Masjid Rahmatan lil Alamin

Masjid Rahmatan lil Alamin

 

 

Agustus adalah bulan keramat bagi bangsa Indonesia. Pada bulan ini, bangsa ini merdeka. 17 Agustus 1945.  Kemarin, hampir seluruh pelosok dan pojok kampung mendadak beraura merah putih. Merah putih di mana-mana. Di tiang bendera. Di gapura-gapura. Di kantor-kantor. Di mana-mana ada merah putih untuk menghormati sebuah peristiwa penting 64 tahun silam.

Namun, sepuluh hari sebelum 17 Agustus, sekelompok warga di negeri ini juga memperingati sebuah proklamasi bertanggal 7 Agustus 1949. Itu proklamasi Negara Islam Indonesia (NII). Jangan bilang bahwa di bumi pertiwi ini sudah tidak ada lagi upacara untuk menghormati peristiwa yang dianggap sakral oleh komunitas Darul Islam (DI) tersebut.

Entah empat tahun belakangan ini, apakah proklamasi 7 Agustus itu masih diperingati. Yang jelas, lima tahun lalu, saya pernah mengabadikan sebuah “upacara” peringatan proklamasi berdirinya NII itu. Waktu itu, 7 Agustus 2004.  Di teras puncak Masjid Rahmatan lil Alamin (Masjid RLA), di kompleks pendidikan Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, peringatan proklamasi itu dilakukan.

Yang menjadi Inspektur Upacara tentu saja Sang Imam NII. Dia Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Sedangkan teks proklamasi NII dibacakan oleh Sekretaris Negara NII (maaf, nama saya rahasiakan).

Sehabis subuh, para peserta upacara yang hanya berjumlah 30-an orang sudah bersiap. Satu per satu peserta peringatan menaiki anak tangga Masjid. Teras puncak itu sendiri ada di atap lantai 6.  Mereka itu adalah para undangan terbatas, termasuk saya yang diundang sebagai juru warta. Memang, peristiwa itu tidak diwartakan untuk umum melainkan sekadar untuk menjadi arsip dan dokumenter organisasi. Selain memotret, saya juga mengabadikan peristiwa itu dengan cam recorder, yang hasilnya langsung disimpan oleh Sekretariat Negara.

Para undangan itu adalah para pejabat Menteri dan beberapa pejabat eselon I kepercayaan Sang Imam. Juga, beberapa pejabat fungsional non-struktural.

Tidak ada pengibaran bendera. Hanya ada tiga mata acara dalam forum yang berlangsung secara khusyuk itu. Pembacaan teks Proklamasi, penyampaian taushiyah oleh Inspektur Upacara, dan pembacaan doa. Setidaknya itu yang saya ingat. 

Lingkungan di sekitar Masjid tentu saja sarat pengamanan. Bahkan, di setiap lantai masjid yang belum rampung dibangun itu ditempatkan beberapa penjaga.  Sekitar pukul 06 pagi, semua peserta sudah berkumpul menanti kehadiran Sang Imam. Oh ya, di bawah ini saya kutipkan teks Proklamasi NII:

P R O K L A M A S I

B E R D I R I N Y A  N E G A R A   I S L A M   I N D O N E S I A

Bismillahirrohmanirrohim

Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah

Kami Ummat Islam bangsa Indonesia menyatakan berdirinya :

N E G A R A   I S L A M   I N D O N E S I A

Maka hukum  yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu ialah:

H U K U M   I S L A M

Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !

 

Atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia

Imam Negara Islam Indonesia,

(Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo)

Madinah Indonesia, 12 Syawal  1368 H

7 Agustus 1949 M

***

Setahun sebelumnya, peringatan Proklamasi di kampus pendidikan spektakuler itu biasanya hanya dilakukan secara sederhana, tanpa upacara  khusus seperti 7 Agustus 2004 itu.   Namun, yang jelas, segenap warga NII (khususnya yang tergabung di bawah kepemimpinan Abdussalam Rasyidi) pada setiap tanggal 7 Agustus biasanya saling mengucapkan selamat ulang tahun.  Berjabat tangan, kemudian berpelukan erat-erat. Tak jarang, air mata haru  menetes.

Lima tahun berlalu, sejak saya meninggalkan komunitas itu karena sebuah alasan prinsipil, pada setiap 7 Agustus, terkadang saya masih mendapat sms atau telpon dari rekan sejawat sekadar mengucapkan sepotong kalimat: “Selamat Ulang Tahun”.

***

Tahun ini, adalah tepat 60 tahun peringatan Proklamasi NII.  Sesaat sebelum enter terakhir yang menjadikan tulisan ini ter-publish untuk umum, beberapa kawan mengingatkan saya. “Kawan, tak usahlah kau kemukakan hal semacam ini untuk publik. Bagaimana jika ada yang tak senang?”

Sungguh, bukan karena ingin mencari sensasi jika kemudian tulisan ini saya unduh-udarakan melalui beberapa kanal blogging: kalipaksi.com, politikana, dan kompasiana. Saya hanya ingin berbagi. Berbagi tentang pengalaman hidup yang pernah saya alami. Pengalaman hidup yang tidak gratisan, tentunya.

Toh, tulisan ini juga tidak akan berpengaruh apapun terhadap eksistensi para tokoh yang saya sebut namanya dalam tulisan ini. Juga, eksistensi lembaga pendidikan yang di dalamnya berdiri kokoh Masjid RLA itu. Semoga bermanfaat.

 

 

 

Di teras puncak Masjid RLA inilah upacara itu dilaksanakan

Di teras puncak Masjid RLA inilah upacara itu dilaksanakan

 

Baca juga:

  1. Pleidoi
  2. Gus Dur – Al-Zaytun
  3. Caleg N Sebelas Gagal ke Senayan

 

 

Iklan

11 comments on “Agustus: Bulan Dua Proklamasi

  1. Peristiwa bersejarah bagi ummat islam bangsa indonesia,karena sesungguhnya ummat islamlah yang berjuang mati-matian mengusir penjajah & ummat islam bangsa indonesia yang sebenarnya dijajah selama 350 tahun bukan republik indonesia karena republik indonesia ini baru lahir / ada pada tgl 17 – 08 – 1945 sedangkan ummat islam bangsa indonesia sudah ada sejak abad 11 M (pasai-aceh) dan thn 1478 Rd. pattah (nii demak)..maaf bila saya terlalu membanggakan ummat islam tetapi itulah fakta sejarah yg banyak orang orang tidak faham bahkan disembunyikan hanya untuk mengedepankan yang namanya “NASIONALISME”,sungguh ironis….!!

  2. Negara Islam Indonesia pimpinan PANJI GUMILANG ini sudah memisahkan diri dari NII yang asli…
    PANJI GUMILANG berada dibawah RI, dalam rangka menghancurkan NKA yg asli…

  3. sombong benar emmet ini. anda itu hidup dimana?, sejarah di baca yang mana?, masa lu cuma ngomong aceh doang. itu borobudur hasil dari mana dan beberapa candi?, majapahit sudah sampai mana?, jangan di butakan oleh agama radikal.

  4. wow,boleh juga pengalaman hidup lo,sayang cuma tinggal kenangan….

  5. MAri kita Wujudkan ke Khilafahan Islam di Indonesia…

  6. Kita perkuat barisan dan ukhuah untk tgaknya syariat islam.

  7. Prjuangan menuju kemenangan islam memang penuh rntangan, dng kesabaran dan kdtakwaan kita akan menang

  8. Yang terang pasti kelihatan walaupun setitik diantara kegelapan yang gulita.Yang benar pasti akan datang walaupun rintangan seberat apapun, dia akan tetap kokoh, kuat dan tegar menembus rintangan zaman.Hujatan, cacian dan hianaan hanya akan mempertebal keyakinan akan sebuah perjalanan.

  9. Saya umat negara islam indonesia Atas Nama Panglima Tertinggi Angkatan Perang Imam Besar Drs. Sensen komara bin Bakar Misbah bin KH. Mugni …babakan cipari pangatikan wanaraja garut jawa barat…akan menyelamatkan semuanya..berdasarkan fakta dan aturan Ilahi Rab’bil’alamin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: