2 Komentar

“Rahasia” Meditasi

Beberapa tahun lalu, sekitar 2004, saya pernah menerbitkan sebuah majalah yang kemudian diberi nama BELADIRI. Sayang, majalah itu sekarang mati suri. Yah, selain sudah tak terlalu punya daya jual, peminat yang semakin berkurang, komunikasi saya dengan para penggiat beladiri sudah hampir tiga tahun terputus.

font image: majalah beladiri

font image: majalah beladiri

Aha, ternyata arsip lama naskah-naskah tulisan yang pernah saya tulis di majalah ini sepertinya masih relevan untuk saya upload di ruang blog amatir ini. Yah, saya hanya berfikir pasti bermanfaat. Lagi pula, dalam atmosfer persiapan pemilu seperti sekarang ini, bosan juga menulis pernak-pernik informasi di seputar pesta rakyat itu.

meditasi

Salah satu tulisan lama itu membahas tentang meditasi, yang kemudian saya coba kaitkan dengan keyakinan orang-orang muslim tentang “khusyuk”. Melalui tulisan ini, saya ingin membangun jembatan pemahaman bahwa selalu ada benang merah antara diksi-diksi dalam literatur Islam dengan non-Islam. Itu, salah satunya.

***

Penjelasan tentang benang merah antara konsep meditasi dan konsep khusyuk itu akan saya awali dengan sebuah kisah tentang Bodhidharma, seorang bhiksu India yang kemudian dikenal sebagai bapak pendiri seni beladiri Tionghoa ortodoks.

Sebagai sebuah catatan kecil, kisah tentang Bodhidharma ini seakan menjadi cerita wajib bagi para murid Kuil Shaolin. Salah satu dari sekian banyak kisah fantastik pendiri kungfu shaolin ini adalah ketika ia sedang bermeditasi di sebuah goa dekat Kuil Shaolin. Di goa itu, setelah melatih kungfunya, Bodhidharma kembali bermeditasi. Begitu seterusnya, ia lakukan secara berulang-ulang.

Suatu ketika,  seorang pemuda bernama Guang, yang dikenal sebagai pemuda rapuh dan lemah, mendengar kehebatan Bodhidharma. Ia pun menemui Bodhidharma yang tengah bermeditasi.

“Tuan Guru Bodhi, izinkan saya menjadi murid anda,” pinta Guang. Setelah memohon berulang-ulang, Bodhidharma pun menjawab, “Kau akan kujadikan murid, hanya jika kau dapat menggeserku dari tempatku bermeditasi ini.”

Guang yang datang dengan motivasi tinggi untuk menjadi murid Bodhidharma pun bersemangat mencoba menggeser sang bhiksu dari titik meditasinya. Sayang, meski sudah berusaha sekuat tenaga, sang bhiksu tetap tidak bisa digeser dari tempatnya duduk.

***

Dalam tradisi beladiri Jepang, Bodhidharma dikenal sebagai Damo.  Dalam versi Jepang, tersebut kisah ketika pasukan kekaisaran melintas di goa tempat sang biksu bertapa. Persis seperti kisah dari daratan Cina tadi,  Damo  juga terlihat sedang bermeditasi. Damo pun disapa.

Tentu saja, Damo tidak menjawab karena kekhusyukannya bermeditasi. Setelah dicoba ditarik oleh satu orang bahkan hingga sepuluh orang, Damo tetap tidak dapat digeser dan dijatuhkan.  Bahkan, ketika tangannya ditusuk dengan paku, Damo tetap bergeming. Tidak bergerak, dan tak merasakan sedikitpun rasa sakit.

Kekuatan apa yang menyelimuti Damo ketika itu? Kekuatan mistikkah? Tentu saja, bukan! Kekuatan itu lahir dari “energi dalam” yang timbul dari tingkat kekhusyukan atau meditasi atau mushin (dalam istilah bahasa Jepang) yang dicapai Damo atau bhiksu Bodhidharma. Dalam tradisi shaolin dan seni beladiri Jepang, energi harmoni dalam yang muncul itu dinamakan Qi.

Tahun 2004, saya pernah melakukan percobaan bersama seorang Sensei Aikido bernama Sensei Imanul Hakim. Terbukti, dengan latihan meditasi yang serius, saya tidak bisa menggeser tubuh Sensei Imanul Hakim,  yang sesungguhnya hanya duduk relaks saja.

Ia pun membagi tips. “Dalam kondisi khusyu’ atau meditasi itu jiwa kita mesti diselimuti rasa cinta kasih. Buang segala kebencian yang ada,” katanya.

Dalam sejarah Islam, sejarah kekhusyukan Ali bin Thalib dalam bersembahyang (melakukan shalat) juga bisa dijadikan contoh tentang kekuatan energi dalam yang serupa dengan apa yang terjadi pada meditasi bhiksu Damo.

Alkisah, dalam sebuah peperangan, sahabat Ali terkena sebuah anak panah yang menancap di tubuhnya. Ketika akan dicabut oleh seorang sahabat Rasul Muhammad saw melarangnya. “Jangan dicabut sekarang, cabutlah ketika Ali sedang shalat,” kata Rasul Muhammad.

Benar saja, ketika Ali shalat, tak lama setelah bertakbir yang pertama, anak panah itu dicabut. Anehnya, Ali tidak sedikitpun merasakan rasa sakit ketika anak panah itu dicabut.

Mukjizatkah itu? Di sinilah rahasia kekhusyukan shalat sahabat Ali. Dalam sejarah Islam, sahabat Ali terkenal sebagai orang yang dipandang Muhammad saw sebagai salah satu orang terkhusyuk dalam shalat.  Nah, ketika itulah, ketika rasa benci dan dengki, tak mendapat tempat dalam jiwa manusia, seluruh potensi energi terpusat pada satu titik: Tuhan.

Ketika Damo bermeditasi atau sahabat Ali sedang shalat itulah seluruh jiwa dan pikirannya ditujukan kepada satu titik: Sang Maha Pencipta. Tanpa kebencian dan tanpa kedengkian. Ketika itulah energi dalam pada dirinya muncul.

Semoga bermanfaat.

Iklan

2 comments on ““Rahasia” Meditasi

  1. Meditasi memang menjadi sarana yang sangat ampuh untuk memahami diri sendiri dan alam semesta. Meditasi tidak mengenal batas agama dan ruang.

    Salam kenal.

  2. Tidak ada salahnya kita melatih diri agar mencapai kekhusuan seperti Ali ra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: