3 Komentar

Indonesia, Negeri Minim Sayembara Arsitektur

Endi Subijono, Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia

Architect is a leader. Begitu bunyi idiom terkenal, yang memposisikan arsitek sebagai leader dalam sebuah proses pembangunan sebuah gedung atau sebuah bangunan infrastruktur. Alhasil, sebuah kegiatan konstruksi yang diniatkan untuk mewujudkan sebuah nilai green construction tidak bisa tidak akan melibatkan peran vital arsitek, selaku sang perancang.

Bagaimanapun, sebuah proses kegiatan konstruksi melibatkan peran para insinyur lintasbidang, mulai dari arsitek, insinyur struktur, insinyur elektrikal hingga mekanikal. Nah, dalam konteks kolaborasi itulah seorang arsitek harus mampu mengakomodir inovasi-inovasi berdimensi green pada sebuah bangunan, baik itu dalam konteks struktur, elektrikal, plambing maupun mekanikal.

Arsitek juga punya peran besar untuk melobi para kliennya agar mengakomodasi konsep green building serta green construction pada proses pelaksanaan pembangunannya. “Arsitek berkewajiban menyampaikan berbagai alternatif kepada klien, termasuk pilihan untuk menerapkan konsep green yang ramah lingkungan,” kata Endy Subijono, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia.

Oh ya ini, hasil perbincangan saya dengan Endy Subijono:

Mas, konsep green, seperti green construction, green building dan green cities itu terlalu mengawang-awang?

Yah, kita hormati sajalah semangat green movement itu,  toh  pada dasarnya berusaha melindungi sumber daya alam, yang pada implementasinya selain berdimensi pada efisiensi juga meminimalkan kerusakan lingkungan.

Mas, sejauh mana seorang arsitek punya daya tawar untuk menggerakkan klien agar mau mengakomodasi konsep green building atau green construction?

Nah, pada saat itulah profesionalisme arsitek diuji. Tidak hanya arsitek, ahli struktur dan konstruksi pun punya kontribusi untuk bisa meyakinkan klien agar mau menerapkan konsep-konsep green yang berwawasan efisiensi itu, meski kelihatannya agak mahal. Arsitek memang berkewajiban menyampaikan berbagai alternatif kepada klien. Memang, pada akhirnya keputusan ada di tangan klien tapi setidaknya klien sudah diberikan pilihan-pilihan.

Seperti apa green construction dalam perspektif Anda sebagai arsitek?

Yang jelas, makna hijau atau green dalam konteks ini bukan semata tentang tampilan fisik yang hijau. Melainkan lebih pada dampak terhadap lingkungan alam dan perbaikan kualitas lingkungan. Prinsipnya, berdimensi ramah lingkungan. Tentu saja, secara arsitektural, implementasinya melalui sebuah proses yang tidak sederhana. Selain itu, juga ndak berhenti pada perancangan arsitektur tetapi juga tentang bagaimana metode pelaksanaan konstruksi. Dimensi lain adalah tentang bagaimana memilih, mengusulkan dan menyeleksi material bangunan. Penggunaan kayu yang minim, pada skala makro akhirnya mengurangi penebangan pohon di hutan. Dan, yang terpenting, dalam perspektif jangka panjang, bagaimana bahan tersebut bisa didaur ulang setelah masa lifetime-nya habis.

Kira-kira kontraproduktif nggak dengan mekanisme pasar?

Justru, saat ini permintaan pasar sudah mulai menghendaki konsep green diterapkan, baik dalam desain kawasan hingga desain properti. Artinya, ada kok kelompok masyarakat yang mau membayar mahal untuk bisa menikmati manfaat dari konsep green itu. Selama itu membuat mereka nyaman dan merasa lebih sehat, uang bukan kendala, bukan?

Meloncat ke tema lain, Mas: Bagaimana IAI mempersiapkan ‘korps arsitek’ agar senantiasa profesional?

Yang jelas, dalam sebuah proyek , arsitek bukan single player. Bukan pemain tunggal. Di sana ada pengawas proyek, kontraktor manajemen konstruksi, dan sebagainya. Artinya, tidak bisa seorang arsitek memerankan diri sebagai profesional sejati jika aktor yang lain itu tidak. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, agar para tenaga ahli itu tidak “nakal” atau mencuri-curi kesempatan, salah satu solusinya adalah penghargaan berupa honor atau fee yang sepadan.

Anda puas dengan mekanisme proses lelang proyek jasa konsultasi arsitektur, yang selama ini berlangsung dalam pembangunan proyek-proyek pembangunan?

Saya tidak akan bicara puas atau tidak puas. Selama ini pelaksanaan lelang memang masih berpihak pada konsultan atau kontraktor yang bisa memberikan penawaran harga termurah, dengan konsep yang baik dan waktu pelaksanaan yang lebih cepat. Itu faktanya. Namun, jika mau jujur, sebuah pekerjaan arsitektural tidak bisa diukur dengan ukuran seberapa murah tapi diukur seberapa baik dan berkualitas produk arsitektur itu. Oleh karena itu, sebenarnya Undang-undang sudah memberikan sebuah alternatif, yang menurut saya harus dikembangkan, yaitu sayembara. Biarkan para ahli berkreasi dalam sayembara itu. Dengan proses penilaian yang terbuka, bahkan jika perlu melibatkan masyarakat, saya percaya desain dan kreasi terbaik yang akan lahir sebagai pemenang. Menurut saya, saat ini sayembara belum jadi pilihan utama. Padahal, mekanisme ini sangat layak untuk dikembangkan. Menurut saya, Indonesia negeri yang sangat minim sayembara desain arsitektur.

Baca juga:


Iklan

3 comments on “Indonesia, Negeri Minim Sayembara Arsitektur

  1. Bener juga ya?
    Indonesia dengan beragam budaya dengan beraga gaya Arsitektur benar-benar minim sayembara arsitektur.
    Disamping itu, nampaknya Arsitektur setepat (lokal) jarang sekali diakomodir menjadi facade lingkungan, sehingga ciri setempat makin hari kian terkikis (punah?).
    😦

  2. saya merasa mendapat inspirasi dari tulisan bapak,,,
    saya kurang tau persis apa alasan para arsitek kita kerja ke luar negeri, apakah di sini karena miinim sayembara, apakah gaki arsitek gak jelas, apakah profesi arsitek gak dihargai, atw yg lain…
    saya sebagai junior saat ini belum bisa berbuat banyak memeng, namun di angan-angan saya jika gedung2 yang besar dan punya daya pengaruh, sebaiknya di sayembarakan saja. mengenai penilain sayembara memang kadang2 subjektif, namun inilah penetrasi yang patut di tingkatkan ke depan..thaks pak..berjalan turus arsitek nusantara…

  3. termakasih infonya, visit blog dofollow saya juga ya gan 🙂 , Abeje

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: