Tinggalkan komentar

Nggak Disiplin, Susah Demokratis

Tak lama lagi, publik akan segera mengetahui siapa saja para calon RI Satu dan RI 2 yang akan bersaing menjadi Presiden dan Wakil Presiden pada Pilpres mendatang.  Dari beberapa nama, ada yangberlatar belakang militer, ada juga yang berlatar belakang sipil.

Ah, tapi apa gunanya juga membicarakan dikotomi sipil dan militer.  Sudah gak zaman, bukan? Eits, tunggu dulu. Betul, bahwa wacana tentang dikotomi sipil militer sudah tidak berlalu lalang di media massa; juga sudah tidak didebatkan para pengamat politik.  Tapi ingat, di tingkat akar rumput, wacana itu masih ada.   Dari beberapa obrolan dengan banyak teman akar rumput, simpul mereka begini: “Yah, kalo’ bisa Presiden kita mantan jenderal, yang tegas. Jadi, demokrasi nggak kebablasan.

Gara-gara obrolan itu, saya pun jadi teringat cerita seorang teman yang baru saja pulang dari Moskow, sepuluh tahun silam, tak lama setelah keruntuhan Uni Soviet. Yah, sekitar tahun 1999.  Menurut teman itu, meskipun geliat warga Moskow–dan sebagian besar warga Rusia lainnya–mencoba menjadi ke-barat-barat-an tapi ada sebuah peninggalan rezim komunis yang tetap dipertahankan, yakni: budaya disiplin ala komunis.  Rupanya, elit Rusia sadar dalam masa transisi ketika itu, reformasi tak boleh kebablasan, jadi urusan penegakan disiplin tetap nomor satu.  “Tidak ada istilah pelanggaran disiplin ditolerir hanya demi demokrasi,” kata seorang pensiunan Tentara Merah.

Seorang pria Rusia generasi tua berkata kepada teman saya itu bahwa Soviet meninggalkan sebuah harta karun berupa budaya disiplin yang hingga kini dirasakan betul oleh warganya. Berkat budaya disiplin itulah warga Rusia tak merasa terpuruk terlalu lama akibat perubahan politik negaranya.

Hikmah dari cerita itu, ternyata apapun sistem yang diterapkan selama ia bersemangat menegakkan disiplin maka keteraturan pasti menjadi buahnya. Keteraturan itu lalu akan bermuara pada hal-hal positif, tentang apa saja dan di sektor kehidupan mana saja.

Disiplin tentu tak terbentuk begitu saja dengan indoktrinasi sesaat, melainkan dengan sebuah sistem pembiasaan dan penyuasanaan hidup berdisiplin dalam aktivitas keseharian. Sedinya, di negeri kita disiplin masih selalu dikaitkan dengan pola hidup orang-orang militer. Padahal tak demikian adanya. ”Disiplin milik semua orang, bukan hanya milik tentara,” kata Bambang Pradjuritno ketika masih menjabat sebagai Kepala SMU Taruna Nusantara Magelang. Waktu itu, ia berpangkat Brigadir Jenderal.

Tapi kesan itu sah-sah saja berkembang di negeri ini sebab di luar komunitas tentara, pola hidup disiplin masih menjadi sesuatu yang menggantung di awan. Namun tak berarti seluruh tentara senantiasa disiplin dan setiap diri sipil divonis tak disiplin. Tak sedikit warga sipil yang konsisten menerapkan pola hidup disiplin. Dan, bagi saya, penegakan demokrasi juga harus seiring dengan penegakan disiplin. Tentang ini, saya gembira betul melihat para Polantas menilangi peserta kampanye yang melanggar aturan lalu lintas. Yeah, meskipun remeh temeh, tapi itu tidak bisa dianggap sepele.

Saya pun teringat ungkapan William F. Buckley Jr, seorang diplomat Amerika. “Demokrasi hanya bisa terlaksana dalam suatu masyarakat yang teratur dan berdisiplin tinggi,” katanya suatu ketika.

Wah, jangan-jangan, kisruh kualitas Pemilu yang dianggap terburuk sepanjang sejarah itu karena para penyelenggaranya memang tidak disiplin.  Yah, kerja sih kerja, tapi ya begitu deh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: