7 Komentar

Dagelan Ahmad Dhani dan Cak Imin

Curhat–mungkin lebih tepat disebut uneg-uneg ini sebenarnya sudah terlebih dahulu saya upload di politikana.com (itu lho, yang jika ndak salah, situs garapannya Kang Enda dan Ndoro Kakung). Tapi, setelah saya liat bahwa beberapa tulisan yang beredar di sana ternyata juga punya kembaran di blog masing-masing penulisnya, akhirnya tulisan itu saya putuskan untuk saya share juga di sini. Semoga ndak menyalahi aturan main di politikana.com. Maklum, namanya juga ruang jurnalisme amatiran. 😀

Ini tentang Ahmad Dhani dan Cak Imin (Muhaimin Iskandar), yang akhir Februari lalu sempat digadang-gadang akan jadi calon pasangan Presiden dan Wakil Presiden. Beritanya ada di sini.  Nah, ketika Om Nagabonar (Deddy Mizwar) juga mendeklarasikan niatnya untuk maju jadi Capres, wacana tentang Dhani Ahmad dan Cak Imin tadi muncul lagi.

Saya pun jadi gatal untuk curhat melalui tulisan. So, lahirlah tulisan yang kemudian saya beri judul: Dagelan Ahmad Dhani dan Cak Imin dan saya upload ke politikana.com itu.

***

Ini dia, tulisan itu:

Cak Imin & Ahmad Dhani

Cak Imin & Ahmad Dhani

Fiuuh…terpaksa saya menjadi super-sinis, ketika Ahmad Dhani disebut-sebut sebagai calon kuat cawapres yang akan mendampingi Cak Imin (Muhaimin Iskandar). Bukan karena sentimen terhadap kedua publik figur ini. Bukan!! Sama sekali tidak. Super-sinis itu lahir karena sebuah refleksi psikologis yang tiba-tiba saja berkata begini: “Apa saya ndak salah dengar?”

Begini ya, ada pepatah Melayu berbunyi: “jangan hidung tak mancung pipi didorong-dorong pula”. Artinya, lantaran hidung kita pesek, pipi pun didorong-dorong supaya tambah ndelesek sehingga si hidung tampak kelihatan mbangir (mancung). Artinya, apa. Jika memang hidung kita pesek, jangan sok mbangir dong. Dengan kata lain, operasi plastik lah, biar keliatan mbangir.

Jika dinisbatkan pada mereka berdua, jelas imej mereka belum cukup mbangir untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin tertinggi bangsa ini. Ahmad Dhani, jelas figur musisi kontroversial, yang sekalipun cerdas dalam bermusik tapi punya banyak cacat imej di mata masyarakat.

Begitu pula Cak Imin. Betapa tidak, selain jadi “musuh” Gus Dur, di kalangan internal Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) saja–tempat di mana ia pernah menjadi Ketua Umum–dicibir sebagai kader PKB yang super medit (pelit). Ia pun diberi cap stempel oportunis ulung dan angkuh di dalam sebagian kalangan NU. Di luar NU, jelas ia bukan siapa-siapa.

Nah, dengan takaran imej yang semacam itu, jika mau jujur mereka pasti sudah bisa mengukur diri untuk sebaiknya “balik badan” sebelum bertarung. Tapi ya sudahlah. Ini kan negeri demokrasi. Siapapun berhak mencalonkan diri jadi apapun juga, selagi lolos persyaratan administratif dan punya uang untuk membiayai pencalonan itu. Tapi, ya itu tadi, apa tidak mubazir membuang-buang energi dan uang untuk sebuah pepesan kosong?

Jadi, operasi plastik dulu lah. Kalian masih muda. Masih banyak waktu untuk membangun imej yang lebih positif. Siapa tahu, lima tahun ke depan, imej kalian sudah tampak lebih mbangir ketimbang sekarang.

Tampaknya, apa yang melanda Ahmad Dhani itu pula yang terjadi di kalangan caleg-caleg anyar kita, yang entah datang dari mana, tiba-tiba mempermak diri sebagai calon pemimpin bangsa. Duh, mengapa mereka tak mencermati pepatah melayu tadi.

“Hush, sudah….sudah. Tak perlu panjang lebar. Ngapain juga kamu bersusah-payah menganalisis dagelan politik semacam ini,” tiba-tiba suara hati meminta saya untuk berhenti menulis.

Ya sudah. Semoga saya tak dianggap mendorong-dorong pipi dan diliat sok kepedean lantaran menulis curhat politik ini.

Iklan

7 comments on “Dagelan Ahmad Dhani dan Cak Imin

  1. ahmad dani….? mau jadi cawapres……? jangan sok lah……!!
    ngurus keluarga aja nggak becussss…………koq mau ngurus negara……huuuu…….ngaca dong……….ngaca…..!!!

  2. kayaknya kalo di infotainment2 itu si dhani orangnya egois……….statement2nya kampungan lho. mosok mau jadi cawapres ….gitu!??? ah…yang bener aja, nanti ada menteri perselingkuhanya segala dikabinetnya khan malah repotttttttttttttt……….kalo bisanya nggitar ya nggitar aja ya..! nggak usah macem2, urus keluarga aja khan gak bisa to,mosok mau urus negoro ………fuih !!!

  3. Sebelum jadi wapres, cobain dulu jadi ketua RT, apa dia mampu ??

  4. Apa ada yang milih dia ?
    ending pilih Tukul sekalian 😀 😀 😀

  5. namanya juga negara demokratis, siapapun berhak jadi calon kalo mau dan ada yg milih lho, sumanto pun kalo ada yg nyalonkan dan milih kan ya bisa bisa ajah, cuman pertanyaannya apa ada yg milih, seperti kita kita juga mereka kan kadang butuh ningkatin trafik juga he he he

  6. hihihihih ya rasa-rasanya ga mungkin tuh

  7. Uedan uedan dan uedan Hahaha mending negorone bubar wae timbang wong loro iku presiden n waprese..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: