8 Komentar

Kata “pengemis” dan “mengemis” kok nggak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia?

Tiba-tiba saja saya ingin memastikan makna kata “pengemis” dan “mengemis” berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi…kok nggak ketemu: baik di bagian kata dasar: “ngemis” atau kata benda orang: “pengemis”, dan kata kerja: “mengemis”.

Lho………..? Kok nggak ada, sementara kata itu sudah sangat familiar.

Oh ya, gara-gara nggak nemu di kamus, saya curiga: jangan-jangan ini belum resmi jadi bahasa Indonesia (masa’ sih?). Soalnya, yang pernah saya dengar: istilah mengemis itu merupakan turunan dari kata “kamis”. Ya, hari kamis.

Ceritanya begini. Dulu, pada dekade 1950-an di pesisir utara Jawa Timur, ada kebiasaan atau adat yang dilakukan pemuda setiap hari kamis. Pada hari kamis itu, mereka mendatangi rumah-rumah untuk mengumpulkan sumbangan, utamanya beras utk dibagi ke warga yang tidak mampu.

Nah, kebiasan itu akhirnya terkenal dengan istilah “ngemis”, artinya mengumpulkan sumbangan dari warga yang dilakukan pada hari kamis. Entah, apakah itu ada kaitannya dengan istilah “ngemis” yang kini diterjemahkan sebagai pekerjaan meminta-minta.

Lagipula kata “ngemis” tidak ada kok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau, jangan-jangan saya yang kurang teliti mencari. Ada yang bisa bantu?

Iklan

8 comments on “Kata “pengemis” dan “mengemis” kok nggak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia?

  1. waahh masa siy sam g ada??

    ikutan nyari deehh…

    ijin ngelink yaah?? 🙂

    thx

  2. Sampai sejauh ini, begitu deh.
    Untuk link, diper-monggo.

    Salaam.

  3. Mungkin bangsa ini malu mengakui hal-hal yang negatif

  4. salam kenal kak sofwan..^^
    saiia betania…

    okeh..saya bantu nyariin deh..tp kalo diKBBI kagak ade..trus yg nyiptain kata pengemin n mengemis siapa dunk??hehehe…

    oia..sekarang udah ada KBBI revisi lho..semoga di sana ada kata” itu..

    jangan lupa mampir ke blog saya iah kak^^

    http://pelangiituaku.wordpress.com

    saiia mau dunk link saiia masuk blog kk..^^

    makaciiihh…

  5. Wah…
    Ternyata mas ini jeli juga orangnya ya…..

  6. Yang saya tahu pengemis itu kata dasarnya “emis”. Coba aja cari di KBBI, atau di pusat bahasa(http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php)
    ********

    kalipaksi:
    terima kasih informasinya. wah, jadi semakin terang deh.

  7. Asal Usul Kata Pengemis

    Raja tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bersedekah secara langsung kepada rakyatnya. Biasanya ia memberi uang tanpa ada ada satu orangpun yang terlewat. Kebiasaan yang berlangsung setiap hari Kamis (dalam bahasa jawanya Kemis), maka dari situ lahirlah sebutan orang yang mengharapkan berkah Raja di hari Kemis dengan sebutan NGEMIS.

    asal-usul

    Di beberapa kota besar di Indonesia sekarang ini telah dibakukan perda ketertiban umum yang melarang adanya pemberian santunan kepada pengemis dan pengamen. Sekarang yang sedang ramai dibicarakan adalah keputusan menkominfo untuk menutup akses terhadap situs porno sehubungan dengan akan diluncurkan bantuan komputer dan jaringan internet bagi sejumlah institusi sekolah. Juga undang-undang yang berhubungan dengan HAKI yang menjadi senjata untuk mensweeping pengguna Microsoft yang ilegal; syukurlah Pusdatin Kesos sudah menerapkan penggunaan opensource.

    Bicara tentang pengemis, ternyata jumlah mereka tidak berkurang dengan diberlakukannya perda ketertiban di Ibukota. Pengemis perempuan kumal menggendong bayi atau balita di perempatan jalan menjadi pemandangan yang sangat kontras dengan lalu-lalang mobil mewah. Tampak benar tidak meratanya kemakmuran di persada nusantara yang dihuni oleh manusia-manusia yang mengaku berilahkan kepada Tuhan Yang Mahaesa.

    Banyak yang beranggapan dipilihnya pekerjaan sebagai pengemis oleh sebagian orang karena ternyata pekerjaan itu mampu menafkahi dengan lebih mudah daripada harus bekerja. Singkatnya mentalnya memang mental pengemis. Sebagian beranggapan kehadiran mereka karena kemiskinan, karena ketiadaan lapangan kerja. Karena kemiskinan untuk mereka telah dilanggengkan oleh sistem yang diciptakan penguasa negeri ini. Karena bagaimana mau tampil dalam persaingan bila biaya sekolah tak terjangkau.

    Betulkah bangsa Indonesia yang dikarunikan oleh Sang Khalik tanah yang subur memiliki mental pengemis? Bukankah tongkat dan kayu jadi tanaman, dan bahwa ikan serta udang menghampiri dirimu? Atau justru karena demikian mudahnya untuk menyambung hidup maka bangsa kita menjadi bangsa yang lembek dan menggampangkan segala sesatunya. Hingga sampai di level penguasa pun punya hobby sebagai pengemis, yang akibatnya hutang negara semakin menggunung alhasil anak-cucu yang menanggungnya.

    Kebenaran mengenai pengemis ternyata ditopang oleh kenyataan masa lalu. Dibuktikan dari asal-usul pembentukan kata pengemis itu sendiri, seperti dapat ditemui dalam buku Khasanah Bahasa dalam Kata per Kata karya Prof. Gorris Keeraf. Ceritanya begini:

    Di masa Nusantara, terutama di tanah Jawa masih dipimpin oleh raja-raja, para penguasa memiliki kebiasaan membagi-bagikan sedekah kepada yang tak berpunya. Kegiatan ini di Jawa menjadi semacam ritual tersendiri yang dilaksanakan menjelang datangnya hari Jum’at. Maka setiap hari Kamis Sultan keluar dari istananya berjalan kaki menuju Masjid Raya, diringi para pengawal, dielu-elukan rakyat di kedua sisi jalan sambil tertunduk pasrah mengharap berkah dari sang Raja.

    Raja tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bersedekah secara langsung kepada rakyatnya. Biasanya ia memberi uang tanpa ada ada satu orangpun yang terlewat. Kebiasaan yang berlangsung setiap hari Kamis (dalam bahasa jawanya Kemis), maka dari situ lahirlah sebutan orang yang mengharapkan berkah Raja di hari Kemis dengan sebutan NGEMIS. Jadi kata pengemis bukanlah kata yang mendapat sisipan em. Kata benda ini adalah unsur serapan yang berdiri sendiri. Kemudian ternyata penggunaannya mengalahkan kata peminta-minta. Padahal kata pengemis kalau diurai dan diambil dari kata dasarnya yakni kemis akan membingungkan. (isminov)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: