1 Komentar

Konsepku Tentang “Mimpi”

Saya pernah bertungkus lumus pada sebuah kelompok perjuangan. Juga, pernah beberapa tahun berkhidmat di sebuah pesantren sebagai pembina jurnalistik. Di sanalah, saya mencoba mengawinkan diksi-diksi tentang modernitas dan literatur-literatur dunia Islam. Salah satunya tentang “mimpi”.

Laqad sadaqa Allahu rasulahu alr ru-“ya bial haqqi latadkhulunna al masjida al harama in sha-”a Allahu aminina muhalliqina ru’’usakum wamuqassirina la takhafuna fa’alima ma lam ta’lamu faja’ala min duni dhalika fathan qariban.

Terjemahan (ala Tafsir Departemen Agama):

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.

***

Di mata saya, melalui kalimat suci itu, Tuhan seolah menegaskan bahwa mimpi-mimpi Rasul-Nya tentang tatanan dunia yang lebih aman dan sejahtera akan terbukti. Tentunya, dengan sebuah pengorbanan dan perjuangan.

Saya pernah membaca ayat ini secara berulang-ulang, juga membaca terjemah dan tafsirnya. Sebagian besar mendefinisikan ru’ya sebagai mimpi biologis, yang hadir dalam tidur manusia. Namun, saya kok lebih cenderung meyakini bahwa kalimat suci itu berbicara mimpi dalam terminologi yang lebih mencerahkan, tidak sekadar berbicara tentang sebuah mimpi biologis semata, melainkan berbicara tentang mimpi dalam konteks harapan dan hasrat; yang hanya akan bisa tercapai melalui sebuah perhitungan (ru’yah) yang akurat (haq).

Seorang psikolog pernah menulis bahwa sebagian besar mimpi sejatinya lahir dari sebuah hasrat besar yang belum terwujud.

Saya hanya ingin sumbang pikiran bahwa ayat ini mengandung ajakan tentang sebuah pesan besar Ilahi untuk membangun sebuah negeri yang aman. Pesan yang bermula dari sebuah mimpi (baca: hasrat), yang kemudian direncanakan (ru’ya) secara tepat/akurat (haq).

Wallahu a’lam bi al-shawab.



Iklan

One comment on “Konsepku Tentang “Mimpi”

  1. Setuju banget, Pak. Persis dengan syair Nidji:”Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia”
    Sesuai dengan The Secret … 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: