1 Komentar

Ketika Panggung Bisnis Semakin Saleh (Bag. 2)

Semakin Religius Semakin Besar Keuntungannya

Gejala tentang religiusitas di tempat kerja, sebenarnya bukan fenomena baru. Praktik bisnis yang terlandasi etika ini mulai tumbuh sejak lebih dari satu dasa warsa silam. Bukan hanya di Tanah Air, fenomena ini juga merupakan gejala global. Banyak perusahaan besar di Amerika yang juga menerapkan pendekatan baru di dalam berbisnis, bisnis yang didukung nilai-nilai spiritual.

Kalangan pebisnis Amerika, misalnya, menyebut fenomena ini sebagai fenomena spiritual company. Bahkan, jika mau jujur, sejatinya merebaknya spiritual company di Indonesia juga merupakan dampak dari perkembangan fenomena ini di Barat seperti yang dilakukan oleh UPS, Southwest, Starbucks dan Timberland. Perusahaan-perusahaan ini yakin betul bahwa laba hanyalah medium untuk melakukan hal-hal yang lebih baik bagi stakeholders. Laba juga bukanlah tujuan akhir sehingga untuk itu seorang pengusaha mesti menghalalkan segala cara. “Profit is a means, not an end,” simpul Russel Ackhoff, guru besar di Wharton Business School, tentang semangat spiritualitas pada perusahaan-perusahaan di Amerika.

Di Indonesia, gelombang spiritualitas pada perusahaan atau spiritual company memang tak bisa dilepaskan dari peran dan semakin populernya berbagai pelatihan motivasi bisnis, yang dikemas dengan pendekatan spiritual, seperti Emotional and Spiritual Quotient (ESQ). Itulah yang dilakukan secara apik oleh Ari Ginandjar Agustian. Apalagi, pelatihan ESQ kelas eksekutif memang sengaja membidik kalangan pebisnis dan profesional.

Tidak hanya ESQ, banyak instruktur pemotivasi yang juga menjadikan pendekatan spiritual sebagai basis pelatihan mereka. Sebut saja, Erbe Sentanu, pendiri Katahati Insitute, yang mengembangkan pola pikir progresif dalam menerjemahkan kode-kode spiritual. Juga, pelatihan-pelatihan yang menggugah energi spiritual dan inner power semacam Pelatihan 7th Habits ala Stephen Covey, Keagungan Insani, dan kelas-kelas publik yang dipandu oleh para motivator ulung seperti Mario Teguh, Andrie Wongso, dan Goenardjoadi Goenawan sejatinya menjadikan spiritualitas dalam konteks universal sebagai landasan motivasi yang mereka gelorakan.
Jika mau ditarik benang merah, sejatinya, para motivator itu menyuarakan nilai-nilai spiritual ke dalam bahasa yang universal. Dan, tentu saja, dengan pola penafsiran yang progresif. Ya, tampaknya, kata progresif menjadi kata kuncinya.

Sejak era reneisans bergulir beberapa abad silam, nilai-nilai sekuler mulai mewarnai kehidupan Barat. Sejak itu, terjadi pemisahan yang ketat antara agama dan bisnis. Alhasil, penafsiran tentang nilai-nilai spiritual pun menjadi hanya melekat pada semangat peribadatan yang sifatnya ritualitas dalam kehidupan beragama semata. Tidak untuk bisnis.

“Selama ini, makna tentang nilai spiritual dibatasi dalam bingkai agama,” tegas Rhenald Kasali, pakar manajemen dari Universitas Indonesia. Alhasil, selama berabad-abad berbagai penafsiran tentang nilai-nilai spiritual pun seolah tidak relevan untuk dijadikan sebagai nilai-nilai penggerak roda bisnis. Padahal, kata Erbe Sentanu, “Spiritualitas tidak bertentangan dengan nilai-nilai bisnis. Bahkan, sangat relevan untuk bisnis.”

Kini, berkat berbagai pelatihan spiritual company semacam ESQ telah banyak kalangan profesional dan pebisnis di Indonesia yang meyakini keampuhan kekuatan nilai-nilai spiritual sebagai faktor keberhasilan bisnis. Hasilnya, jauh berbeda dengan pada masa-masa lalu ketika praktisi bisnis malu menunjukkan kealimannya, kini, para pengusaha dan profesional justru tanpa tedeng aling-aling dalam menunjukkan kekhasan budaya perusahaannya yang religius. Perubahan cara pandang mereka tak sekadar ditandai dengan perubahan sikap nampak yang lebih religius dan taat menjalani perintah-peritah agama sebagai etos invidu. Lebih maju dari itu, para pebisnis dan profesional menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai bagian dari tradisi perusahaannya.

Sudhamek, CEO Tudung Grup yang menaungi Garuda Food, barangkali contoh pengusaha yang lebih fasih berbicara keampuhan penerapan spiritualitas dalam sebuah perusahaan. Pasalnya, selama hampir dua dasa warsa lebih memimpin perusahaannya, Garuda Food, ia telah mengaplikasikan semangat spiritual sebagai seorang pengusaha—ia sendiri seorang penganut Budha yang patuh; di tengah kesibukannya sebagai pemimpin sebuah perusahaan besar, ia senantiasa meluangkan waktunya untuk beribadah di wihara.

Dalam kacamata spiritual company, seperti yang telah dilakukan Sudhamek dan Hiramsyah S. Thaib, nafas spiritual yang dihembuskan kepada jajaran bisnis mereka adalah spirit tentang kebajikan universal. Memang, kebetulan, kedua CEO ini dibesarkan dalam tradisi spiritual keagamaan yang kuat. Sudhamek, dibesarkan di keluarga penganut agama Budha yang terkenal taat. Juga, Hiramsyah, yang besar di keluarga muslim, yang juga terkenal taat. Bahkan, secara sadar, sejak muda Sudhamek sudah memasang ancang-ancang, kelak jika ia memimpin sebuah perusahaan, ia akan menerapkan nilai-nilai spiritual dalam bisnisnya. Sudhamek ingat betul pertanyaan sang ayah, yang hingga kini tak pernah ia lupakan. “Menurut kamu apakah prinsip-prinsip dalam ajaran agama bisa dipakai dalam kehidupan bisnis?” tanya sang Ayah kepada Sudhamek. Sepertinya, jika sekarang Sudhamek melembagakan nilai-nilai spiritual dalam kelompok bisnisnya tampaknya itu merupakan muara dari jawaban atas pertanyaan itu. Kini, dengan percaya diri, Sudhamek bisa berkata, “Hidupkan semangat spiritualitas jika perusahaan ingin tetap langgeng.”

Selain mereka berdua, Benny Tjoeng, Presdir PT Astra Sedaya Finance (Astra Credit Companies – ACC), juga termasuk jajaran elit bisnis yang punya pola fikir serupa dengan Sudhamek dan Hiramsyah Thaib. Sebagai pemeluk Kristen, prinsip Benny sederhana saja. “Saya hanya berusaha untuk menjadi pribadi yang jujur baik di kantor maupun di luar kantor. Saya tidak bisa hidup dalam kemunafikan. Juga, dalam berbisnis,” tegasnya.

Mereka bertiga, hanyalah contoh dari sekian pemimpin perusahaan yang sukses menerjemahkan simbol-simbol spiritual sesuai keyakinan agama mereka ke dalam nilai-nilai kebajikan universal di dunia kerja, yang intinya, tentang ajakan untuk bertindak jujur, sportif, tidak saling menjatuhkan, bertanggung jawab, disiplin, kerja sama, selalu memperbaiki diri, berorientasi ke masa depan, dan seterusnya. Mereka yakin, jika nilai-nilai ini diterapkan dengan serempak muaranya adalah sebuah perusahaan yang bekerja dengan inner power dan energi spiritual, sebagai penggeraknya.

Sudhamek menyebut hal itu sebagai spirituality at work (spiritualitas di tempat kerja), yang secara evolutif dikembangkan sebagai budaya perusahaan. Memang, semua itu harus diawali melalui sebuah keteladanan sang pemimpin, yang tampil sebagai pemimpin yang saleh dan profesional. “Penelitian juga sudah membuktikan bahwa spiritualitas di tempat kerja melahirkan loyalitas dan kreatifitas pegawai,” lanjut Sudhamek.

Logikanya, seperti pernah ditulis oleh Dondhe Ashmos dan Dennis Duchon, keduanya dari University of Texas dalam Journal of Management Inquiry, suatu lingkungan kerja yang orang-orangnya mengalami kegembiraan dan makna dalam pekerjaannya adalah tempat yang menonjolkan nilai-nilai spiritualitas. “Orang-orang dalam komunitas itu menjadi loyal dan kreatif karena merasa dihargai,” tulis keduanya.

Jadi, sangat wajar jika perusahaan-perusahaan semacam GarudaFood, BakrieLand, ACC, dan Ningrat Muda Mandiri, yang telah melembagakan nilai-nilai spiritual ke dalam etos bisnisnya justru semakin bagus kinerjanya. Implikasi ikutannya adalah menggelembungkan keuntungan yang didapat.

***

Teladan Sang Leader

Kisah sukses para pelaku spiritual company tadi memang indah didengar. Tidak salah, jika banyak pengusaha lain juga punya hasrat untuk mengikuti jejak mereka. Tapi, tentu saja, untuk bisa menempuh jejak sukses para CEO seperti Hiramsyah dan Sudhamek itu tidak cukup hanya dengan mengikuti pelatihan ESQ dan sejenisnya.

Di mata Rhenald Kasali, konsep spiritualitas dalam perusahaan hanya akan sukses dikembangkan jika ditopang oleh keteladanan di tingkat elit perusahaan. Terutama orang nomor satu dalam kelompok usaha itu. Jika hanya sekedar ikut tren, Rhenald ragu, mereka akan sukses. Tentang ini, Rhenald mencium fenomena berbondong-bondongnya pelaku bisnis dan profesional mengikuti pelatihan spiritual hanya sebagai bagian dari tren semata. “Banyak pelatihan spiritual yang, karena dibingkai dengan kaos agama, seringkali hanya menjadi fashion, yang bersifat ngepop dan cepat dilupakan,” tegas Rhenald.

Namun, terlepas dari semua itu, bagi para pelaku bisnis, pelatihan-pelatihan semacam itu membuka spektrum cakrawala alternatif bahwa nilai-nilai spiritual bukan elemen yang akan menghambat produktivitas bisnis. Justru, sebaliknya, sepanjang ia dimaknai dengan penafsiran yang progresif, seperti karakter dunia bisnis yang selalu progresif.

Iklan

One comment on “Ketika Panggung Bisnis Semakin Saleh (Bag. 2)

  1. Tambahan referensi bacaan mengenai bagaimana Berbisnis dengan Nilai Spiritual dapat dibaca buku saya “THE WISDOM OF BUSINESS” yang diterbitkan Elex Media Komputindo. Salam Sukses dan Mulia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: