Tinggalkan komentar

Memupuk Konstruksi Hijau

Green di mana-mana. Ada yang bilang “mendadak green”, termasuk salah satunya kelahiran istilah green construction, yang juga tidak terlepas dari isu global warming. Green construction punya istilah lokal konstruksi hijau.

Selama ini, sebenarnya konsep konstruksi hijau sudah mulai diterapkan secara parsial oleh pelaku jasa konstruksi di Indonesia. Penerapan intelligent building system atau sistem bangunan cerdas, misalnya, memiliki prinsip-prinsip dasar yang sama dengan konstruksi hijau, yakni: efisiensi penggunaan energi. Bahkan, sebenarnya nilai-nilai konstruksi hijau sudah mulai lama diterapkan, meskipun belum dilakukan secara massal.


“Pemilihan material bangunan alternatif non-kayu hutan seperti kayu kelapa, bisa tergolong sebagai konstruksi hijau,” ungkap Ketua IAI, Endy Subijono.

Pada prinsipnya, konstruksi hijau merupakan respon dari keresahan warga dunia terhadap percepatan penurunan daya dukung bumi akibat laju eksploitasi yang semakin menggila. Kehidupan warga dunia yang semakin modern ternyata berimbas pada kebutuhan energi yang juga semakin meningkat. Juga, kebutuhan atas berbagai material hasil bumi untuk kebutuhan industri. Akibatnya, cadangan berbagai bahan tambang yang menjadi bahan baku penggerak energi seperti minyak bumi pun semakin menipis. Bahkan, khusus pada sektor konstruksi, kebutuhan terhadap kayu sebagai bahan bangunan dan furniture juga dituding sebagai hulu dari fenomena kerusakan hutan di berbagai pelosok dunia. Kombinasi antara gas emisi hasil buangan pembakaran BBM dan daya dukung vegetasi alam untuk menetralisir polusi udara yang semakin menurun itulah, kemudian, yang memicu munculnya pemanasan global (global warming).

***

Menurut Endi Subijono dan Davy Sukamta, yang ternyata memiliki pandangan serupa tentang konstruksi hijau, makna green atau hijau dalam konteks ini memang bukan semata tentang tampilan fisik yang hijau. Melainkan lebih pada dampak terhadap lingkungan alam dan perbaikan kualitas lingkungan.

“Tidak berhenti pada visi yang kemudian dituangkan dalam sebuah perancangan arsitektur tetapi juga tentang bagaimana metode konstruksi dilaksanakan,” kata Davy Sukamta.

Selain itu, lanjut Endy Subijono, visi untuk memilih, mengusulkan dan menyeleksi material bangunan yang dianggap ‘hijau’ juga menjadi elemen terpenting. “Penggunaan kayu yang minim, pada skala makro akhirnya mengurangi penebangan pohon di hutan. Dan, yang terpenting, dalam perspektif jangka panjang, bagaimana bahan tersebut bisa didaur ulang setelah masa lifetime-nya habis,” tambah Endy.

Tak hanya tentang bangunan, konstruksi hijau juga berlaku bagi proses pembangunan berbagai fasilitas infrastruktur. Jalan, termasuk salah satu di dalamnya. Salah satu penerapan konsep konstruksi hijau dengan menggunakan bahan-bahan material jalan yang dapat diperbarui (renewable). Bahan-bahan itu juga diprioritaskan memiliki bobot lebih ringan sehingga bisa menghemat biaya angkut.

“Namun, yang lebih penting: harus dapat didaur ulang” tegas Dirjen Bina Marga PU Hermanto Dardak.

Tidak hanya dalam konteks pemilihan material, desain kebinamargaan pun mulai menjadikan konstruksi hijau sebagai elemen mutlak. Sebagai bagian dari fasilitas umum, otomatis desain jalan harus mengalokasikan 30% alokasi ruang yang tersedia untuk ruang terbuka hijau (RTH), yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri jalan. Jika saat ini masih terdapat kasus jalan rusak, hal itu karena ruas jalan tersebut tidak didesain dengan mempertimbangkan dua aspek penting seperti ketersediaan saluran drainase dan ruang terbuka hijau.

Sebagai catatan, saat ini telah ditemukan jenis rumput vetiver, yang memiliki reputasi sebagai rumput penahan erosi. Rumput jenis ini memiliki akar yang bisa masuk hingga kedalaman 2 – 3 meter dengan batang mampu mencapai tinggi 4 meter. Kualifikasi anatomi semacam itulah, kemudian, yang menjadikan rumput ini mampu mengikat tanah.

Inovasi daur ulang puing-puing bangunan pun termasuk dalam konteks konstruksi hijau. Betapa tidak, puing-puing itu sejatinya bisa diolah kembali sebagai bahan bangunan struktur ringan. Inovasi lain, usaha untuk mengurangi kebutuhan semen dan agregat bisa dilakukan dengan cara memasyarakatkan penggunaan sekam padi dan abu sekam padi dalam pembuatan bata beton berlubang.

Tidak kalah penting, desain konstruksi hijau juga berperan penting menekan penggunaan energi, yang bersumber dari energi tak terbarukan, seperti minyak bumi—termasuk di dalamnya energi listrik, yang di negeri ini masih mengandalkan solar sebagai salah satu bahan bakar pemutar turbin.

Tentang ini, urban desainer Ridwan Kamil mengaku geram dengan para pengelola kota yang miskin inovasi. Betapa tidak, sebagai warga Bandung, ia mencatat hampir 60% lampu penerangan jalan di Bandung mati. Dari sekitar 7.000 lampu penerangan jalan, 4.000 di antaranya mati. Salah satu dalih Pemkot Bandung, “untuk penghematan penggunaan listrik PLN”.

“Jika ingin menghemat mengapa tidak membuat desain lampu penerangan jalan yang tidak memerlukan pasokan listrik dari PLN?” tanya Ridwan Kamil, retoris. Ia pun mengusulkan sebuah konsep sederhana tentang desain lampu penerangan jalan bertenaga surya. “Pada siang hari, tiang-tiang lampu itu memanen sinar matahari, yang akan digunakan pada malam hari,” jelas Emil, begitu Ridwan Kamil akrab disapa. “Memang, biaya investasi awal untuk itu relatif mahal. Tapi, jika dihitung dalam kurun waktu jangka panjang tetap lebih murah; tetap lebih efisien,” lanjutnya.

***

Keengganan para pelaku jasa konstruksi untuk menerapkan desain konstruksi hijau memang masih terganjal oleh imej bahwa konstruksi hijau cenderung membuat biaya pembangunan menjadi lebih mahal. Davy Sukamta, misalnya, menghitung bahwa penerapan konstruksi hijau cenderung lebih mahal 30%-40% pada tahap investasi awal. Kecenderungan itu, ternyata disebabkan oleh harga bahan-bahan material ramah lingkungan dan ramah energi yang memang relatif mahal. Ilustrasinya begini: mana lebih mahal harga beli AC biasa dan AC hemat energi? Tentu lebih mahal, yang belakangan disebut.

Oleh karena itu, agar desain konstruksi hijau menarik secara ekonomis dari sudut pandang bisnis, Davy Sukamta meminta Pemerintah untuk membuat sebuah kebijakan berupa pemberian insentif berupa keringanan biaya masuk barang-barang impor yang berdimensi konstruksi hijau. Juga, bagi proses produksi barang-barang konstruksi hijau yang diproduksi di dalam negeri. Jika itu dilakukan, Davy yakin harga bahan-bahan material konstruksi hijau akan turun.

“Tanpa intervensi aktif semacam itu, rasanya sulit untuk berharap green construction bisa sukses,” simpul prinsipal sebuah perusahaan konsultan desain struktur bangunan ini. “Namanya juga pengusaha, mana mau idealis-idealisan jika justru merugikan diri sendiri,” kata Davy.

Agak berseberangan dengan Davy, seorang praktisi jasa konstruksi dari PT. Pembangunan Perumahan justru menilai bahwa saat ini para pengguna jasa mereka justru sudah mulai cenderung menginginkan bangunan gedung berkonsep hijau (green building), yang dibangun dengan atur cara konstruksi hijau. Muharmein sadar bahwa penerapan konstruksi hijau yang relatif mahal memang selalu menjadi alasan untuk tidak mengadopsi konsep ini.

“Tidak semua swasta bersikap semacam itu. Buktinya, banyak juga klien kami yang justru menghendaki gedung mereka dibangun dengan konsep developing with sustainable,” ungkap Deputi Kepala Cabang Wilayah III PT. Pembangunan Perumahan ini.

Karena itu, ketika PT. PP mendeklarasikan diri sebagai green contractor, ada tren positif berupa peningkatan laba dan jumlah proyek yang dikerjakan.

Fenomena tren positif yang dialami PP itu mungkin tidak general. Seperti diakui Muharmein, klien-klien PP yang meminta didesainkan bangunan berkonsep hijau itu memang mem-plot gedung-gedung itu sebagai bakal ruang perkantoran perusahaan-perusahaan asing.

Menurut Endy Subijono dari IAI, saat ini sebagian perusahaan asing multinasional memang mensyaratkan sebuah aturan baru, yang isinya menghendaki kantor-kantor cabang mereka di seluruh dunia berkantor pada gedung-gedung bersertifikat green. “Itu sebabnya, saat ini gedung-gedung baru yang sedang dan akan dibangun didesain dengan pendekatan desain hijau (green design),” lanjut Endy

***

Tidak mudah, memang, membawa konsep konstruksi hijau dari aras wacana ke aras implementasi. Jika pun ada yang pesimis, itu wajar. Hak orang untuk pesimis. Tapi, lebih baik menyuarakan optimisme, bukan?

(by: sofwan ardyanto, untuk Majalah KIPRAH)

Baca juga:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: