14 Komentar

Profil Rektor ITI: Isnuwardianto

Dr. Ir. Isnuwardianto

  • Rektor Institut Teknologi Indonesia
  • Komisaris PT. PLN

Cantrik Ganesha Berspirit Pramuka

Belasan tahun lalu, saya pernah kuliah di Institut Teknologi Indonesia (ITI), jurusan Planologi (kini Perencanaan Wilayah dan Kota).  Selama menjadi mahasiswa, saya sempat mengalami beberapa Rektor.

Beberapa bulan lalu,  sebuah kesempatan menghantarkan saya untuk menulis profil singkat Dr. Ir. Isnuwardianto, alumni ITB78 yang kebetulan menjabat sebagai Rektor ITI, almamater saya. Sungguh, sebuah kehormatan.

Berikut ini profil Pak Isnu–demikian ia akrab disapa–yang saya rangkum dari sebuah bincang-bincang hampir sekitar 2 jam. Semoga bermanfaat.

isnuwardianto-02-copy

Sebagai seorang teknokrat, Dr. Ir. Isnuwardianto ketiban tugas lumayan berat ketika harus membenahi Institut Teknologi Indonesia. Kondisi institut swasta yang pernah jaya di era akhir 1980-an sampai pertengahan 1990-an ini memang sempat melesu.

Prof. BJ. Habibie, sebagai sosok penting yang ikut membidani kelahiran institut ini, pun meminta Isnuwardianto untuk membenahinya. Isnu pun bergerak. Dengan gaya khasnya yang low profile tapi efektif dalam bekerja. Isnu mulai membenahi ITI. Sebuah gedung baru pun berdiri. Gedung bernama Gedung Ahmad Bakrie itu merupakan buah sinergi antara Isnu dan keluarga Bakrie. Isnu, begitu ia disapa banyak orang, terbilang memiliki lobinya yang cukup bagus dengan keluarga Bakrie. ***

Kampus ITB, dengan segala atribut kebesarannya, sebagai lembaga pendidikan bergengsi karena usianya, karena dedikasinya yang tinggi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, karena tradisi egaliter dalam kehidupan sosialnya, atau lantaran reputasi kampus ini sebagai rahim bagi orang-orang sukses, selalu membangkitkan minat orang, khususnya anak-anak lulusan SMA, untuk belajar di sana. Isnuwardianto, yang pada 1977 baru lepas dari SMA N III Malang, adalah salah satu dari puluhan anak muda yang bermimpi bisa masuk ke kampus ITB. Karena Isnu memang anak pintar, Ia pun diterima sebagai mahasiswa di sana. Namun, apa penilaian Isnu selanjutnya tentang perguruan tinggi yang dikenal sebagai Kampus Ganesha itu?

“Bagi saya, ITB merupakan bagian dari proses yang ikut membentuk diri saya tapi bukan satu-satunya. ITB hanyalah suatu kelanjutan,” aku Isnu.

Begitukah? Demikian Isnu bila berujar: kalem dan bersahaja. Adakah hal berharga yang Isnu dapatkan sebelum masuk ITB? Pramuka! Siapa bilang gerakan Pramuka hanyalah sebuah perkumpulan yang ecek-ecek atau wadah yang kegiatannya hanya bersorak, bernyanyi dan atau tali-temali? Pandangan seperti itu jelas tidak terdapat pada sosok Isnuwardianto, yang mengaku mencintai Pramuka sejak masih duduk di bangku kelas II SD.

Pria kelahiran Malang 13 September 1958 ini merasa bahwa karakter pribadinya banyak dipengaruhi atau terbentuk pada saat ia menjadi aktivis gerakan kepanduan dan dan organisasi kesiswaan hingga ia menamatkan SMA pada 1977. Nilai-nilai yang diusung gerakan pramuka, bagi suami Arlisa Wulandari ini, selamanya relevan karena seorang pandu terlatih untuk menghayati nilai-nilai solideritas, religiusitas, kejujuran, sportivitas, kedisiplinan, mendahulukan kepentingan umum, dan seterusnya. Dan, seorang anggota Pramuka biasanya berpenampilan kalem, bersahaja. Sikap ini terpancar ketika Isnu diminta banyak pihak, bahkan termasuk mantan presiden Habibie, untuk memimpin Institut Teknologi Indonesia (ITI).

Kalem, Tapi Suka Usil Namun, kebersahajaannya tak membuat Isnu sungkan tampil ke muka. Bahkan, Isnu adalah orang yang suka melakukan inisiasi-inisiasi yang inovatif, persis seperti yang ia lakukan saat masih kecil yang suka mengotak-atik benda-benda di sekitarnya seperti sepeda dan radio, hingga bikin petasan sendiri. Di mana pun, ia selalu menelorkan ide-ide baru yang menyegarkan. Sehingga, institusi atau organisasi tempat ia mengabdikan diri kian terasa dinamikanya. Sesekali, cetusan-cetusannya dinilai orang sebagai hal “neko-neko”.

Betapa tidak. Pada saat ia menjabat sebagai Pembantu Rektor III ITB, misalnya, Isnu menggagas suatu kegiatan bertajuk “Sumpah Pemuda II”. Ide yang terkemas dalam Indonesia Bersatu ini diadakan untuk mempersegar semangat Sumpah Pemuda 1928 di saat bangsa Indonesia tengah “menangis”, jatuh dan dilanda krisis. Juga, ketika Isnu membidani pembentukan CDC (Career Development Center) di ITB, yang kemudian berkembang dan diadopsi oleh DIKTI dengan nama Program FKK (Forum Komunikasi dan Konsultasi). Program itu hingga kini menjadi pilot project nasional. Sukses penyelenggaraan pergelaran bernuansakan kebangsaan itu membuat banyak kalangan mulai melirik Isnu. Nah itu dia. Benarkah itu adalah cara ia berhitung di arena politik?

Eit, tidak bisa buru-buru disimpulkan begitu. Ia tak memungkiri ketertarikannya kepada dunia politik, memang. Bahkan, ia sejak dulu ingin aktif di politik. Dalam konteks politik kampus, ia berlaga di ajang kampenye untuk menduduki Senator Hanya saja, berbeda dengan animo orang masuk ke partai politik untuk bisa mencapai target-target ekonomis. Isnu tak ingin berpolitik sebagai mata pencaharian. Dari berbagai segi, ia sebenarnya memenuhi syarat. Lantas kenapa tidak ia wujudkan?

“Biar keadaan yang meminta saya. Saya tidak akan melamar. Jika dilamar, saya oke. Dulu, sangat ingin berpolitik,” jawab Isnu kalem.

“Jabatan, bukan sesuatu yang saya kejar. Semakin lama, saya semakin merasakan hal itu. Dari pengalaman, ternyata, kepuasan itu lahir jika kita bisa memberikan banyak manfaat bagi orang banyak. Saya sudah banyak berubah dari sisi kepuasan,” aku Isnu.

Pengakuan Isnu tentang Pramuka di atas tidak mengada-ada. Penuturannya setulus ia menyebutkan manfaat apa yang ia rasakan selama kuliah di ITB. Itulah cara di dalam melihat persoalan. Kalem, bersahaja, namun mengena substansinya. Sebagai mahasiswa baru, ia adalah bekas anak SMA yang tergolong berani.

Jiwa kepanduan yang melekat di dadanya, lagi-lagi, adalah modal dari ketakminderannya. Itulah mengapa, ia termasuk dari sedikit orang, jika bukan satu-satunya mahasiswa, yang tak gentar menolak dibotakin pada saat Orientasi Studi (OS), yang pada zaman itu dikenal keras.

Cerita itu berawal dari salah satu rekan seangkatan telah melakukan aksi botak kepala. Kenyataan ini dimafaatkan para senior untuk menggunduli semua mahasiswa baru. Padahal, sebenarnya tidak ada aturan yang menyebut mahasiswa baru harus gundul.

“Konyol, perintah kok, ‘yang belum gundul harus gundul seperti teman kami yang sudah gundul, atau yang gundul harus tumbuh seperti yang lain, dengan alasan persamaan.’ Sewaktu rambut saya mau digunting, saya tangkis hingga beberapa kali,” kisah Isnu mengenang. Karena keberaniannya itu, Isnu dibawa ke pos panitia OS.

“Akhirnya, saya tidak digundul. Memang, saya sempat was-was. Tapi, ketika itu saya yakin bahwa ITB tempat orang-orang intelek, sehingga mereka pasti mengerti alasan saya melawan,” lanjut Isnu.

Isnu adalah alumni doktor di di Ecole Centrale de Lyon, Perancis, 1991, dengan status kelulusan “Tres Honorable”. Seabrek jabatan telah ia jalani dengan hasil kerja yang selalu mengagumkan. Ya, karena itu tadi, ia tak bisa duduk tenang. Ia adalah penggerak bagi intsitusi dan orang-orang di sekitarnya. Di usia yang semakin matang, penghayatan hidup Isnu mencapai titik seimbang, yakni ketika ia tak lagi disetir oleh ambisi-ambisi duniawi. ***

(sofwan ardyanto, untuk Buku Alumni ITB)

Iklan

14 comments on “Profil Rektor ITI: Isnuwardianto

  1. bagi yang belum punya gelar akademis (termasuk saya), jangan kecil hati…pengabdian atau pionir lebih butuh action, empati, dan kepekaan nurani…idealnya, ilmu untuk beraksi, dengan ilmu saling berempati, kerahkan ilmu untuk mengasah kepekaan nurani. (halah, kaya iya-iyao..)

  2. Salam buat pak Isnu. Beliau salah satu sumber inspirasi saya saat kuliah di ITB dulu. Seingat saya, saat mulai bergaungnya gema reformasi 98, beliau menjadi Wakil Rektor bidang kemahasiswaan. Tugas yang berat tentu saja.

    Dengan pengalaman seabrek, mudah-mudahan beliau bisa membawa ITI menjadi perguruan tinggi yang disegani dan membuat para MWA ITB menyesal tidak memilih beliau saat pemilihan rektor yang lalu hehehe….
    **********

    kalipaksi:
    Insya Allah, salam saya sampaikan. Ttg beliau menjadi Rektor ITB, kan masih ada kesempatan, Pak. Beliau kan juga masih relatif muda. Semoga!

  3. Asslamualaikum Wr.Wb.
    “semoga bapak dapat lebih memajukan ITI dan menjadikan ITI menjadi kampus teknik yang tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat!selamat berjuang…..

    wassalam

  4. hem, ane angkatan ITI info 2008 nih.
    yah, salam aja ntuk alumni ama senior deh.
    masih ada tuh kebiasaan senior ngebotakin junior nya.
    hehe, tapi ane nggak setuju, ampe nggak ikut sama sekali kegiatan himpunan.
    yah, belajar nya lebih banyak sendiri.
    kwkwkwk, klu diluar kita lebih maju
    gx ada salah nya toh.

  5. Wahhh…
    Saya salut dengan riwayat pak rektor.
    Tapi apa bapak sadar banyak masalah yang ada di mahasiswa sekarang dengan antek-antek bapak yang tidak wajar.
    Dari masalah penyimpangan dana, birokrasi, fasilitas dan lain-lain.
    Tolong benahi lagi pak,
    dan tolong dengar suara dari para mahasiswa.
    Kita itu mahasiswa teknik yang dilatih untuk kritis jika adanya keganjilan dan menyangkut hak-hak kita.

    Buat anak info 08:
    gimana mau sukses diluar,
    didalam aja lo gak tau kan.
    Jangan egois sendiri,
    klo menolak kan bisa pakai komunikasi yang baik,
    lo tu mahasiswa teknik bukan sastra…

  6. Jayalah ITI-ku, majulah Bangsaku..!

  7. ternyata rektorku gak bisa berorganisasi tapi bisa jadi gak pernah berorganisasi juga jadi prihatin sama kampus tercinta ITI dipimpin sama orang yang gak bisa berorganisasi dan gak peduli sama organisasi

  8. Ingat perkataan itu harus sesuai dengan perbuatan.

  9. kami sebagai mahasiswa di ITI ingin mengingkan fasilitas yang cukup dengan sarana yang baik,yang kami ingin itu seperti fasilitas yang memadai tidak hanya masalah pembayaran yang di naikkan seperti pembayaran upp tapi dengan fasilitas yang tidak baik. kami pun ingin meng’inginkan yang setara dengan pembayaran kami selama ini, contoh kecilnya saja seperti toilet yang sudah rusak tetapi tidak ada renovasinya, sedangkan pembayaran kami selama ini, mungkin mampu lah untuk merenovasi nya,atau membuat bangunan yang belum ada. atau menambahkan fasilitas-fasilitasnya, yang belum tersedia. jangan janji tapi bukti,bukan janji yang berkata tapi bukti yang menyatakannya .

  10. Bagaimana ini dengan fasilitas kami yang kurang memadai . .seperti , lab,, parkiran . .gedung baru yg anda janjikan setiap tahunnya. . . . kami menuntut anda wahai rektor ITI.. .. .jangan mengurusi urusan kami. . urusi saja urusan kampus ITI. . . salam metal. . \D/ .

  11. ni yang nulis harusnya survei jga,tanya mahasiswa iti bener enggk tuh berita profilnya..?

  12. Rektor kita sebentar lagi masa jabatannya di ITI akan habis.
    Di akhir karirnya ini dia harusnya berbuat yang terbaik untuk ITI.
    Sekedar info ajah, sekarang Prodi d3 mekatrronika telah dibekukan
    oleh Rektor kita pak. Isnu secera sepihak skitar 2 minggu lalu.
    Nasib sekitar 30 lebih mahasiswa mekatronika dikorbankan. Masa depan mekatronika
    di ambang kehancuran. Sementara mekatronika sedang gencarnya
    mengembangkan sayap, kegiatan mahasiswa semakin aktif dan bermacam-macam.
    Sebentar lagi kami atas nama Himunan mahasiswa Mekatronika akan mengikuti lomba
    Robot di Surabaya.
    Dengan pembekuan ini semua usaha itu sia-sia. Di sisi lain kebutuhan industri
    tentang tenaga kerja Mekatronika sangat tinggi. D3 Mekatronika ITI
    merupakan aset berharga yang harus di selamatkan. Apakah Rektor memepunyai
    niat untuk memepertahkan kan aset ini, atau menghancurkannya.
    Itu sudah terjawab dari pembekuan tsb.

    Wassalam…

  13. tentang mekatronika saya rasa bisa lanjut kalau disingkirkan dulu itu Trio Kwek2….

    saya setuju dengan masukan ttg toilet yang memang overall quite miserable. tapi ttg renovasi dan operasional toilet (misal mau menyewa jasa cleaning service yg ok kaya di JIS) apakah tdk mempertimbangkan mahasiswa2 ITI yg joroknya kaya makanan asterix….

    atau ntar malahan kalau pakai cleaning service yg ok kaya di JIS malah kalian mahasiswa ITI yang disodomi…gimana hayo….

  14. gak ada kemajuan dan gak berkembang , sepertinya semua harus di ganti !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: