4 Komentar

Orang Partai yang Bukan Politisi

Prof. Dr. Ir. Marsudi W. Kisworo

  • Pembantu Rektor/ Pro Rector Swiss German University Asia
  • Direktur Eksekutif DPP Partai Amanat Nasional
  • Trainer/Motivator

marsudi-kisworo-02

Reputasi akademik Marsudi Kisworo sudah teruji sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Konon, ketika itu, ia adalah pelajar terpandai di kotanya. Reputasi itu berlanjut hingga di Institut Teknologi Bandung. Selama kuliah, ia hanya meraih satu C, selebihnya A dan B.

Di kalangan ITB angkatan 78, Marsudi tampil sebagai orang pertama yang meraih gelar Profesor, bahkan profesor bidang Information Technology (IT) pertama di Indonesia (tahun 2002). Sebagai akademisi, Marsudi terlibat dalam pendirian Universitas Paramadina. Ia juga terlibat dalam penyusunan dasar-dasar kurikulum akademik STMIK (kini Universitas) Bina Nusantara (Binus). Ternyata, Marsudi sudah bercita-cita menjadi Profesor sejak ia masih duduk di bangku SMP. Seperti apa kisahnya? ***

Menjadi ahli elektronika dan seorang profesor sudah menjadi impian Marsudi kecil sejak masih bersekolah di Ponorogo. Begitu juga, ketika ia meski meneruskan jenjang SMA-nya di Madiun. “Ketika itu saya sudah berlangganan majalah Elektron terbitan ITB,” kenang suami dari Taty Adiyanty ini. Sejak kecil, ia sudah hobi elektronika. Marsudi sudah bisa merakit radio dan menjadi anggota ORARI sejak SD. Bahkan, ia sudah bisa merakit pemancar ketika masih duduk di bangku SMP sudah bisa membuat pemancar. Dari Majalah “Elektron” langganannya itu, Marsudi banyak membaca berbagai artikel tentang elektronika yang bagi anak seusianya terasa sangat canggih. Juga, profil dosen-dosennya yang bergelar Profesor dan Doktor.

“Bayangan itu membuat saya membayangkan ITB itu tempat bersemayamnya para dewa elektro. Saya kagum sekali waktu itu,” kenang ayah tiga orang anak ini.

Terobsesi dengan elektronika, ITB, dan deretan gelar para akademisi ITB yang ia baca di majalah itu, Marsudi pun termotivasi.

“Kelak, saya ingin bergelar profesor doktor juga,” kenangnya.

Begitu tinggi motivasi itu, membuat ia menulisi cover buku-buku catatan pelajarannya dengan: Prof. Dr. Ir. Marsudi W. Kisworo. Bayangkan, padahal ketika itu ia masih menjadi pelajar tingkat SMP. ***

Rupanya, impian Marsudi terwujud. Diawali dengan masuk Teknik Elektro ITB. “Sejak awal, determinasi saya memang masuk Elektro,” ungkap pria kelahiran Kediri, 29 Oktober 1958 silam, yang terkenal jika sudah punya keinginan atau cita-cita maka apapun akan dilakukan untuk menggapainya. Tahun 1984, Marsudi menjadi seorang sarjana Teknik Elektro dan berhak menyandang gelar insinyur. Tahap pertama dari road to be the professor-nya tercapai. Ada kisah unik di balik peraihan gelar akademik pertamanya ini. Ketika Marsudi sudah menyelesaikan sidang skripsinya, dan lulus dengan nilai A, ternyata ada satu mata kuliah yang belum lulus, yakni mata kuliah Sistem Engineering.

“Itulah satu-satunya mata kuliah yang tidak lulus karena pada saat ujian, saya harus pergi ke luar negeri,” kenangnya.

Ke luar negeri? Ya, begitulah, dua tahun terakhir sebelum lulus dari ITB, Marsudi sudah mulai nyambi kerja di Jakarta, yakni di PT. Elnusa Jakarta. Senin sampai Rabu Marsudi berada di Jakarta, sedangkan Jumat dan Sabtu ia fokus kuliah di Bandung. Sejak itu, jadwal kuliahnya mulai agak kacau. Beruntung, Marsudi memiliki dua sahabat yang senantiasa membantu. Mereka itu, Eko Kuswardono, sekarang Doktor dan dosen di UI, dan Kenny Lubis, yang kini menjadi seorang pengusaha.“Merekalah yang sering mengisikan absen dan kuis untuk saya,” kenang Marsudi, yang semasa mahasiswa bergiat di Student English Forum (SEF) ITB ini. Meski sering tidak ikut kuliah, Marsudi selalu datang di saat-saat ujian. Uniknya, nilai-nilainya tetap bagus, kecuali Sistem Engineering. Untuk mata kuliah yang satu ini, Marsudi dihadiahi nilai “F”. Ia diganjar nilai “F” karena pada saat ujian ia lebih memilih ke Amerika daripada datang ke Bandung untuk ikut ujian. Ketika itu, Marsudi ke Amerika untuk mengikuti training atas fasilitas PT. Elnusa, perusahaan tempatnya nyambi bekerja.

Tentu saja, ini menjadi persoalan. Sudah dinyatakan lulus ujian tingkat akhir, tapi masih berhutang satu mata kuliah yang belum lulus. Akhirnya, Marsudi menghadap Prof. Sudjana Sapiie, yang menjadi dosen mata kuliah ini. Ia pun diberi kesempatan ujian khusus berupa sebuah ujian lisan. Ternyata, dalam ujian lisan itu Marsudi diberondong pertanyaan-pertanyaan yang bersifat filosofis. “Saya ditanya, saudara tau apa arti deret Fourrier?” kenang Marsudi, yang gemar membaca kisah Winnetou ini. Ia pun menjawab secara detail konsep formulasi deret itu.

Tapi, Prof. Sudjana langsung potong: “salah !” Insinyur sekarang ini bisanya hanya menghitung, tapi makna sesungguhnya tidak tahu,” kata Prof. Sudjana kepada Marsudi ketika itu. Akhirnya?

“Begini saja, saudara saya kasih lulus C, dan ingatlah seumur hidup, bahwa saudara menjadi insinyur karena saya beri nilai C ini,” kata Prof. Sudjana ketika itu.

“ Hahahahaha, saya selalu tertawa jika mengenang peristiwa ini,” kata Marsudi seraya tertawa.

Marsudi meraih gelar master dari program Post Graduate Diploma bidang Computer Science pada Curtin University of Technology, Perth, Australia. Gelar Ph.D (doktoral) pun diraih dari universitas yang sama, juga di bidang yang sama, yakni: Computer Science pada tahun 1993.

Tahun 2002, ketika menjabat sebagai Deputi Rektor Universitas Paramadina, Marsudi diangkat sebagai Guru Besar sekaligus menyandang gelar Profesor. Dengan anugerah itu, Marsudi Kisworo menjadi Guru Besar atau profesor pertama bidang IT di Indonesia. ***

marsudi-kisworo-copy

Kini, Marsudi juga tercatat sebagai Direktur Eksekutif DPP PAN. “Ini bukan jabatan politis, ini jabatan profesional di sebuah partai modern. Saya tidak dipilih lewat kongres, tapi direkrut lewat jalur profesional karena kemampuan manajerial. Pakemnya berbeda,” jelas Marsudi. Dengan jabatannya, yang merupakan jabatan puncak di kelompok profesional di lingkungan Partai Amanat Nasional itu, Marsudi menggerakkan fungsi-fungsi manajemen administratif partai. Selain itu, sebagai seorang trainer dan motivator, ia juga telah memberikan pelatihan Spiritual Motivation bagi kader-kader PAN di lebih dari 200 kota/kabupaten.

“Saya ingin mengubah karakter politisi-politisi partaidi daerah agar menjadi politisi yang lebih bermoral,” jelasnya.

Hingga saat ini, Marsudi belum berminat pindah ke jalur politik karena secara psikologis ia belum memiliki karakter politisi. Apa alasan Marsudi?

“Iklim politik di Indonesia membuat para politisinya seringkali berkompromi dengan hal-hal yang tidak pas menurut jiwa saya. Saya tidak bisa seperti itu. Sebagai akademisi saya terlatih untuk menyatakan apa adanya,” jelas Marsudi.

Namun, uniknya, meski belum tertarik pindah ke jalur politik, Marsudi justru menitip pesan untuk para sejawatnya sesama alumni ITB78. Berikut titipan pesan Marsudi:

“Teman-temanku yang baik dan pintar-pintar, masuklah ke partai. Partai apa saja. Setelah masuk partai, kuasai Senayan, kuasai kabinet dan bangun negara ini. Jika orang-orang pintar seperti kalian tidak ada yang mau di partai maka partai akan diisi oleh orang-orang busuk. Jika orang-orang partainya busuk maka anggota dewannya juga busuk, undang-undangnya kacau-balau, akhirnya rakyat pula yang menderita.”

Lho? …

(by: sofwan ardyanto, untuk Buku Alumni ITB78)

tentang pertemuan saya dengan Prof. Marsudi Kisworo, silahkan baca di sini:  Yang Merasa Baik dan Pintar, Masuklah ke Partai

Iklan

4 comments on “Orang Partai yang Bukan Politisi

  1. saya tidak merasa baik atau pun pintar;
    jadi, aku tak perlu masuk partai, ‘kan?

  2. Tanpa negarawan partai polotik akan menjadi alat menista, mencerca, menipu, merampok, harta negara dan rakyat dan ini bisa kita lihat dari UU Pemilu yang memberilan hak recall tanpa disertai argumentasi hukum alias suka atau tidaknya pimpinan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: