3 Komentar

Menulis Biografi Menafsir Hidup

Biografi sesungguhnya adalah ikhtiar untuk menafsirkan sebuah kehidupan

Siang ini, saya mencoba mengirimkan anggaran biaya penulisan biografi kepada cucu salah satu aktor S. Bono (orang tua dari aktris Rini S Bono). Dalam budget biaya itu, saya lampirkan sebuah note: saya siap tidak dibayar jika biografi ini minus sponsor.

Mengapa saya mau tidak dibayar?

Ada dua alasan mengapa saya mau tidak dibayar, jika kelak proyek penulisan biografi aktor yang pernah main di 55 film ini jadi dilaksanakan.

Pertama, sebagai seorang jurnalis-penulis, saya belum pernah sekalipun menggarap proyek penulisan biografi. Sebagai seorang copywriter, saya telah menulis beberapa buku–yang sebagian besar bertemakan tentang: infrastruktur dan penataan ruang. Saya juga pernah berperan sebagai ghoswriter bagi seorang politikus nasional di negeri ini. Tapi, saya belum pernah menulis biografi.

Kedua, aktor S. Bono adalah salah satu aktor terkemuka di negeri ini pada era 1960-an hingga 1980-an. Sungguh, sebuah kehormatan jika kemudian saya diberi kepercayaan menuliskan biografi beliau.

biografi

Pemahaman Saya tentang Biografi

Berikut ini adalah beberapa pemahaman tentang biografi, yang saya kutip dari sebuah situs Ruang Baca Tempo, terbitan sekitar setahun atau dua tahun lalu.

Biografi menurut Lytton Stachey:

Peletak standar penulisan biografi modern, Lytton Strachey—seorang penulis dan kritikus dari Inggris—berpendapat bahwa biografi adalah penafsiran terhadap sebuah kehidupan, dan blak-blakan adalah syarat utamanya. Ia mengibaratkan penulis biografi sebagai seseorang yang mengayuh perahu di lautan fakta yang maha luas dan mencemplungkan ember kecil untuk menciduk satu contoh kehidupan, lalu mengulitinya habis-habisan.

Biografi adalah “yang paling pelik dan manusiawi dari semua cabang seni menulis”, sesuatu yang sangat relevan dalam hidup kita. Biografi, jika disajikan dalam format sebagaimana yang dibayangkan Strachey, sangat berpotensi memperkaya pemahaman dan pengalaman pembacanya terhadap kondisi kemanusiaan—dengan memasuki kehidupan seseorang, juga masa, ruang, dan mungkin budaya yang berbeda.

Biografi menurut Leon Edel:

Leon Edel, pendiri jurnal Biography mengumpamakan pekerjaan menulis biografi seperti mencari “figur di bawah karpet”, pola yang terpapar di sisi tersembunyinya kehidupan. Kata pemenang Pulitzer Price pada tahun 1963 ini, “Biografi terlihat tak relevan jika ia tak menemukan tumpang tindih antara apa yang dilakukan oleh seseorang dan kehidupan, yang menjadikan hal itu mungkin. Tanpa menemukan itu, Anda hanya punya kejadian-kejadian tanpa bentuk dan gosip”.

Mengingat kehidupan adalah topik eksplorasi yang selalu menarik, karena bisa berkaitan dengan diri siapa saja, maka menulis biografi sejatinya juga merupakan sebuah tantangan yang penuh eksotisme. Format biografi, yakni narasi, sebuah cerita, bukan hanya mudah dicerna oleh siapa saja tapi juga serasi dengan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari: kita menghimpun informasi, mengkajinya, menapis sebab dan akibat, mengkonstruksi penjelasan dan makna, lalu mengekspresikannya dalam bahasa sehari-hari.

Semua itu menjadikan biografi semacam tempat pertemuan yang memungkinkan timbulnya dialog dan perenungan. Oleh karena itu, penulis biografi sering dipuji karena pergerakannya yang melampaui khalayak awam, yang menguji atmosfer, mendeteksi kesalahan, ketidaknyataan dan konvensi yang usang.

Pada akhirnya, biografi bisa menjadi cahaya di masa kegelapan; sebab biografi merupakan contoh wajah kehidupan yang terbukti bisa dan pernah menerangi dunia, atau sebaliknya membuat redup cahaya dunia. Biografi dan Sastra Biografi seharusnya indah seperti sebuah novel. Tidak sedikit biografi yang ditulis secara terselubung dalam kedok sebuah novel. Tapi, memang sejatinya, biografi harus punya alur yang menarik seperti halnya sebuah novel.

Biografi memang seperti sejarah yang sedang berjalan. Lantaran itulah, tidak sedikit para penulisnya menemui kesukaran untuk menangkap esensi kehidupan obyek yang ia tulis. Tidak sedikit dari mereka, yang kemudian terjebak menulis tentang semua hal tentang obyek yang ditulisnya ketimbang menulis tentang sari kehidupan itu sendiri. Terlebih, menulis biografi tak ubahnya menghidupkan kembali kehidupan seseorang yang sudah lewat, yang sejatinya suatu hal yang mustahil. Lantaran itulah, harus ada bagian-bagian yang menarik dan menghibur pada biografi selayaknya ditonjolkan agar menjadi lebih bernafas, seperti halnya sebuah novel. Jika sebuah novel dibuat untuk dinikmati dan direguk keuntungannya, mengapa tidak begitu pula halnya dengan biografi? Biografi terletak di antara sejarah dan sastra. Oleh karena itu, sah-sah juga jika ada yang menulis “roman biografis”, yang isinya semacam novel juga, atau “roman memoar”.

Namun yang jelas, apapun bentuknya, biografi juga merupakan bahan baku sejarah yang punya kedudukan penting dalam penyusunan sejarah yang jujur. Bahkan, ada yang berpendapat biografi merupakan salah satu corak penulisan sejarah. Kejujuran menjadi kata kunci dari sebuah biografi yang baik dan bermutu. Oleh karena itu, tokoh yang ditulis kisahnya harus memberikan kesaksian yang jujur dan subyektif.

Antara Biografi, Otobiografi dan Memoar

Terdapat perbedaan antara biografi (ditulis orang lain), otobiografi dan memoar. Memoar hanya memuat sepotong kehidupan tokoh atau tonggak peristiwa yang dianggapnya penting. Namun, perbedaan itu tidak terlalu tegas, terutama di Indonesia. Biografi ditulis bukan agar dapat menilai, melainkan memahami pikiran dan tindakan tokohnya, yang notabene adalah seorang pelaku sejarah. Ia harus ditulis untuk menguraikan jalan hidup tokohnya secara apa adanya, bukan sebagaimana masyarakat ingin melihatnya.

Selain itu, biografi juga bisa ditujukan untuk memberi baju “baru” kepada tokohnya, dengan simbol yang ingin diperteguh masyarakat untuk menjadikannya sebagai contoh. Atau, kadang-kadang personifikasi dari simbol itu sendiri. Apa peran sesungguhnya dari sang tokoh dalam sejarah? Apakah ia menentukan jalannya sejarah, atau ia tak lebih dari figur yang kebetulan berada dalam kedudukan strategis.

Oleh karena itu, jangan sampai si penulis biografi “memberi baju baru” yang tidak pas, misalnya terlalu “kebesaran” atau sebaliknya “kekecilan” bagi tokoh yang dituliskan kisah hidupnya.

Iklan

3 comments on “Menulis Biografi Menafsir Hidup

  1. Assalaamu alaikum,
    mas yth,
    benar2 mohon maaf sebelumnya,saya lagi mau dimintai tolong seorang
    tokoh masyarakat untuk menuliskan biographynya…
    Apa boleh minta tolong, berapa sih biaya atau fee untuk menulis seperti itu?
    Sebelumnya sekali lagi minta maaf dan sebelumnya terima kasih sekali.
    Salam hormat,
    Mohammad Slamet

  2. Selamat siang Pak,

    Saya mau tanya biaya untuk penulisan otobiografi dan editing nya berapa ya?
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: