4 Komentar

Three Cups of Tea: Sebuah Kisah Inspiratif dari Greg Mortenson

Persahabatan Mortenson dan Haji Ali, tetua Desa Korphe, menunjukkan betapa kerjasama antara dua budaya dan agama berbeda bukanlah suatu yang mustahil sebagaimana difatwakan oleh Samuel Huntington maupun sebagian ulama Islam, dua kubu yang sama-sama berpikiran sempit serta penuh curiga.”

(Farid Gaban)

“Tiga Cangkir Teh” berisi cerita inspiratif, penuh pesan perdamaian dan relevan dibaca di tengah kisruh politik-militer Amerika di Afghanistan belakangan ini.

Buku ini merupakan memoir Greg Mortenson, seorang pendaki gunung Himalaya yang berubah jadi aktivis sosial, dan ditulis seperti novel oleh wartawan Oliver Relin.

Pada 1993, Mortenson, pendaki dari Montana, Amerika Serikat, terdampar di sebuah desa miskin perbatasan Pakistan-Afghanistan, setelah gagal mencapai puncak K2, salah satu gunung tertinggi Himalaya. Tergerak oleh keramahtamahan penghuni desa, Mortenson berjanji kembali ke desa itu untuk membangun sebuah sekolah.


Selama lebih dari satu dekade kemudian, Mortenson tak hanya membangun satu, tapi 55 sekolah–terutama bagi anak perempuan–di kawasan miskin yang merupakan “kawah candradimuka” Taliban. Lewat organisasi yang kemudian dia dirikan, Central Asia Institute, Mortenson tinggal selama beberapa bulan di negeri jauh itu setiap tahunnya; membangun sekolah satu demi satu.

Mortenson memulai semuanya dengan tekad sederhana dan kesendirian. Dia bukan orang kaya. Dia berumah di sebuah gudang di Montana, yang karena kemiskinannya dia ditinggalkan sang pacar. Mortenson juga sempat disekap beberapa hari oleh sebuah kelompok Muslim, dan sempat terpikir mati. Namun, keteguhannya memegang janji membuat Mortenson rela menghadapi semua rintangan.

Memulai hampir tanpa uang sepeserpun, Mortenson memperoleh dana pertama sekitar US$ 600, yang terkumpul dari penjualan barang-barang bekas oleh siswa-siswa sekolah menengah di kotanya. Padahal, yang dia butuhkan sekitar US$ 12,000 untuk satu sekolah di kaki Himalaya. Tapi, kegigihan dan sikap tulus yang membuat dia belakangan tak kekurangan uang untuk membangun lebih banyak sekolah. Dana belakangan datang dari berbagai kelompok Kristen, Yahudi dan Muslim Amerika, termasuk pula dari sebuah klub lesbian.


Mortenson tahu, kemiskinan merupakan satu faktor utama mengapa Muslim yang sebenarnya ramah di kawasan itu bisa berubah menjadi radikal. Dan sekolah yang lebih terbuka, tak hanya mengajarkan agama melainkan pengetahuan umum, diperlukan untuk menghadapi kesulitan hidup dan cara memandang dunia dengan lebih optimistik.

Dengan caranya sendiri, Mortenson memenangkan “hati dan pikiran” Muslim Pakistan-Afghanistan, yang tidak pernah bisa dicapai oleh Pemerintahan George Bush. Alih-alih mendekatkan dua dunia berbeda, serangan militer dan demonisasi Muslim yang dilakukan Pemerintahan Bush justru memunculkan lebih banyak lagi radikalisme.

Kisah sukses Mortenson pada saat yang sama mencerminkan kisah kegagalan Pemerintahan Amerika dalam memahami Muslim Afghanistan-Pakistan; jika mereka memang benar ingin memahami, bukannya menguasai dan mengeksploitasi sumber alamnya.

Persahabatan Mortenson dan Haji Ali, tetua Desa Korphe, menunjukkan betapa kerjasama antara dua budaya dan agama berbeda bukanlah suatu yang mustahil sebagaimana difatwakan oleh Samuel Huntington maupun sebagian ulama Islam, dua kubu yang sama-sama berpikiran sempit serta penuh curiga.

Sukses Mortenson tak bisa dipisahkan dari sukses kaum Muslim Desa Korphe dan desa-desa sekitarnya dalam menindas sikap serba curiga pada segala hal yang berasal dari Barat, dari dunia sekuler. Mereka percaya serta mempraktekkan bahwa perbedaan agama tidak bisa menghalangi persaudaraan antar manusia.

“Menjadi adat di sini, kami minum tiga cangkir teh dalam pergaulan,” kata Haji Ali, ketua Desa Korphe. “Cangkir pertama Anda masih orang asing, cangkir kedua Anda menjadi teman, dan cangkir ketiga Anda bergabung menjadi keluarga kami, dan demi keluarga kami siap untuk melakukan apa saja–termasuk mati.”

“The first time you share tea with a Balti, you are a stranger.  The second time you take tea, you are an honored guest.  The third time you share a cup of tea, you become family, and for our family, we are prepared to do anything, even die.”  — Haji Ali, Three Cups of Tea, page 150

Mereka percaya serta mempraktekkan bahwa perbedaan agama tidak bisa menghalangi persaudaraan antar manusia.



Iklan

4 comments on “Three Cups of Tea: Sebuah Kisah Inspiratif dari Greg Mortenson

  1. Three Cups of Tea adalah inspiratif saya untuk terus memegang teguh pendirian berjalan di rel pendidikan,

  2. Terimakasih informasinya, sangat inspiratif.
    Sebagai manusia, kita sering tergugah dengan hal-hal yang manusiawi. Oleh karena keterbatasan inderawi, kita seringkali gagal menangkap kebenaran versi Ilahi (Allah SWT). Kita baru tersadar, ketika kedzaliman sudah menyentuh kita. Kita barulah mengerti, tentang kesungguhan Allah SWT, ketika Ia berfirman dalam QS.2:120 (QS. Al Baqarah ayat 120).
    Semoga kita faham, bahwa Allah SWT serius dengan firmanNya itu.
    Untuk berbagi informasi, silahkan berkunjung ke “Sosiologi Dakwah” di http://sosiologidakwah.blogspot.com

  3. saya sangat tersentuh membaca kisah Greg dalam Three Cups of Tea. sangat inspiratif. bagi saya, Greg adalah pahlawan yang sebenarnya (the true hero)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: