3 Komentar

Ketika Kuteringat Seorang Pendeta Bernama: Andreas Tendean

Sungguh, aku bersyukur kepada Ilahi yang telah memberikan ruang dan kesempatan untuk melakukan rihlah ke berbagai tempat; berjumpa dan berdialog dengan manusia dengan beragam keyakinan.

Ini memang memori lama. Tapi, masih sangat relevan untuk mengingatnya kembali.Semoga ada ibrah (pelajaran) positif yang bisa dipetik dari kenangan ini (sekitar tahun 2003/2004). Ini masih tentang toleransi (tasammuh); masih tentang keberagaman cara menuju Ilahi.

Waktu itu, saya mendapat tugas untuk menulis tentang pola toleransi antarpemeluk beragama. Singkat cerita, saya mendapat info bahwa ada seorang pendeta (waktu itu Kepala Gereja Koinonia di bilangan Mester, Jatinegara. Sebagai catatan, gereja peninggalan Belanda ini pernah menjadi sasaran bom pada suasana Natal beberapa tahun silam.

Andreas kecil hidup dalam suasana ilahiah yang amat kental. Tentunya, dalam atmosfer kristiani. Tapi, ia tinggal di perkampungan muslim (jika tak salah di Makassar). Ayahnya, seorang pengurus gereja, tapi punya hubungan yang sangat baik dengan para tokoh muslim di kampung itu.

Beranjak remaja, Andreas masuk sekolah theologi. Ia ingin menjadi pendeta. Semasa menjadi siswa ia tergolong istimewa. Selama menjadi pendeta, ia sempat bertugas di sebuah kota di Jawa Timur (jika tidak Jember ya Jombang), yang merupakan kantong NU. Di sanalah sense of tolerancy Andreas terbentuk. Ia menjalin hubungan yang sangat harmonis dengan warga setempat. Ia lakukan itu penuh keikhlasan. Bukan “topeng” untuk sebuah misi keagamaan.

Ketika suatu ketika terjadi suasana tegang, justru masyarakat muslim setempat yang melindungi gereja tempat Andreas setempat dari amukan massa. Peristiwa haru juga terjadi ketika Andreas harus berpindah tugas dari kota itu. Ia dihantar ke stasiun kereta oleh para tukang becak yang mangkal di sekitar gereja. Peristiwa itu sering membuat Andreas menangis haru. Haru, tentang betapa indahnya persaudaraan.

Selama menjadi Pendeta di gereja itu, Andreas mencoba membumi. Bergaul dengan semua kalangan, termasuk para tukang becak itu. Dan, tak satu pun dari mereka (para tukang becak) itu yang didakwahi ajaran Kristen.

Ketika saya berkunjung ke ruang kerjanya di Koinonia beberapa tahun silam, kami pun terlibat diskusi yang sangat hangat. Pada waktu zuhur, ia menyediakan saya sajadah untuk shalat. Subhanallah.

“Kenapa Anda begitu toleran?” tanya saya.
Jawabannya sungguh membuat saya terdiam sejenak. Kira-kira begini ucapannya ketika itu:

“Mas, yang membuat saya menjadi seorang kristiani adalah karena saya dilahirkan dari rahim seorang kristen, dan dibesarkan dalam suasana kristiani yang kental. Jika dulu saya lahir dari rahim seorang perempuan muslim, mungkin saya sekarang menjadi seorang ustadz. Begitu pula sebaliknya. Anda menjadi muslim karena lahir dari rahim seorang muslim dan dibesarkan dalam keyakinan sebagai seorang muslim. Yang menghantarkan kita kepada surga Tuhan adalah amal kita, bukan status kita sebagai kristen atau muslim. Sebagai muslim, jadilah muslim yang dicintai Allah, dan sebagai seorang Kristen saya juga akan berusaha menjadi seorang hamba Tuhan yang dicintai Allah.”

Sungguh, saya terkejut. Sungguh, sebuah prinsip yang begitu agung dan universal.
Lama sudah, saya tak bertemu Pdt. Andreas Tendean. Tapi, saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk kembali menjumpainya. Setidaknya, kami adalah insan yang meski berbeda cara keyakinan menuju Tuhan, tapi memiliki cita-cita yang sama: sebuah dunia yang lebih harmonis, yang tidak dinodai oleh permusuhan atas nama Tuhan.

Setidaknya, inilah kontribusi kecil yang bisa kami sumbangkan bagi dunia yang lebih damai.

Iklan

3 comments on “Ketika Kuteringat Seorang Pendeta Bernama: Andreas Tendean

  1. gw yakin pdt andreas tw ayt yg mgatakan: “la kum diinu kum wa liyaddiin..,bagiku agamaku..,bagimu agamamu..”

    smoga masi bnyk pdt2 andreas laenx..

    🙂

  2. Sebuah kisah dan teladan yang sangat indah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: