1 Komentar

…Sayangi Syaithan…

Celoteh ini hanyalah sebuah intermezo di pagi menjelang siang hari. Isinya tidak terlalu penting. Tapi, cukup menarik untuk dijadikan bahan perenungan; buat saya dan anda semua.

Jika judul celoteh ini agak kontroversi, bukan karena ini untuk memancing kontroversi, melainkan semata untuk menukik langsung ke jantung tema celoteh ini. Begitulah, temanya memang itu.

Tentu ada dong asbab al-nuzul (latar) di balik celotehan ini, yang temanya rada-rada kurang populer di mata banyak orang. “Syaithan kok disayang?” begitu kira-kira bayangan saya tentang teman-teman yang tiada setuju judul celotehan ini.

Ini saya kutip dari cerita seorang kakak ipar, yang sudah belasan kali bercerita tentang kakeknya yang sepertinya “orang sakti”, dalam terminologi komunitas paranormal dan bidang metafisika. Bahkan, si “orang sakti” itu pernah diminta Permadi, SH menjadi Dewan Penasehat sebuah perhimpunan paranormal. Terlepas, dari saya sepakat atau tidak dengan dunia metafisika, saya tetap percaya: pasti ada hal yang bisa dipelajari dari mereka.

Si “orang sakti”, yang kakek ipar saya itu kini telah almarhum. Dia pernah menjadi petinggi di Bimantara di era 1990-an. Dia juga pernah dipanggil “uwak” oleh Tommy Suharto (bahkan, yang saya dengar, pernah dibelikan mobil juga oleh Tommy). Sejatinya, ia adalah seorang purnawirawan Polisi, juga veteran perang kemerdekaan.

Sangat panjang lebar, jika harus mengurai asal muasal ia berinteraksi dengan dunia metafisika. Namun, yang menarik untuk diuraikan tentang orang ini adalah “pendekatannya” menjelaskan fenomena-fenomena metafisika secara logis. Bahkan, dalam ilmu kesehatan.

Ia seorang yang sangat santun. Piawai mengobati penyakit, hanya jika diminta. Jika tak diminta, ia tak mau. Tentu saja, semua itu for free. Tanpa bayaran. Toh, ia sudah cukup mapan sebagai perwira polisi.

Hingga suatu ketika, cucunya, yang ipar saya itu bertanya ketika sang kakek tampak berbicara sendiri: “tadi bicara dengan siapa?”

Si Kakek menjawab:

“Oooo, itu makhluk metafisik yang sedang sedih. Kakek diminta berdoa supaya masalahnya cepat selesai,” jawabnya.

“Itu setan, ya, Kek?” tanya si cucu.
“Terserah kamu mau sebut apa. Yang jelas dia makhluk Tuhan,” jawab si kakek.

Usai peristiwa itu, sang Kakek pun memberi wejangan kepada cucu, yang kini ipar saya itu.
“Berbaik-baiklah kamu kepada semua makhluk Tuhan. Bahkan, kepada syaithan pun, Kakek menyayangi mereka,” pesan si Kakek.

Sungguh, pernyataannya bukan semata tesis puitis, yang bermakna konotatif. Tapi, kemungkinan besar, denotatif.

Terlepas, ini kontroversi atau tidak; logis atau tidak; yang jelas secara filosofis kata-kata itu perlu dicermati.

Tentu sangat sulit untuk mempraktikkannya. Lha wong kebanyakan dari kita (termasuk saya) masih suka misuh-misuh (menyumpahserapahi, menghardik) musuh kita atau orang yang sedang bertikai dengan kita. Apalagi dengan syaithan?

Diskusi intensif tentang post ini di multiply.com bisa anda baca di link ini: BACA DI MULTIPLY.COM

Iklan

One comment on “…Sayangi Syaithan…

  1. saya setuju sekali.kita memang harus menyayangi semua makhluk.itu ajaran semua agama.doa yang sangat saya sukai dan sering saya cetuskan di pagi hari adalah “semoga semua makhluk berbahagia”.
    Tapi saya lebih suka kata “kepada syaitan pun kakek menyayangi mereka” bener2 dan semata2 bermakna DENOTATIF!!kalo bermakna konotatif itu bisa berarti bahwa si kakek juga menyukai apa yang dilakukan syaitan yaitu berbuat tidak baik dan menyebarkan ketidakbaikan dan menjauhkan tuhan dari umat manusia,saya kira ini sangat berbahaya.Kita tidak boleh membenci makhluk (manusia, tuhan,jin dsb), kita hanya boleh membenci perbuatannya saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: