25 Komentar

Hidup Tanpa Ijazah

Andy F Noya terkenal sebagai host Kick Andy di Metro TV, tapi suatu ketika ia justru duduk sebagai bintang tamu. Bukan di acara Kick Andy , memang, melainkan talkshow di jaringan TV kabel, Q-TV. Yang menjadi host-nya: Peter Gontha, mantan orang kuat RCTI.

“Hahahahahaha…………..jadi ternyata anda tidak memiliki selembar pun ijazah kesarjanaan,” Peter Gontha bereaksi atas pengakuan Andy. Yups, ternyata Andy yang sangat cerdas tampil sebagai presenter dan host pada Kick Andy, dan juga pernah menjadi   Pemimpin Redaksi Metro TV itu ternyata tak lulus sarjana.

Di tempat lain, seorang begawan budaya Sunda sedang asyik membahas bukunya yang berjudul: Hidup Tanpa Ijazah. Dia adalah Ajip Rosidi, yang menolak mengikuti ujian akhir SMA. Naif memang, tapi itulah faktanya.

Dua kenyataan tadi kembali menggulirkan pertanyaan menggelitik: Bisakah kita hidup atau berkarir tanpa ijazah atau gelar. Lebih dalam lagi, bisakah kita menjadi orang sukses tanpa mengandalkan ijazah?

Kita pernah mengenal Adam Malik yang tak pernah mengenyam bangku sekolah sehingga otomatis tak punya ijazah. Namun dengan semangat belajar otodidak yang militan telah menghantarkannya menjadi Menlu dan Wapres Indonesia.

Tokoh lain yang tak punya ijazah kesarjanaan, tapi mampu menjadi tokoh yang diakui keilmuannya antara lain budayawan kondang Emha Ainun Nadjib, dan dai Aa Gym. Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah di FE UGM, selebihnya jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi). Aa Gym meski berhasil lulus, namun sampai sekarang ijazahnya di sebuah akademi tak pernah diambilnya ternyata berhasil menjadi dai dan pengusaha sukses.

Ajip Rosidi bahkan lebih `radikal’ Iagi.dengan tak mau mengikuti ujian akhir SMA nya. Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah. “Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah”. Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.

Mengapa tiba-tiba saya membahas hal ini? Tidak lain karena keprihatinan saya dengan budaya dunia profesional di negeri ini yang masih sangat mengagungkan ijazah sebagai parameter utama. Bukan, jam terbang dan portofolio real seseorang.

Teman saya, yang kini Chief Editor (Kepala Biro) Kantor Berita Foto European Photopress Agency (EPA) di Indonesia mengawali karirnya sebagai fotografer tanpa ijazah (meski ia seorang sarjana Biologi). Bahkan, hingga di usianya yang mendekati 40 tahun, belum pernah ia pegang ijazah kesarjanaannya itu karena ia memang tidak pernah mengambil ijazahnya. Namun, kantor berita foto AFP, yang menjadi tempat pertamanya berkiprah sebagai fotografer, tak mempedulikan itu.

Kemarin, untuk penulisan beberapa buku, kami para penulis dimintai ijazah. Kami paham betul, itu semata demi alasan administratif, belaka. Tapi, naif, jika itu kemudian menggugurkan profesionalisme yang sudah dirintis.

Jadi bisakah kita hidup sukses tanpa ijazah atau gelar kesarjanaan, saya yakin pasti Anda bisa menjawab dengan tepat.

Iklan

25 comments on “Hidup Tanpa Ijazah

  1. hehehe.. bener mas sofyan..
    di negeri kita ini memang ijazah masih memegang salah satu kunci.. sayangnya, ini seringkali tidak seiring sejalan dengan profesionalisme.. terutama bagi mereka yang seperti kita-kita ini.. 🙂

  2. […] update 12.05.2008: silahkan baca juga: – Jangan Contoh Bill Gates – Hidup Tanpa Ijazah […]

  3. hahaahhahahhahahaa….pak sofwan saya salah satu seorang yang hanya megang ijazah SMA….ada hal lucu yang terjadi baru baru ini….saya sempat interview kerjaan..di suatu bank swasta untuk suatu posisi yang menurut orang..bukan posisi yang wah…tp bgt hasil interview itu keluar saya malah…ditawarkan posisi manager…tp dengan target…sekian milliar dan gaji diatas rata rata dengan catatan saya harus mengikuti beberapa pelatihan sehingga saya dpt sertifikat pelatihan dari bank tersebut….dalam hati saya tertawa…disisi lain saya merasa tersanjung tetapi di sisi satunya lagi…mau dicari kemana uang milliaran rupiah itu….Tp saya sangat mendukung sekali tulisan pak sofwan..tentang ijazah ini….dimata saya mungkin ijazah adalah sebuah ticket untuk memperlengkap administrasi…bukan sebagai penunjang ke profesionalan kerja……AAAkkkuurrrrr…..

  4. Salam.
    Sukses tanpa ijazah jelas sebuah mukjizat.
    Dan buat saya mukjizat bukanlah milik para nabi-nabi saja.
    Saya tidak pernah menyarankan siapapun utk tidak/berhenti sekolah, lalu berjuang dalam hidup secara otodidak. Pendidikian (:bersekolah) jelas sesuatu yang penting), namun yang lebih terpenting dari Pendidikan adalah menghargai hidup itu.

    Seorang sekolahan tidak seharusnya meremehkan/merendahkan orang yang tidak/putus bersekolah.

    Itu sering terjadi.

    Masalahnya lagi kesuksesan sering dimaknai dengan kekayaan, ketenaran, gelar yg banyak.
    Kesuksesan = Pakaian mewah.
    Ketika pakaian mewah dikenakan maka banyak orang yang menyukai, mendekat, menyanjung.
    Sukses dimulai dari menghargai diri sendiri dengan kearifan tanpa memulai kesombongan.

    Trims utk inspirasinya
    ****************

    kalipaksi:
    salam. semoga bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

  5. Buat Pak Mendiknas, lebih baik hilangkan saja semua gelar akademik bagi semua lulusan perguruan tinggi. Kecuali jika sebagai dosen. Btw, nice post, thanks.

  6. dasar emang negara miskin, kerjaan susah, yang punya ijasah aja banyak nganggur, apalagi yang ga punya ijasah, kalo ga kreatif and cuma ngandelin jadi karyawan aja di negeri tercinta ini, siap-siap aja jadi gila

  7. ijasah bukanlah sebuah patokan atau kunci menjadi mampu dan bisa..tapi niat dan kemauan lah yang menjadi patokan, seberapa besar kemauan dia untuk belajar, seberapa niat dia mau menjalankannya…

    bangsa ini sudah teracuni dengan ijasah2..

  8. berhasil tanpa ijazah lebih dihargai orang dibandingkan berhasil dengan ijazah 🙂

  9. di zaman yang serba formalistik. orang lebih percaya ijazah dari pada kemampuan.

  10. di Indonesia ijasah merupakan salah satu syarat mutlak utk mendptkan pekerjaan, atau diistilahkan sbg tiket masuk dlm sebuah perusahaan, namun sampai saat ini sy justru bertanya dlm hati, apakah ijasah bisa dijadikan barometer kemampuan seseorang???. saya tdk jamin ttg hal tersebut, byk bukti dimasyarakat kita, gelar hampir 1 lusin tp coba diajak berdebat ya ampun justru mengundang masalah baru. jadi diharapkan kepada pemerintah ijasah jgn dijadikan ukuran kemampuan, tetapi lebih kepada skill individu, ketrampilan dll. bukan cuman itu, yg lebih miris lagi, yg dpt diterima dlm suatu lembaga pendidikan adalah org yg mempunyai standar tinggi 165 cm, kemampuannya diambaikan yg penting tinggi, pertanyaannya, org yg posturnya pendek dan berkemampuan skill yg baik dibuang kemana??. trus apakah aturan tersebut tdk melanggar hak asasi manusia? apakah aturan tersebut tdk melawan kehendak Tuhan yg menciptakan manusia yg berpostur pendek? apakah kita sadar kita ini org Asia yg tingginya kebanyakkan pas-pasan saja. Thanks

  11. Hal ini relatif ya, tergantung manusianya dan juga tergantung pada nasib seseorang; pada prinsipnya apabila seseorang bersekolah tinggi dan punya sertifikat tertentu, peluang untuk sukses akan lebih besar dari pada orang yang tidak bersekolah tinggi, karena untuk melamar pekerjaan di perusahaan tertentu apa bila seseorang punya back ground Sarjana bisa di letakkan di posisi Staff tapi kalau seseorang yang cuma ijazah SMU atau cuma SMP tentunya tidak akan bisa mendapatkan posisi tersebut. Namun bisa terjadi seseorang yang sangat jenius dan sangat pintar tetapi tidak bersekolah tinggi dikarenakan tidak punya biaya untuk sekolah orang ini akan berhasil karena kepintarannya, dia bisa berhasil buka usaha bengkel dan punya karyawan yang banyak misalnya, bisa membuat lukisan yang indah dll. Namun ada juga terjadi seseorang yang pintar dan bersekolah tinggi tidak berhasil dalam hidupnya contohnya seorang sarjana yang selalu apes melamar kesana-kemari tidak diterima dan ahirnya menjadi sopir dan selalu tidak dapat penompang. Ini yang dikatakan Nasib.

  12. asik yah di EPA sama AFP nggak pake ijasah udah bisa jadi potograper

  13. Memang sudah banyak yang salah kaprah tentang pendidikan, kita memang harus mencari ilmu setinggi-tingginya dan sebanyak-banyaknya tapi kenyataannya sekarang banyak yang mencari ijazah dan gelar yang sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya. Wah kalo tak baca titel para Caleg kita itu lho. Weleh-weleh-weleh (kalo kurang banyak tambah sendiri yo). Buktinya banyak lho yang sudah S2 tapi tidak bisa pakai komputer. Menurut anda apa sih yang salah dengan dunia pendidikan kita ini. Saya sangat setuju dengan Entrepreuneur Universiti yang digagas oleh Kang Purdi Chandra yaitu lembaga yang tapa akreditasi, tanpa gelar dan tanpa tetek bengek ……………… dan baru diwisuda kalo sudah bisa mandiri (berhasil). Lha kalo semua PT di Indonesia begitu pasti Indonesia ini tidak ada pengangguran iyo tho. Bukankah selama ini PT hanya menciptakan pengangguran yang berpendidikan (eh berijazah).

  14. saya termasuk salah satu orang yg terpengaruh dengan pemikiran Ivan Illich (discooling society). Sekolah/belajar sekolah formal, cenderung membatasi kreativitas dan kemerdekaan seseorang utk berekspresi. Sekolah cenderung mengikuti apaka kata buku (teori) atau mengikuti apa yg diajarkan guru/sekolah yg juga berpatokan pada teori. Konsep belajar/mencari ilmu pengetahuan, bisa dimana saja bisa berguru ke siapa saja. Tidak hanya berupa teori2 tetapi yg lebih penting adalah pengalaman hidup dan praktik hidup. Figur2 seperti Ajip Rosyidi, Adam Malik, ato generasi sekarangs eperti Andy F Noya, saya kira sudah berhasil mencapai prestasi dalam kehidupannnya tanpa hrs mengandalkan ijasah. Hilangkan penilaian atau status sosial hanya krn selembar ijasah. Sebagai tambahan, pengusaha Bob Sadino yang saya kenal melalui cerita2nya di berbagai majalah/koran, bisa sukses dg Kem Chick-nya bukan krn ijasah tetapi karena pengalamannya yg sangat berwarna, penuh tantangan dan tanpa lelah dihadapi. Tidak hanya itu, Bob Sadino bisa menjadi pengusaha sukses tanpa kredit dari bank yg kerap menjerat debiturnya dengan suku bunga.

  15. ow peluang untuk sukesesnya kecilll ya
    yeadhi

  16. apalah arti selembar ijazah………yg penting kualitas orang tersebut, sekarang banyak orang yg titel/ijazahnya didapat dengan cara yg tidak bener alias beli ijazah…..

  17. Apakah yang menciptakan Sekolah itu Orang yang punya Ijazah ??? jadi pendidikan tidak sama dengan Sekolah. kita sering salah mentafsirkan sekolah, seolah2 mereka yang tidak sekolah adalah orang bodoh…

  18. Memang orang sukses bukan karena pendidkan atau Ijazah tapi lebih pada skill dan kepribadian untuk maju menjadi seorang pemenang. Tapi janganjadikan alasan untuk tidak sekolah kerena setidaknya sekolah bisa mengarahkan untuk merubah pola pikir bagi yang mau maju dan berubah.

  19. saya mendapati beberapa kawan PNS yang gajinya ditentukan oleh banyaknya lembar kertas yang namanya ijasah, maka mereka berusaha mengkoleksi senyak banyaknya, meski dengan itu tidak dibarengi dengan perubahan perilaku, intelektualitas dan kemampuan yang mencerminkan gelar yang disandang, tapi saya maklum karena itu sistem yang berlaku di negeri kita,

  20. saya juga nggak pernah punya ijasah.hehe… aseek

  21. sepakat…..
    keblingernya di indonesia,,,, parameter orang pintar di ukur dengan nilai angka, selembar ijasah dan titel…….di tambah lagi sekolah indonesia yang ga mutu dan anehnya mlah smakin mahal…..
    kalau memang kaya gtu, ngadain pasar ijazah aja biar semua orang di indonesia di anggap pintar…..
    oya titip salam buat maia rosyida dari orang orang yang kepingin bersama sama meneruskan perjuangan ki hajar dewantoro…. buat mAia brosyida tolong hubungi aku di sunanaziz@gmail.com

  22. Diperusahaan saya saat ini dlm merekrut karyawan tdk melihat ijasah,tp kemampuan calon karyawan

  23. Memang salah kaprah pendidikan di sini, UN dijadikan standar lu2s n dpt ijazah sdgkan hsl UN blm tentu mencerminkan kualitas siswa

  24. ya bisa saja kita sukses tampa ijasah, karena beberapa orang bisa menunjukan kemampuan yang mereka miliki. dan itu cuma satu orang dari 100 orang.
    namun yang paling umum adalah buka bisnis sendiri tidak perlu ijasah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: