Tinggalkan komentar

Pola Akhir Pekan Masyarakat Jakarta

weekend36bgif.jpg

Akhir pekan lalu, setelah hari Jum’at bertepatan dengan tanggal merah, libur panjang kembali datang. Akhir pekan pun menjadi tambah panjang. Masih terkait dengan konteks akhir pekan, ternyata orang Jakarta paling senang menghabiskan waktu di dalam rumah. Jika pergi ke luar rumah, mal dan pusat perbelanjaan ternyata lebih menarik untuk dikunjungi daripada sanak kerabat.

Kesimpulan tersebut terangkum dari hasil survei yang dilakukan Kompas terhadap warga Jakarta, yang tulisan tentangnya dimuat di Kompas pada awal Februari 2008 lalu. Meski bukan gambaran umum keseluruhan warga Jakarta, setidaknya hasil ini mengungkapkan aktivitas kekerabatan yang tampak kalah penting dibandingkan aktivitas jalan-jalan ke mal atau sekadar berdiam di rumah. Bahkan, sekitar satu dari tiga (36,0 persen) responden mengakui bahwa di keluarganya jarang atau malah tidak pernah diadakan kumpul kerabat. Bagi keluarga kota besar, seperti Jakarta, yang cenderung menyendiri, keluarga besar dan kerabat mungkin hanya mereka butuhkan dalam situasi butuh pertolongan. Dalam survei ini, sebagian (36,9 persen) responden Jakarta mengakui jarang atau bahkan tidak pernah mengunjungi orangtuanya.

Kesibukan kota besar, seperti Jakarta, sering kali menjadi penyebab mengikisnya hubungan orangtua-anak. Karena selain alasan jarak, kesibukan adalah alasan yang paling banyak menjadi dalih. Pilihan untuk tinggal di rumah dan tidak ke mana-mana pada akhir pekan bisa jadi merupakan wujud kebutuhan penduduk kota besar untuk beristirahat setelah sepekan didera kesibukan. Tetapi, ini juga bisa berarti sebagai pilihan untuk menarik diri dan masuk dalam kesepian dari berbagai hubungan sosial luar rumah seperti kekerabatan.

Robert Weiss (1973) membedakan dua tipe kesepian karena hilangnya hubungan sosial yang dialami oleh seseorang. Pertama adalah kesepian emosional, disebabkan hilangnya hubungan kasih sayang yang dekat seperti yang diberikan orangtua atau pasangan. Yang kedua adalah kesepian sosial, disebabkan hilangnya rasa terintegrasi secara sosial. Lewat hubungan dengan sebuah kelompok atau komunitas, kebutuhan akan rasa terintegrasi sosial ini bisa dipenuhi.

Bisa terjadi seorang mengalami satu tipe kesepian tanpa mengalami yang lain. Sebuah keluarga muda di Jakarta mungkin tidak merasakan kesepian emosional karena mereka masih merasa saling memiliki. Tetapi mungkin mereka mengalami kesepian sosial karena miskinnya aktivitas sebagai bagian dari sebuah komunitas yang lebih besar.

Sejauh-jauhnya manusia urban jadi kesepian dan terasing, entah karena keadaan atau karena pilihan, tak pelak, kerabat, terutama orangtua, akan jadi tempat ke mana mereka akan ”pulang”. Hasil survei ini sendiri juga menunjukkan, jika ada acara kumpul kerabat, seperti kumpul keluarga besar, sebagian besar responden (68,7 persen) mengaku masih menyempatkan diri untuk datang. Hanya saja, kegiatan bersama kerabat ini buat sebagian besar orang bukan menjadi prioritas dalam waktu luang mereka.

Bagaimana dengan Anda? Atau jangan-jangan, memilih tidur seharian di rumah? Hahahahahahaha………………………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: