1 Komentar

Beberapa Catatan tentang Pluralisme

pluralismlogo2.png

Tulisan ini merupakan cuplikan dari berita di sebuah koran tentang geliat Kolokium Nasional Pemikiran Islam yang digelar Pusat Studi Ilmu Filsafat Universitas  Muham-madiyah Malang (PSIF-UMM) bekerja sama dengan Al Maun Institute Jakarta.

Kolokium yang digelar 11 Februari 2008 lalu dihadiri oleh Direktur Al Maun Instritute Jakarta, Moeslim Abdurrahman dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Samsudin.

Beberapa catatan tentang pluralisme itu yang bisa dirangkum dari diskusi pada kolokium itu yakni:

  • Pluralisme merupakan tantangan utama yang dihadapi agama-agama, kendati sejujurnya setiap agama muncul dari lingkungan kagamaan dan kultural yang plural, tetapi dalam rentang sejarah perkembangannya memunculkan sikap dan wawasan keagamaan yang eksklusif, bertentangan dengan nilai-nilai pluralisme itu sendiri.
  • Pluralisme sangat efektif untuk memotret masyarakat yang multiagama.
  • Gerakan pemikiran pluralisme mulai menyeruak di benua Eropa dengan munculnya gerakan Protestanisme yang dipelopori Martin Luther yang mendobrak otoritas gereja Katolik Roma. Sejak itu, Eropa menyadari bahwa agama sebagai kekuatan sosial memiliki kontribusi terhadap konflik sosial, sehingga sejak abad ke 17, Eropa memberikan pengakuan terhadap kemajemukan agama dalam masyarakat.
  • Dalam konteks ke-Indonesia-an pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan keadaban. Itu artinya harus ada mekanisme pengawasan dan pengimbangan sehingga terwujud keselamatan bagi umat manusia.
  • Pluralisme bukanlah diversitas tetapi merupakan perjanjian yang penuh semangat dalam keragaman.
  • Pluralisme bukan sekadar toleransi melainkan usaha aktif untuk saling memahami perbedaan lintas batas.
  • Pluralisme tidak sama dengan relativisme tetapi merupakan pertemuan dari beberapa komitmen.
  • Pluralisme didasarkan pada dialog. Karakter dialog itu sendiri adalah bertemu, membahas secara mendalam, memberi dan menerima dengan penuh kearifan, kritis, termasuk kritis terhadap paham dan keyakinan masing-masing.
  • Pluralisme keagamaan dapat ditemukan dalam tradisi agama Yahudi, Kristen, Hindu, Budha dan Islam. Dalam agama Islam, prinsip pluralisme tampak lebih tegas dikarenakan agama ini mengajarkan doktrin mengenai ahli kitab, sekalipun penafsirannya sangat bervariasi. Dalam doktrin Islam ahli kitab mencakup kaum Yahudi dan Nasrani. Meski pluralisme dapat diketemukan dalam semua tradisi keagamaan, namun harus diakui bahwa pluralisme hanya mendapatkan tkanan yang kecil dibanding visi dan paham yang menekankan keunggulan satu agama terhadap agama yang lain.
  • Pluralisme merupakan kesadaran tentang koeksistensi yang absah dari sistem keagamaan, pemikiran, kehidupan sosial dan tindakan-tindakan yang dihakimi tidak kompatibel.
  • Pluralisme keagamaan mengandung pandangan bahwa bentuk-bentuk yang berbeda dan bahkan bertentangan dengan keyakinan maupun perilaku keagaman, harus dapat hidup berdampingan.
  • Persoalan pluralisme muncul ketika suatu tradisi tertentu mendominasi masyarakat, menafikan legitimasi aliran yang lain dan menganggapnya sebagai fenomena sektarian.
  • Penolak pluralisme seringkali memposisikan wacana itu sebagai bagian dari sekularisme dan liberalisme, sehingga lahir istilah Sipilis, kependekan dari sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Keputusan Fatwa Nomor: 1/Munas VII/MUI/2005 tanggal 29 Juli 2005 sendiri, ketiga paham (Sipilis) itu telah divonis sesat.
  • Pluralisme agama yang difatwakan sesat oleh MUI itu merupakan paham yang mengajarkan bahwa semua agama sama yang karenanya kebenaran setiap agama dinilai relatif. Setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama lain salah. Di sini (pluralisme) juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Pluralisme dalam pengertian inilah yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam. Sementara berkaitan dengan fenomena pluralitas agama, MUI menganggap sebagai kenyataan bahwa di negara (atau daerah) tertentu memang terdapat berbagai pemeluk agama yang harus hidup secara berdampingan.
  • Pluralisme menurut Syafi’i Anwar (Muhammadiyah) bukan berarti menyamakan semua agama melaikan lebih pada mutual respect dan semangat saling menghormati.
  • Ulil Abshar Abdallah menyatakan bahwa pluralisme berarti sikap positif dalam menghadapi perbedaan, yakni sikap ingin belajar dari kelompok lain yang berbeda
  • Pendapat Syafi’i Anwar dan Ulil Abshar Abdallah menurut Adian Husaini sangat berbeda dengan makna akademis dan teologis mengenai pluralisme. Bagi Ardian, pluralisme merupakan paham yang khas dalam teologi dan bertujuan mempersamakan agama. Adian menegaskan, bahwa pluralisme agama sebagai paham sirik.
Iklan

One comment on “Beberapa Catatan tentang Pluralisme

  1. Kalo menurut saya, mas. Pluralisme itu dalam hal hakikat kita sebagai manusia yang punya kebutuhan sosial. Jadi, hal itu berkaitan dengan duniawi saja…

    Kalo rohani, saya tetap berpegang teguh pada agama yang saya anut. Tapi tetap menghargai umat beragama lain… karena itu tadi, dalam hidup kita selalu butuh orang lain tanpa memandang agamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: