12 Komentar

Masjid Al-Azhar: Dibangun Syiah, Digunakan Sunni

al-azhar-masjid.jpg

Pada abad ke sepuluh masehi, perpecahan kekhilafahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad menimbulkan faksi-faksi. Kaum Syiah yang tadinya menjadi mitra Bani Abbasiyah dalam menggusur Dinasti Umayyah berbalik melakukan oposisi terhadap pemerintah Abbasiyah di Baghdad. Penyebabnya, mereka kerap kali dikecewakan oleh kebijakan Bani Abbasiyah setelah mereka berkuasa. Sementara Bani Abbasiyah semakin melemah, gerakan politik religius kaum Syiah justru sedang mengalami perkembangan yang sangat cepat.

Pusat perjuangan kaum Syiah dalam oposisinya terhadap Baghdad tidak menetap pada satu daerah, melainkan berpindah-pindah. Hingga ketika mereka mengangkat Abu Ubaidillah al-Mahdi sebagai pemimpin, dikirimlah seorang misionaris Syiah ke Afrika Utara. Misinya berhasil menggalang penduduk Barbar dan daerah Ifriqiya (sekarang Tunisia).

masjid-al-azhar-5.jpg

Di tempat itulah Abu Ubaidillah, yang ‘digadang-gadang’ punya garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad, berhasil meluaskan pengaruhnyaSelanjutnya, Ubaidillah al-Mahdi, anak dari Abu Ubaidillah al-Mahdi, diangkat menjadi imam Syiah menggantikan ayahnya yang telah wafat. Bahkan, pasukan Barbar yang menjadi penyokongnya mengangkat Ubaidillah sebagai Khalifah tandingan pada tahun 909 masehi. . Maka berdirilah kekuasaan baru di Kairouan, ibukota Ifriqiya. Pada tahun 921, Ubaidillah memindahkan pusat kekuasaannya ke Kota Mahdiya, sebuah kota baru yang didirikannya. Di sanalah Dinasti Syiah Ismaili mulai dikembangkan.

Pada masa pemerintahan dinasti Fatimiyah, Syiah menyebar dan bergerak sangat cepat. Pada tahun 969 masehi, pengaruh Dinasti itu sampai juga ke tanah Mesir. Setahun kemudian, bahkan berhasil melebarkan pengaruh hingga ke Damaskus. Dengan pengaruh yang hebat di dua pusat peradaban muslim zaman itu tadi sebagian besar wilayah dunia Islam seakan-akan siap menjadi daerah kekuasaan kaum Syiah.

Kehadiran Dinasti Fatimiyah di Mesir ternyata membawa banyak hal positif. Salah satunya, mereka dianggap berhasil menjadikan Mesir sebagai pusat kekhilafahan kaum Syiah dan menjadikan Kairo (al-Qahirah yang berarti kemenangan) sebagai ibukota negara yang baru pada tahun 973 masehi.

Selama masa pemerintahan dinasti itu, bangsa Mesir pun mengalami kemakmuran yang luar biasa: salah satunya mampu menggairahkan kembali kehidupan seni dan berarsitektur di negeri itu. Salah satu karya agung yang dibangun oleh mereka salah satunya Masjid Al-Azhar.

Nama al-Azhar mulai dikenal ketika Khalifah al-Muizz li Dinillah (953-975) memerintahkan Panglima Jauhar al-Katib al-Siqilli untuk meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Jami’ al-Qahirah (Kairo). Setelah usai dibangun masjid itu pun berganti nama menjadi Masjid Jami’ al-Azhar, yang dinisbahkan dari nama Fatimah as-Zahra, putri Nabi yang menjadi istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Selain itu, Al-Azhar juga punya arti bunga, yang kemudian menjadi simbol dari ‘kemegahan’ peradaban muslim Kairo ketika itu.

DESAIN ARSITEKTURAL

masjid-al-azhar-3.jpg

Masjid ini memiliki pelataran besar berbentuk persegi panjang yang dikelilingi oleh rangkaian portico. Seperti halnya Masjid Umayyah di Damaskus, ternyata tiang-tiang kolom di masjid ini juga memanfaatkan kembali kolom-kolom kuno untuk menunjang arcade (atap lori) yang terbuat dari bata-bata yang sudah dilapisi dengan plesteran semen.

Arcade tersebut memiliki banyak lengkungan. Desain teknis dan perbandingan antarlengkungannya sangat mengagumkan. Bahkan, ada yang menyebutnya energetik, maksudnya ada kesan masif yang ditampilkan oleh pola lengkungan yang semakin yang meninggi, dengan rekatan berbahan plester yang sangat halus.

Berbeda dengan pola lengkungan di Damaskus, dan Cordoba yang mempunyai khas lengkungan berbentuk seperti tapal (sepatu kuda). Lengkungan-lengkungan (arc) pada desain masjid ini agak ramping, seperti kebanyakan pola lengkungan di sebagian besar masjid-masjid yang ada di Mesir. Nah, untuk mengurangi kesan terlalu ramping itu, para arsiteknya meletakkan tiga kolom sekaligus pada setiap sisi pintu masuk bangunan masjid di pelataran (lihat gambar). Sementara itu, pada dua sudut antara dinding pelataran dan arcade diletakkan dua kolom sekaligus.

Pelataran masjid berukuran 50 kali 34 meter: di sana terdapat empat fasade yang dihiasi hiasan dekoratif. Hiasan dekoratif itu, pada bagian atasnya bermotifkan daun, yang mempunyai cerukan langsung di atas kolom-kolom. Kemudian hiasan rosette besar diletakkan di puncak arcade yang mengelilingi pelataran. Ada pula balkon yang cukup lapang sehingga memudahkan bagi kita untuk memandang ke segala arah.

al-azhar3.jpg

Gaya dekoratif pada Masjid Al-Azhar sebagian besar mengikuti gaya yang terdapat pada Masjid Ibn Tulun. Kemudian, model ornamentasi dan penggunaan batanya mengikuti gaya Mesopotamia yang dibawa ke Mesir oleh Ibn Tulun. Sementara itu, cara-cara Dinasti Umayyah yang kerap kali memanfaatkan kembali material-material kuno juga diikuti oleh arsitek Masjid Al-Azhar ini.

Masjid Al-Azhar mempunyai hall di bagian dalam dengan tipologi yang sangat sempurna untuk sebuah prolog pelataran ibadah ritual, dengan lima lajur menghadap ke arah kiblat. Ruangannya juga menerapkan pola hypostyle dengan langit-langit kayu datar yang ditopang oleh kolom-kolom tadi. Sepertinya, hal ini meniru gaya yang diterapkan pada Masjid Amr di Kairouan.

Suasana di dalam ruangan masjid beratmosfer redup. Keredupannya itu melintasi dinding-dinding plester yang ada. Selain itu, hall ini menawarkan sesuatu yang baru yang lebih besar: mirip pusat ruangan utama pada basilika, yang dibatasi oleh dua buah barisan kolom yang tegak lurus terhadap mihrab. Hal ini juga terdapat pada masjid Ibn Tulun. Sementara itu, pelataran masjid memberikan impresi yang lebih khidmat. Dengan demikian menjadikannya menyatu dengan seluruh kompleks bangunan masjid.

Masjid ini pernah mengalami beberapa kali perluasan, di antaranya teras pintu masuk masjid di sebelah utara yang mengalami modifikasi total. Juga, penambahan menara oleh penguasa Mamluk.

Setelah kejatuhan Dinasti Fatimiyah, masjid ini lalu dijadikan sebagai kampus untuk universitas ternama dalam kekhilafahan Sunni: Universitas Al-Azhar. Namun, sesungguhnya lembaga pendidikan di al-Azhar itu diresmikan oleh khalifah Muizz li Dinillah, yang Syiah. Jadi, kaum Sunni hanya melanjutkan saja kegiatan pendidikan yang sudah dirintis oleh Dinasti Fatimiyah. Semula, ide membuat lembaga pendidikan itu adalah untuk mengembangkan keilmuan dalam mazhab Syiah Ismailiyah. Namun, kemudian berkembang menjadi sebuah universitas.

Selama hampir satu abad (1171-1267 masehi) Masjid al-Azhar pernah sama sekali tidak digunakan untuk pelaksanaan shalat Jum’at. Hal ini karena, khalifah Shalahuddin al-Ayyubi–

al_azhar-masjid-2.jpg

Panglima laskar yang berhasil menurunkan khalifah Fatimiyah terakhir: al-Adid, pada tahun 1171 masehi—menginstruksikan pemusatan shalat Jum’at di Masjid al-Hakim hingga salah seorang penguasa Dinasti Mamluk, Amir Izzuddin Aidmur al-Hilli mengaktifkan kembali shalat Jum’at di Masjid al-Azhar.

Walaupun di masa Dinasti Ayyubiah, lembaga dan masjid al-Azhar tidak banyak berperan, kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan di al-Azhar tetap berjalan dengan swadaya dan simpati tokoh-tokoh pendidikan. Bahkan, banyak pelajar yang datang berduyun-duyun ke al-Azhar.

Barulah ketika Dinasti Mamluk berkuasa, al-Azhar diaktifkan kembali. Bahkan, menjadi pusat berkumpulnya para cendekiawan muslim dari Cordoba yang sedang mengalami perang dengan tentara Tartar. Salah satu dari mereka di antaranya Ibnu Khaldun, filsuf dan ahli sejarah yang datang pada tahun 1382 masehi untuk mengajarkan hadits serta fiqih Imam Malik.

Masjid ini menjadi bukti adanya rasa persamaan di antara perbedaan: bahwa walaupun dibangun oleh kaum Syiah, namun akhirnya difungsikan menjadi pusat ilmu pengetahuan oleh kelompok Sunni. Para pendahulu telah membuktikan makna persamaan itu belasan abad silam. Sunni atau Syiah, adalah Islam. So, jangan pernah didikotomikan.

Iklan

12 comments on “Masjid Al-Azhar: Dibangun Syiah, Digunakan Sunni

  1. menarik……..thanks untuk infonya. “Tidak perlu didikotomikan. Itu kata kuncinya….

  2. satu kata yang pas
    GOOD

  3. Mau itu aliran Syi’ah atau aliran Sunni tidak perlu dipermasalahkan karena sama-sama Islam. Apalagi ketika shalat sama-sama mengarah ke Ka’bah, tidak ada yang nyeleneh. Betul kata Abdisyiah “Tidak perlu didikotomikan”. Untuk kita umat manusia, bagaimana kita mempertanggungjawabkan kalimat “Bismillahhirrokhmaannirrokhiim” ketika kita akan memulai satu pekerjaan.

  4. Subhanallah…
    memang luar biasa Masjid dan Universitas Al-Azhar.
    Universitas Islam tertua di dunia.
    Mahasiswa Sunni dan Syi’ah boleh belajar bersama di sana, tapi madzhab yang diajarkan tetap Sunni…
    (referensinya di wikipedia.org/Al-Azhar University)

  5. walaupun berbeda kita harus tetap satu sbg muslim, agar kt tdk di mudah utk diobok2 oleh zionis!!!

  6. Ulasan yang sangat rinci berkaitan tentang sejarah islam dan masjid al-azhar. Menarik. Saya pribadi sangat tertarik dengan kisah-kisah sejarah seperti ini.

  7. buat Pak Bambang Budi Utomo, Apakah Saudara tahu kalo Syiah mengkafirkan semua shahabat Nabi kecuali sekitar 4 orang yaitu Sayidina Ali, Abu Dzar Al Ghifari, Salman Al farisi dan …

    Terus Saudara dapat riwayat Hadits, siapa yang meriwayatkan kalo bukan para shahabat. Padahal Islam eksis karena perjuangan para shahabat Kalo para shahabat aja dikafirkan apalagi Saudara.

    Coba buka : http://hakekat.com

  8. To yg tanpa nama ( Anonymous). Anda sebaiknya belajar sejarah mazhab lebih dalam lagi sehingga tidak melontarkan ucapan yang tidak jelas, tidak karuan. Anda cuma melontarkan masalah kekafiran. Silakan dech pelajari dari sumber2 yg terpercaya ( dari kalangan madzhab itu sendiri).

  9. ya ya … slama masih brpegang kpd kitabullah Al-qur‘an dn assunah nabiAlloh Muhamad SAW .. ttplah istiqomah di dlm barisan/ jama‘ah ….
    ~ selain drpd dua itu ….. abaikan sja
    jgn terhasut utk masuk atw mmbuwt klompok dalm Dinul Islam aduhh. .. bahya
    Qur‘an dn Hadist yg Soheh ..cukup

  10. syiah dan sunni itu berbeda tidak sama, coba pelajari sejarah syiah dan sunni jangan cuma melihat hasil dari sebuah peradaban.

  11. gua ga ada urusan mau syiah suni sekalipun non muslim gua ga peduli…bodi amat terserah lu lu semu…nyit….

  12. Dalam mempersatukan umat dan kemanusiaan memang selalu saja ada anonymus. . tetap istiqomah dalam mempersatukam umat. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: