2 Komentar

Mengapa Kita Harus Saling Toleran?

religions_symbol.gif

Pengakuan adanya kekuatan Yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan/Allah/God/Yahweh/Elohim, yang disertai ketundukan merupakan fitrah/naluri yang dimiliki oleh setiap manusia. Kendati demikian, manusia tetap memerlukan adanya pemberi peringatan agar tidak menyeleweng dari fitrahnya, mereka adalah para nabi dan rasul.

Perasaan tunduk kepada Yang Maha Tinggi, yang disebut iman atau i’tikad, itu kemudian berdampak pada adanya rasa suka (rughbah), takut (ruhbah), hormat (ta’dzim) dan lain lain. Sejatinya, itulah unsur dasar al-din (agama). Al-din (agama) itu sendiri punya definisi sebagai aturan-aturan atau tata-cara hidup manusia yang dipercayai bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Di dunia ini, berbagai agama telah lahir dan membentuk suatu syariat (aturan) yang mengatur kehidupan manusia, yang termaktub di dalam kitab-kitab suci, baik agama samawi (yang bersumber dari wahyu Ilahi) maupun yang terdapat dalam agama ardli (budaya) yang bersumber dari pemikiran manusia. Semua agama-agama, baik samawi maupun ardli, memiliki fungsi dalam kehidupan manusia. Berbagai fungsi tersebut, yakni:

(i) menunjuki manusia kepada kebenaran sejati;

(ii) menunjuki manusia kepada kebahagiaan hakiki; dan

(iii) mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bersama.

Dari hakekat dan fungsi agama seperti yang disebutkan itu, maka pemeluk agama-agama yang ada di dunia ini, telah memiliki strategi, metoda dan teknik pelaksanaannya masing-masing, yang sudah barang tentu dan sangat boleh jadi terdapat berbagai perbedaan antara satu dengan lainnya.

Karenanya, ummat manusia dalam menjalankan agamanya, sang Pencipta agama telah berpesan dengan sangat: kiranya ummat manusia tidak terjebak dalam perpecahan tatkala menjalankan agama masing-masing, apatahlagi perpecahan itu justru bermotivasikan keagamaan.

Bersikap toleran merupakan solusi agar tidak terjadi perpecahan dalam mengamalkan jalan Tuhan bernama agama tadi. Pengamalan toleransi harus menjadi suatu kesadaran pribadi dan kelompok yang selalu dihabitualisasikan dalam wujud interaksi sosial. Toleran maknanya, bersifat atau bersikap menghargai, membiarkan pendirian, pendapat pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan lain-lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Toleransi/toleran dalam pengertian seperti itu terkadang menjadi sesuatu yang sangat berat bagi pribadi-pribadi yang belum menyadarinya, padahal perkara tersebut bukan mengakibatkan kerugian pribadi, bahkan sebaliknya akan membawa makna besar dalam kehidupan bersama dalam segala bidang, apatahlagi dalam domain kehidupan beragama.

Toleran dalam kehidupan beragama menjadi sangat mutlak adanya, dengan eksisnya berbagai agama samawi maupun agama ardli dalam kehidupan ummat manusia ini. Dalam kaitan ini Tuhan telah mengingatkan kepada ummat manusia dengan pesan yang bersifat universal, dalam Q.S. 42 ayat 13:

ayat-01.jpg

“Dia telah mensyareatkan bagi kamu tentang agama, apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh, dan apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah diwahyukan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah dalam urusan agama.”

Pesan lainnya terkandung dalam Ali Imran ayat 103:

ayat-02.jpg

Dan, berpegang teguhlah kamu kepada agama Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”

Pesan universal ini merupakan pesan kepada segenap ummat manusia tidak terkecuali, yang intinya dalam menjalankan agama harus menjauhi perpecahan antarummat beragama maupun sesama ummat beragama.

Pesan dari langit ini menghendaki ummat manusia itu memeluk dan menegakkan agama, karena Tuhan sang Pencipta alam semesta ini telah menciptakan agama-agama untuk ummat manusia. Kehendak-Nya hanyalah jangan berpecah-belah dalam beragama maupun atas nama agama.

ayat-03.jpg

Tegakkan agama dan jangan berpecah belah dalam beragama, merupakan standar normatif ilahiyah, sebagai patokan baku untuk pembimbingan perilaku ummat manusia dalam beragama. Standar yang bersifat universalistik ini bermakna ruang lingkupnya berlaku di manapun dan kapanpun saja. Dalam konteks ini, umat beragama dalam berinteraksi antaragama wajib mengutamakan standar universal ini. Perintah ini juga merupakan standar yang bersifat partikularistik, yang ruang lingkupnya berlaku bagi kelompok pemeluk agama tertentu di tempat mereka berada.

Dalam menjalankan agama hendaknya menjauhi perpecahan sesama agama, terlebih perpecahan itu dibungkus oleh orientasi motivasional maupun orientasi nilai keagamaan. Tindakan manusia beragama itu selalu memiliki orientasi, berarti selalu diarahkan kepada tujuan.

Ada dua elemen penting dalam orientasi tindakan manusia termasuk tindakan manusia dalam beragama yaitu: orientasi motivasional dan orientasi nilai. Orientasi motivasional adalah yang berhubungan dengan keinginan individu yang bertindak itu untuk memperbesar kepuasan dan mengurangi kekecewaan, atau dalam makna lain, motivasi untuk memperbesar kepuasan jangka panjang dan jangka pendek.

Sedangkan elemen lainnya adalah orientasi nilai. Orientasi ini menunjuk kepada standar-standar normatif yang mempengaruhi dan mengendalikan pilihan-pilihan individu terhadap tujuan yang dicapai dan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan itu.

Walhasil, kebebasan individu dalam bertindak, dibatasi oleh standar-standar normatif yang ada dalam masyarakat, baik yang bersifat ilahiyah maupun budaya. Segala noma-norma itu bukan berarti mengeliminir kebebasan manusia dalam beragama, justru menawarkan berbagai alternatif dalam bertindak. Hal ini juga bermakna bahwa dalam beragama manusia mempunyai kebebasan penuh yang dibatasi oleh kebebasan yang dimiliki orang selainnya.

Artinya, setiap ummat beragama dalam interaksi sosialnya mempunyai kebebasan dalam meningkatkan kualita dan kuantita pemeluknya. Interaksi seperti ini sudah barang pasti berkonsekuensi, minimal saling singgung. Sebab strategi, metoda dan teknik interaksi masing-masing agama dan para pemeluknya bahkan dalam kalangan suatu agama dan para pemeluknya, sangat mungkin terjadi perbedaan-perbedaan baik secara prinsip maupun nonprinsip.

Ini bermakna, dapat kita lihat bahwa individu-individu itu dalam beragama memungkinkan dapat menggunakan agama sebagai kekuatan yang mempersatukan dan sebaliknya juga dapat menggunakannya sebagai pencerai-beraian, yang mengakibatkan timbulnya konflik.

Toleransi dalam pengertian tadi merupakan salah satu keyakinan pokok (akidah) dalam beragama, yang dapat kita jadikan sebagai nilai dan norma. Disebut demikian, karena toleransi merupakan gambaran mengenai apa yang kita inginkan, yang pantas, yang berharga, yang dapat mempengaruhi perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai itu. Nilai (toleransi) akan sangat mempengaruhi kebudayaan dan masyarakat.

Toleransi juga dapat dijadikan suatu norma, yaitu: Suatu patokan perilaku dalam suatu kelompok tertentu. Norma memungkinkan seseorang menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya itu akan dinilai orang lain untuk mendukung atau menolak perilaku seseorang.

Menjadi toleran berarti menyangkut sifat dan sikap untuk menghargai pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan dan kelakuan, dan lain-lain yang berbeda bahkan bertentangan dengan pendirian sendiri. Karena itu, maka sifat dan sikap sebagai nilai dan norma itu mesti disosialisasika agar setiap individu mampu mengamalkan dalam kehidupan nyata di masyarakat luas.

Dalam lingkungan keluarga, kehidupan yang toleran harus disosialisasikan sejak dini terhadap anggota keluarga (anak-anak). Inilah yang menjadi sosialisasi dasar dalam kehidupan ummat manusia, yang dari padanya dikembangkan sosialisasi lebih lanjut sebagai follow-up.

Hidup beragama yang toleran sekaligus menjadi sikap dasar dalam kehidupan sosial masyarakat, yang selalu disosialisasikan dalam tingkat rumah tangga. Itu, merupakan sosialisasi primer, dan sosialisasi sekunder terjadi sesudah sosialisasi primer itu terjadi.

Berinteraksi dengan jiwa toleran dalam setiap bentuk aktivitas, tidak harus membuang prinsip hidup (beragama) yang kita yakini. Kehidupan yang toleran justru akan menguatkan prinsip hidup (keagamaan) yang kita yakini. Segalanya menjadi jelas dan tegas tatkala kita meletakkan sikap mengerti dan memahami terhadap apapun yang nyata berbeda dengan prinsip yang kita yakini. Kita bebas dengan keyakinan kita, sedangkan pihak yang berbeda (yang memusuhi sekalipun) kita bebaskan terhadap sikap dan keyakinannya.

Dialog disertai deklarasi tegas dan sikap toleran telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam Surat 109 (al-Kafirun):

ayat-04.jpg

Wahai orang yang berbeda prinsip (yang menentang). Aku tidak akan mengabdi kepada apa yang menjadi pengabdianmu. Dan kamu juga tidak harus mengabdi kepada apa yang menjadi pengabdianku. Dan sekali-kali aku tidak akan menjadi pengabdi pengabdianmu. Juga kamu tidak mungkin mengabdi di pengabdianku. Agamamu untukmu. Dan agamaku untukku.

Prinsip yang telah dibela oleh Rasulullah sangat jelas, dengan sentuhan deklarasi yang tegas. Sedangkan prinsip yang harus dipegang oleh mereka yang berbeda (penentangnya) juga dijelaskan dengan tegas. Namun diiringi dengan sikap toleransi yang sangat tinggi: Kamu pada prinsipmu dan aku pada prinsipku. Yakni sepakat untuk berbeda.

Sikap tegas penuh toleran, tanpa meninggalkan prinsip seperti itu dilaksanakan pada saat masyarakat lingkungannya tampil dengan budaya represif, yang sistem sosialnya dalam proses tidak menghendaki perubahan, bertahan dengan struktur yang ada (morfostatis atau jumud). Sedangkan Muhammad S.A.W. sedang memulai pembentukan kelompok (fomation group) menuju perubahan. Ternyata sikap toleran sangat menentukan proses terjadinya bentuk serta perubahan atau perkembangan suatu sistem maupun struktural atau penyederhanaannya (morfogenesis).

ayat-05.jpg

Sikap toleran membuahkan kemampuan yang sangat signifikan dalam menetapkan pilihan yang terbaik. Mampu mendengar berbagai ungkapan dan menyaring yang terbaik daripada semua itu.

ayat-05.jpg

Sikap toleran juga melahirkan kemampuan mengubah perilaku individu (self correction) terhadap pola yang selama itu dilakukan, yang tak berdaya mengubah masyarakat tradisional, tertutup dan represif, sehingga tujuan yang di cita-citakan dapat dicapai.

Toleran, tidak menciptakan individu yang wangkeng, yang tidak mau mengubah perilakunya, walau tujuannya tidak tercapai. Secara apologi, bersikap dan mengatakan bahwa: tujuan itu tidak tercapai karena belum waktunya, atau nasibnya memang demikian dan tidak mau mengubah diri. Sikap toleran, mampu menemukan jalan keluar dan problem solving yang pantas dan mengangkat martabat dan harga diri dalam berbagai bidang kehidupan.

Dengan sikap toleran pula, Rasulullah bermigrasi (hijrah) meninggalkan kehidupan dan tatanan sosial tradisional represif yang belum mampu diubahnya menuju kepada tempat dan kelompok masyarakat yang telah dipersiapkannya untuk dapat menerima perubahan dan bahkan menjadikannya sebagai agen perubahan di zamannya serta zaman selanjutnya.

Bersama kelompoknya kemudian berinteraksi membaur ke dalam berbagai kelompok dalam masyarakat yang majemuk baik ras maupun agama. Interaksi yang sedemikian itu mampu menciptakan kehidupan yang saling membutuhkan dan saling memerlukan, dalam bentuknya yang saling bertanggung jawab dalam membela masyarakatnya.

Iklan

2 comments on “Mengapa Kita Harus Saling Toleran?

  1. artikelnya bagus. saya ijin menggunakan beberapa konsep sabagai bahan tambahan untuk bahan UAS saya. terima kasih

  2. boleh minta rujukan nya gak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: