10 Komentar

Dialog Pluralisme di Angkasa Manokwari

universalisme.gif

Namanya Rudi (sebenarnya Rudolph). Anak Surabaya, bekerja sebagai marketing sebuah produk rumah tangga. Daerah jelajah marketingnya di Indonesia Timur, mulai dari Ambon, Ternate, Sorong, Manokwari, Jayapura, hingga ke Biak. Di balik profesinya sebagai salesman itu, Rudi merupakan seorang aktivis gereja di Surabaya. Jika lihat perawakannya, sepertinya Rudi datang dari keluarga keturunan Tionghoa.

Entah mengapa, ketika saya melakukan perjalanan ke Indonesia Timur beberapa waktu lalu, sejak di Sorong saya selalu bertemu orang ini. Di Sorong, saya satu hotel dengannya. Begitu pula ketika menuju Manokwari, lagi-lagi kami satu pesawat, meskipun tidak satu kursi. Uniknya, di Manokwari, kami satu penginapan lagi. Serunya lagi, sewaktu saya hendak bertolak menuju Jayapura, kami lagi-lagi berpapasan di peron Bandara.

Saya pikir, ini pasti bukan sekadar kebetulan semata. Pasti ada sesuatu hikmah di balik kebetulan itu. Yo wes, akhirnya saya sapa anak muda, yang kira-kira baru berumur 25 tahun itu. Akhirnya, kami pun sepakat duduk berdampingan di pesawat (waktu itu kami menumpang pesawat Merpati, jurusan Merauke, yang transit di Jayapura).

Rudi pun membuka pembicaraan. “Dalam rangka apa?” tanyanya.
“Tugas peliputan,” jawab saya.

Singkat cerita, perbincangan kami masuk ke tema pluralisme.

Rudi terhenyak, kok ada muslim berbicara tentang itu. Ternyata Rudi merupakan seorang pemeluk nasrani yang tidak setuju dengan ide pluralisme. Baginya, kristus merupakan satu-satunya mediator penyelamat umat manusia. Baginya, kristus merupakan raja penebus dosa manusia sehingga pengikutnya pun layak mewarisi nirwana.

Pikir saya, “biasanya aku berdialog dengan muslim yang anti-pluralisme, tapi kali ini dengan nasrani yang juga anti-pluralisme”. Akhirnya, dengan setia saya dengarkan dakwahnya, tanpa saya potong sedikit pun.

Memang, akhirnya terjadi tanya jawab, seperti: “Lantas bagaimana dengan saya, jika begitu menurut keyakinan anda, saya calon penghuni neraka karena tidak mengimani kristus?” tanya saya.

Saya jadi ingat, doktrin kami di kalangan muslim yang secara sepihak juga mengklaim bahwa manusia yang tidak meng-imani Nabi Muhammad, juga divonis sebagai calon penghuni neraka. Dua persoalan serupa, yang dilihat dari dua tempat berpijak yang berbeda.

“Jadi, menurut Mas Sofwan bagaimana, dong?” tanyanya balik.

Saya pun memulai argumentasi dengan datar (dan memang saya niatkan untuk terus dengan intonasi mendatar hingga akhir penjelasan). “Wah, kalo begitu nggak ada yang masuk surga dong,” kata saya.

“Menurut anda, yang tidak mengimani kristus, dosanya tak tertebus sehingga tidak pantas masuk surga. Sedangkan menurut muslim, yang tidak mengimani Muhammad, juga tidak akan diberi kunci pintu surga?” lanjut saya.

Rudi mulai berpikir. “Jadi, bagaimana menurut anda?” tanyanya lagi kepada saya.

“Mengapa kita tidak bersikap bahwa Yesus merupakan gembala bagi setiap orang yang mengimaninya; Muhammad juga gembala bagi setiap orang yang mengimaninya; juga Buddha, dan sebagainya,” jawab saya.

“Nah, setiap gembala itu akan menuntun domba-dombanya untuk menuju visi Ilahi, untuk menuju keridoan Ilahi, dengan jalannya masing-masing. Bukankah banyak jalan menuju surga,” lanjut saya.

“Wah, saya baru mendengar sikap yang seperti ini,” jawabnya. “Terima kasih, saya akan diskusikan ini di gereja,” lanjutnya.

Bagi sahabat-sahabat yang tidak sepaham dengan pandangan universalisme seperti ini, cerita ini pasti akan kembali digunakan sebagai peluru untuk menembaki saya; bahwa saya sudah tergelincir dari jalan yang benar.

Tapi, yang jelas, saya hanya percaya bahwa Tuhan Maha Mendengar, Tuhan Maha Melihat, dan Tuhan Maha Bijaksana. Yang saya yakini, setiap perbuatan yang ditujukan untuk memuliakan visi-Nya, pasti memiliki nilai di sisi-Nya.

Ya Allah, Ya Tuhan-ku, jika aku salah dengan pemikiran ini, aku yakin bahwa Engkau akan memberi sinyal kuning kepadaku. Tapi jika aku benar, tolong juga berikan sinyal hijau kepada mereka yang mencaciku karenanya.

Iklan

10 comments on “Dialog Pluralisme di Angkasa Manokwari

  1. Wah, saya sangat sepaham mas. Agama dan bukan agama hanyalah jalan menuju Dia, dan kebetulan berdasarkan pengalaman saya , jalan itu ya banyak. Tinggal kita ajalah memilih jalan yang paling cocok dengan kita. 😀

  2. seharusnya dibahas dulu tentang kebenaran sebuah keimanan. semisal benarkah yesus adalah Tuhan? atau Muhammad adalah Nabi dan Rasulullah? sehingga bisa disimpulkan tentang kewajiban keimanan nya pada hal yg benar. bukan asumsi-asumsi

  3. Malaikat yang suci diciptakan dari cahaya, sedangkan setan dari nyala api. Sama-sama mempunyai cahaya. Tapi agama yang lurus yang membawa kepada Cahaya diatas cahaya (Alloh) ; itulah agama yang benar.
    Sayang sekali kalau beragama diukur dari pengalaman atau hati semata, tanpa menengok penghayatan lebih jauh dengan keseluruhan jiwa raga sebagai saksi sahadatnya.
    Ingat-ingat 7 jalan menuju neraka, 7 langit diciptakan.
    Silahkan saja mau pake ukuran yg mana, Pluralisme No Way. 😛

  4. @Ayok: justru karena cara seperti saran anda itu banyak menemui kebuntuan, cara dialog yang pluralistik menjadi ada.

    @Nurdin: cara beragama yang seperti dialog ini sepertinya tak mengurangi nilai syahadat sebagai muslim–setidaknya itu yang saya yakini.

  5. berarti mas gak setuju bahwa agama itu juga memakai akal. kalau saya lihat mas hanya yakin bahwa agama adalah urusan hati, padahal agama menurut saya juga urusan dunia dan akhirat. pembagian dua wilayah ini yang membuat saya kurang setuju dengan tanggapan mas kepada mas ayok.
    syahadat secara lahir mang syarat islam, namun tujuan beragama bukan hanya mengambil status/surat keanggotaan tapi juga menjadi kader dengan keimanan. iman tidak akan bertambah jika tidak mengplikasikan syahadat dalam kehidupan.
    doa mas sangat menyentuh!! semoga doa kita dikabulkan oleh Allah swt dan itu sesuai dengan firman -Nya surat al-kahfi ayat 13 : sesungguhnya mereka adalah pemuda2 yang beriman kepada tuhan mereka maka kami tambah pula untuk mereka petunjuk…. thanks mas atas doanya….

  6. syarat mendapat petunjuk adalah beriman dari ayat diatas… maka ketika seorang muslim bertambah imannya maka akan bertambah petunjuknya dan jika berkurang maka ia akan futhur. sebagai mana nabi menyatakan bahwa iman itu adalah yazid wa yanquz…

  7. Keterbukaan kita untuk menanggapi pluralisme adalah suatu kearifan, namun demikian perlu ditelusuri kecondongannya. Jika kecondongan itu mengarah kepada pembenaran semua agama jelas ditolak. Namun jika itu sebagai bentuk toleransi akan nilai-nilai kebaikan sangat dianjurkan.
    Semua agama mengajak kebaikan namun sudah jelas agama yang benar.
    Berbagai ujian akan datang kepada kita untuk meneguhkan iman dan mengangkat kedudukan iman tersebut. Tapi jangan lepas dari guide2nya.

  8. salam:
    tiap agama itu harus ada klaim kebenaran, jika semua agama sama dan banyak jalan menuju satu Tuhan, mending gak usah beragama.
    untuk apa baragama kalo hanya untuk sebuah status di KTP. saya gak setuju dengan anda kalo anda tidak mengimani ISA As, Isa AS adalah Nabi Allah yang harus diyakini. tapi bukan Tuhan.
    ini sinyal kuning yang anda minta. jika ada yang mengkritik itu pasti salah dan segeralah bertaubat.

  9. Sikap Nasrani yang meyakini hanya Jesuslah sang juru selamat dan selainnya adalah neraka. Itu adalah keimanan Nasrani. Sikap Muslim pun yang meyakini keimanan kepada Nabi Muhammad itu jalan ke sorga dan tak ada jalan selainnya, dan itu iman Islam. Keimanan haruslah dilihat dari satu sisi keyakinan, bukan dari sisi filsafat atau bahkan hanya pengalaman. Orang yang berkeyakinan ganda hakekatnya tidak punya keyakinan.Berteologi plural sama artinya un-theology.

  10. kasihan orang-orang Maya, inca, Aztec… mereka tidak pernah punya hak untuk masuk surga…. karena belum mengenal Muhammad dan Yesus, bahkan Budha juga tidak…

    Betapa sia-sia Tuhan menciptakan bangsa Aztec dan Indian lainnya, toh meskipun mereka berbuat baik bagi dunia, mereka takkan penah mencicipi surga..

    *sssgh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: