Tinggalkan komentar

Antropologi ‘Onani’

onani.jpg

Onani, sebuah kata yang selalu identik dengan pemuasan hasrat seksual. Malangnya, orgasme yang dicapai tidak dicapai bersama pasangan alias ‘main’ sendiri, nikmat sendiri, dan …. pokoknya serba sendiri.

Ups, tapi saya tidak sedang berbicara onani dalam konteks pemuasan nafsu syahwat. Saya hanya ingin meminjam kata itu (maksudnya, onani) sebagai padanan bagi berbagai epilog peristiwa dan proses pemuasan diri sendiri, yang konotasinya seperti onani dalam konteks pemuasan syahwat tadi: melayani diri sendiri untuk kepuasan sendiri.

Yups, onani yang ingin saya ingin bicarakan lebih pada konteks onani yang lain, seperti onani politik, onani ideologis, onani budaya, onani komunikasi, dan sebagainya. Bahkan, dalam blog-nya Kang Kombor, tertulis bahwa dalam konteks dan individu tertentu, nge-blog juga punya unsur onani (tentang hal ini saya tidak mau terlalu jauh, silahkan baca sendiri di blog-nya Kang Kombor).

Jujur saja, saya agak prihatin dengan praktik onani dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam aktivitas politik, misalnya, banyak sekali program berbiaya selangit yang digelar semata hanya demi pemuasan kelompoknya sendiri. Penyelenggaranya partai, yang datang anggota partai, simpatisannya juga simpatisan partai. Dan, yang puas ya mereka-mereka itu saja. Sungguh, tidak menyentuh esensi dari idealisme partai itu sendiri.

Dalam komunitas aktivis pergerakan, juga terjadi onani ideologis. Para aktivis–dan simpatisannya– seperti hanya memandang dunia dari kaca mata kuda, hanya dari sisi kepentingan ideologinya. “Aku yang paling benar, mulia, suci, di jalan yang benar,” kata mereka. So, berbagai jargon dan atribut pun menjadi simbol komunitas, yang ditujukan sebagai ciri khas komunitas atau kelompok tertentu itu.

Namun, yang paling memprihatinkan, dalam perkembangannya, perilaku semacam itu kemudian melahirkan onani ideologis. Gelar acara kumpul-kumpul untuk bahas isu tertentu, dengan peserta yang itu-itu juga, yang pada akhirnya bermuara pada ‘orgasme’ ilmiah yang telah dipra-konsepsikan sebelumnya. Artinya, sebenarnya tanpa kumpul-kumpul itu sudah ada kesimpulan yang digiring untuk mendukung kesimpulan atas isu tadi sesuai dengan ideologi yang mereka usung.

Sedihnya, ini hampir berlaku di semua lini kelompok/komunitas: partai, kelompok pergerakan bermotif spiritual, LSM, seni-budaya, saintis, hingga selebritis dunia hiburan. Sungguh, saya tidak sampai hati untuk menukilkan contoh-contoh praktisnya. Khawatir akan ada yang ‘terluka’.

Semoga, blog ini juga tidak menjadi semacam ‘onani pemikiran’ bagi saya, yang menulisnya.

By the way, it just for sharing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: