5 Komentar

Lukisan-Lukisan Tanpa Ekspresi Wajah

Beberapa pekerja bersurban tampak memotong kayu dan memasang keramik. Seorang lagi mengukir pahatan. Wajahnya datar tanpa ekspresi tanpa menunjukkan kelelahan. Sementara itu seekor gajah India—yang sengaja didatangkan untuk mempercepat proses pembangunan Masjid Agung Samarkand—sedang mengangkut logistik bangunan.

lukisan-01.jpg

 

Begitu pula kuda putih belang hitam yang menarik pedati bak terbuka dengan tumpukan marmer di dalamnya. Itulah relief yang terdapat pada lukisan Behzad, pelukis Herat akhir abad 15 masehi. Fragmen yang hampir serupa terdapat dalam lukisan Herat lainnya tentang para pekerja yang sedang membangun benteng Khawarnaq di Herat, sebuah wilayah di Afghanistan.

Kedua lukisan Behzad tadi bercorak sama dengan lukisan-lukisan sejenis—walaupun dengan cerita dalam lukisan yang berbeda dengan menampilkan kesamaan pada wajah-wajah tokohnya. Saat ini, model lukisan seperti ini sedang digandrungi menjadi model cover buku-buku tentang Islam. Misalnya buku “The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia” karya Marshal G.S. Hodgson yang cukup terkenal itu atau yang terakhir buku “Islam Borjuis dan Islam Proletar” (akhir 2001) yang berkisah tentang pergulatan budaya antarmuslimin di Indonesia.

Menariknya, lukisan-lukisan itu sepertinya dibuat dengan pakem yang sama, walaupun dibuat pada zaman yang berbeda. Kita lihat lukisan-lukisan itu menggambarkan para tokohnya memandang panorama dengan acuh tak acuh, baik raja-raja maupun para kawula, prajurit maupun petani. Para prajurit dalam hiruk-pikuk pertempuran, misalnya, ada yang menghantam dan ada yang terluka dengan penampilan tak acuh. Sepotong kepala yang nyaris lepas dari bahunya karena terkena hantaman keras dari pedang musuhnya memperlihatkan pemenggalan kepala yang mengerikan itu tanpa peduli sama sekali. Atau ketika seorang prajurit yang tubuhnya banjir darah sepertinya hanya membuktikan kekayaan cat warna merah darah dari pada yang terjadi di dalam suasana seperti itu, sama sekali tidak menunjukkan isyarat kengerian yang semestinya menyertai pemandangan serupa ini. Bahkan, saat-saat gembira pun tidak menampilkan wajah-wajah ceria para tokohnya, seakan mereka tidak sadar bahwa mereka sedang mereguk puncak kebahagiaan yang biasa dirasakan manusia.

Ciri-ciri muka dan roman yang distereotipkan seragam tersebut merupakan bentuk transformasi naturalis sehingga para usaha para seniman untuk menampilkan ilusi tiga dimensi atau naturalisme kehidupan nyata semakin kecil.

Tak hanya manusia saja, binatang pun—seperti gajah dan kuda—digambarkan sebagai makhluk yang fantastis. Apa sebab demikian? Setidaknya, pola berfikir para pelukis muslim klasik itu menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia, siapakah ia, apakah raja, jenderal, tentara, sipil ataupun rakyat biasa memiliki sebuah kesamaan: sesama makhluq Tuhan. Satu lagi, di saat bahagia atau susah, perang atau damai, atau membangun selalu tetap dalam fitrah “fa aqim wajhaka li al-diin al-haniif”, tetap berjalan dalam diin yang lurus. by: sofwan {kalipaksi}


 

lukisan-02.jpg

Iklan

5 comments on “Lukisan-Lukisan Tanpa Ekspresi Wajah

  1. ini siapa yang lukis?

  2. pelukisnya bernama Behzad, seorang pelukis dari akhir abad 15 masehi. Artikel ini hanyalah review sosio-kultural dari lukisan2 bercorak setema, yang cenderung tiada menampilkan ekspresi wajah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: