3 Komentar

Farming Estate: Solusi Bagi Pertanian Indonesia

Seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran berlibur ke kampung halamannya di sebuah wilayah pertanian di negara bagian Ohio, Amerika. Ayah mahasiswi itu mengelola kebun gandum seluas 400 hektare. Di samping rumah, berdiri tiga buah bangunan besar: garasi, gudang dan kandang sapi. Di garasi, parkir berbagai mesin pertanian.

farm.jpg

Paige, nama mahasiswi itu, masih mempunyai dua orang adik lelaki remaja koboy yang masih duduk di tingkat bangku sekolah menengah. Hamparan luas kebun gandum sampai ke cakrawala, sejauh mata memandang. Lahan gandung milik keluarga Paige menyatu dengan ribuan hektare lahan milik keluarga-keluarga lain. Rumah-rumah petani hanya satu dua saja terlihat. Itu pun terpisah-terpisah. Sepulang dari sekolah, kedua adik Paige membantu sang ayah mengontrol ladang gandum yang luas. Lain waktu mereka memerah susu, sesekali dengan cara manual sesekali dengan alat bantu mesin pemerah susu. Kotoran-kotoran sapi mereka kumpulkan. Sepekan sekali kotoran-kotoran itu akan dijemput truk sebuah perusahaan pengolah pupuk kandang yang keliling kampung mengumpulkan kotoran-kotoran pupuk yang sudah dikumpulkan para petani.

Secara rutin, para petani di wilayah itu berkumpul. Sesekali mereka menyelenggarakan festival koboy hingga lomba adu balap mesin small tractor yang sudah dimodifikasi. Sejahtera sekali. Setiap keluarga yang datang pulang dan pergi dengan kendaraan pribadi, minimal truk DODGE buatan tahun 1980-an. Cerita ini diambil dari sebuah fragmen pada film roman berjudul The Prince and Me”, yang dibintangi Julia Stiles.

Meskipun hanya sebuah film, tapi hal itu menggambarkan kehidupaan nyata keluarga-keluarga petani di Amerika yang mengambil lokasi shooting di sebuah wilayah pertanian di Amerika. Begitulah wajah petani Amerika: lahan pertanian yang luas, didukung mekanisasi pertanian yang lengkap dan sistem pasca panen yang berkelanjutan. Amerika adalah salah satu negara modern adi daya yang juga adi daya di sektor agraris. Meskipun memiliki jutaan marinir yang ratusan ribu di antaranya tersebar di berbagai pangkalan militer di luar negeri sehingga menjadikkannya negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia, menjadi raja industri otomotif, raja industri perangkat IT, dan sebagainya Amerika tetap tidak meninggalkan basis agrarisnya. Amerika sadar, sehebat apapun negara mereka tanpa basis agrikultur yang kuat, Amerika bukan apa-apa. Apa kuncinya sehingga basis agrikultur Amerika tetap kuat? Padahal, meskipun tak sepesat Indonesia, jumlah penduduk negara itu bertambah sehingga rumah-rumah baru dibangun. Industrial-industrial estate baru pun dibuka yang kesemuanya itu memerlukan lahan baru. Betul, tapi tak sampai menyusutkan luas lahan pertanian. Itu salah satu kunci utamanya.

Bagi Amerika, sehebat apapun teknologi pendukung pertanian yang mereka miliki, tanpa didukung luas lahan yang cukup, ya tidak efektif juga. Apa yang ditempuh oleh Amerika juga ditempuh oleh Australia. Dalam sebuah situs tentang pertanian di Australia Barat bahwa dari tujuh rahasia kesuksesan agribisnis di wilayah itu pada poin nomor dua tertulis, “skala usaha cukup besar minimal 10 ha sampai 400 ha per skala usaha.” Seorang petani apel di Australia Barat misalnya memiliki lahan perkebunan apel seluas 100 hektare yang sebagian hasilnya diekspor. Nah, untuk menjamin skala usaha yang luas itu dibuatlah sebuah sistem agraria (pertanahan) bagi lahan-lahan pertanian.

Sistem ini akan punya relevansi dengan farming estate, termasuk di dalamnya rice estate yang dicita-citakan bagi pertanian Indonesia. Farming estate, termasuk di dalamnya rice estate, yang dicita-citakan bagi pertanian Indonesia prinsipnya tak berbeda jauh dengan apa yang sudah berlaku di Amerika dan Australia, dua dari banyak negara yang menerapkan cara itu.

Hanya saja dengan kondisi lahan pertanian yang sudah baku seperti sekarang ini, dunia pertanian Indonesia harus banyak sekali melakukan reformasi. Sebelum melangkah jauh, sebenarnya seperti apa konsep farming estate yang dicita-citakan itu?


Begini, pertama sekali mesti ada peraturan negara yang tidak membolehkan perubahan fungsi lahan pertanian menjadi fungsi apapun dan dengan alasan apapun, termasuk alasan hak waris sekalipun. Agar tak melanggar hak asasi seseorang atas hak warisnya, sebuah budaya waris khusus lahan pertanian mesti dikembangkan, seperti yang sudah berlangsung di beberapa negara tadi.

gerritsfarm.jpg


Ilustrasi tentang budaya waris itu, misalnya seperti ini: Sebut saja H. Amrullah memiliki 300 hektare lahan persawahan. Sampai kapan pun, idealnya dengan tata agraria tadi, lahan yang 300 hektare itu tak bisa dialihfungsikan menjadi lahan perumahan atau industri. Ketika H. Amrullah wafat ia mewariskan 300 hektare lahan itu kepada tiga anak lelakinya masing-masing 100 hektare.

Namun hanya anak tertuanya yang punya minat melanjutkan usaha pertanian almarhum ayahnya, sedangkan dua yang lain memilih berkarir di kota: satu menjadi pengacara, satu lagi menjadi tentara. Keduanya ingin menjual tanah warisan mereka yang 200 hektare itu. Lahan yang 200 hektare itu pun dijual kepada saudara tertua. Atau dihitung sebagai saham bagi usaha pertanian yang dilanjutkan saudara tertua.

Bagaimana jika ketiganya tak berminat melanjutkan usaha pertanian sang Bapak? Mereka menyerahkan lahan itu sebagai saham atau menjualnya kepada perusahaan pengelola pertanian di daerah itu. Perusahaan itu dikelola oleh para petani terdidik dan dengan sistem pertanian yang modern. Jumlah personil pendukung perusahaan pengelola pertanian itu tak terlalu banyak tapi mereka didukung oleh tenaga yang terdidik tadi dan dengan sistem mekanisasi pertanian yang mapan. Skema seperti inilah yang diterapkan di lahan-lahan perladangan yang dijadikan lokasi shooting film The Prince and Me tadi. Dengan begitu lahan pertanian tak menyusut jumlahnya dan tingkat produktifitas tetap efektif karena dikelola oleh petani-petani terdidik. Terlepas dari apapun komoditas yang ditanam: padi, jagung atau gandum. Namun skema tadi mesti didukung sistem ketataagrariaan (pertanahan) yang berpihak padanya. Di sinilah peran negara diperlukan.

Apa yang terjadi dengan pertanian Indonesia? Luas lahan persawahan, dan yang lebih luas lahan pertanian, menyusut akibat pewarisan tanah pertanian di lingkungan keluarga yang tak dikontrol oleh tata agraria yang cerdas seperti tadi. Selain itu faktor budaya mangan ora mangan kumpul juga menjadi kendala. Warga desa cenderung berkumpul di satu desa dengan kerabat sehingga membuat luas desa bertambah. Sayangnya hal itu menimbulkan konsekwensi lahan persawahan dan pertanian ‘terabrasi’ (semakin berkurang).

Ditambah lagi dengan pembagian hak waris tadi, lambat laun skala usaha per keluarga terus menyempit: 2 hektare dan paling luas 5 hektare yang dikelola satu keluarga petani. Dua hektare? Jangankan untuk memberi kontribusi pangan bagi orang lain, untuk diri dan keluarganya saja tidak cukup.

By: kalipaksi

Iklan

3 comments on “Farming Estate: Solusi Bagi Pertanian Indonesia

  1. pemerintah hendaknya semakin bijak dalam menghadapi dan menanggulangi alih fungsi lahan yang terus terjadi… sungguh menyedihkan bila pada akhirnya Indonesia sebagai negara agraris dan pernah melakukan swasembada beras tidak dapat lagi mengandalkan pertaniannya yang subur dan berpotensi… selain itu diharapkan kerja sama dari semua pihak, baik petani, pemerintah dan swasta agar bersikap bijaksana sebelum mengambil keputusan untuk mengalihfungsikan lahan…

  2. wah….
    kenapa harus amerika terus c yang berkuasa di segala bidang…
    sebenarnya indonesia juga bisa seperti itu. apalagi indonesia yang memang merupakan negara agraris dengan Sumber Daya Alam yang berpotensi jika bisa diolah dengan baik dan memiliki SDM yang terdidik dan terlatih pula dan didukung teknologi yang memadai, indonesia pasti bisa mengalahkan Amerika untuk bidang pertanian…

  3. Indonesia perlu berevolusi dalam berbagai bidang!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: