10 Komentar

Kiswah: Baju Kebesaran Sang Ka’bah

Sebuah kiswah memerlukan 670 kg bahan sutera serta 50 kg emas dan perak yang dipakai untuk menghiasinya. Selain itu, dalam sejarahnya, kiswah ternyata tak selalu berwarna hitam. Kelambu Ka’bah itu bahkan pernah berwarna putih, kuning, hijau bahkan merah berlajur-lajur. Bagaimana kiswah dibuat?

kabah1.gif

Ketika musim haji tiba, jutaan manusia dari segala penjuru bumi berkumpul di Masjidil Haram dan sekitarnya, satu tempat yang disyariatkan sebagai satu-satunya tempat pelaksanaan haji. Usai melaksanakan thawaf, sa’i, melempar jumrah dan hingga wukuf di padang Arafah pada tarikh 10 Dzulhijjah, para jama’ah haji mulai bersiap untuk kembali ke negerinya masing-masing.

Sebagian lagi, memanfaatkan waktu untuk berpelesiran atau berziarah ke tempat-tempat bersejarah hingga mengumpulkan benda-benda khas musim haji, souvenir dan cinderamata yang akan mereka bawa pulang sebagai buah tangan bagi kerabat dan sanak keluarga di tanah air masing-masing. Selain air zam-zam, para jama’ah haji biasanya berburu potongan kiswah (yang secara kebahasaan berarti pakaian) yang harganya berkisar 100 riyal bahkan hingga ribuan riyal, tergantung seberapa lebar potongan kain kiswah yang mereka beli.

Bagi mereka yang pernah berhaji, mendengar potongan kain penutup Ka’bah dijual tentu bukan suatu perkara baru. Tapi bagi mereka yang awam, tentu akan timbul pertanyaan: “Bagaimana bisa, kain penutup Ka’bah kok dijual?”

Begini, yang dijual itu hanyalah potongan kiswah yang sudah ‘pensiun’ menjadi pakaian bagi Ka’bah, bukan kiswah yang masih dalam ‘masa dinas’. Pasalnya, setiap tahun pakaian Ka’bah yang sekarang ini dibuat dengan biaya sebesar 17 juta riyal itu harus diganti dengan kiswah yang baru.

Dalam catatan “Ensiklopedi Islam”, tradisi penggantian kiswah pada setiap tahunnya sudah dimulakan sejak masa Khalifah Al-Mahdi yang masih termasuk dalam trah Dinasti Abbasiyah. Ceritanya, ketika Khalifah al-Mahdi naik haji, penjaga Ka’bah melapor kepadanya tentang perihal kiswah yang pada saat itu sudah mulai rapuh dan dikhawatirkan akan jatuh. Mendengar kenyataan yang memprihatinkan itu, Al-Mahdi lalu memerintahkan agar setiap tahun, kiswah bagi Ka’bah diganti.

Nah, sejak itulah kiswah Ka’bah diganti pada setiap tahunnya, bertepatan dengan musim haji. Para khalifah Dinasti Abbasiyah yang menjadi pelanjut Al-Mahdi kemudian membuatkan kiswah-kiswah mewah yang terbuat dari sutera hitam untuk Ka’bah. Hingga pada masanya dinasti ini melemah, tanggung jawab mengadakan kiswah diambil alih raja-raja Yaman, kemudian raja- raja Mesir, dan kini tentu saja menjadi tanggung jawab pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Sejak tahun 1931, kelambu bagi Ka’bah itu diproduksi di sebuah pabrik yang terletak di pinggir kota Mekkah. Menurut beberapa kawan yang pernah melongok pabrik itu, suasananya sepintas tak berbeda jauh dengan suasana pabrik atau sentra pertenunan pada umumnya. Di sudut-sudut ruang yang mirip hanggar pesawat terbang, di sana ada tumpukan benang dan mesin-mesin tenun modern pemroses kain.

Mesin-mesin modern itu dikawani oleh puluhan alat tenun bukan mesin yang dioperasikan secara manual dengan roda pintal yang diputar secara manual. Di area sekitar 10 hektare itu, sekitar 240 orang pengrajin kiswah dikaryakan. Banyaknya pekerja menandakan bahwa kiswah merupakan karya massal. Di sanalah semuanya disiapkan, mulai dari perencanaan, pembuatan gambar prototipe kaligrafi, pencucian benang sutera, perajutan kain dasar, pembuatan benang dari berkilo-kilo emas murni sampai penyulaman dan penjahitan akhir.

Untuk sebuah kiswah minimal diperlukan sekitar 600 meter atau sekitar 670 kg kain sutera buatan sendiri yang terdiri dari 47 potong kain yang ma- sing-masing berukuran panjang 14 meter dan lebar 95 cm. Ukuran itu sudah disesuaikan untuk hajat menutupi bidang kubus Ka’bah pada keempat sisinya. Sedangkan untuk hajat sulaman emas diperlukan sampai 120 kg emas (sebagian lagi ada yang menyatakan hanya 50 kg emas saja). Keseluruhan bidang kiswah dibordir oleh tangan-tangan trampil yang bekerja secara tekun. Semuanya dibiayai oleh Jawatan Wakaf Kerajaan Arab Saudi.

Tak hanya satu kiswah yang dihasilkan pabrik ini pada setiap tahunnya. Pastinya, empat potong per tahun. Rinciannya, seperangkat kelambu untuk makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi Madinah, seperangkat kelambu al-burku (kiswah bagian dalam yang juga berbahan sutera) dan dua perangkat kiswah hitam bagian luar. Satu dipakai, satu lagi disimpan untuk cadangan.

kiswah006.jpg

Sejarah Kiswah

Konon, kiswah sudah dikerudungkan ke Ka’bah sejak zaman Nabi Ismail as, putra Ibrahim as. Sulit untuk menerka dan menggambarkan bagaimana bentuk dan terbuat dari apa kiswah pada masa itu. Namun demikian, ada satu cerita lama yang menyebutkan bahwa kiswah pertama dibuat oleh pengrajin bernama Adnan bin Ad dengan bahan baku kulit unta. Sedangkan kiswah kain tenun pertama kali dibuat oleh Raja Yaman bernama Tubu’ As’ad.

Buku “Ensiklopedi Islam” menyebutkan bahwa Raja Himyar As’ad Abu Bakr penguasa yang pertama kali disebut-sebut memasangkan kiswah luar Ka’bah, atas dasar tradisi Arab yang berkembang sejak zaman Ismail as. Kebijakannya itu kemudian diikuti oleh para pelanjutnya hingga sampai ke masa Qusay ibnu Kilab, salah seorang leluhur Nabi Muhammad yang terkemuka. Sejak masa Qusay inilah, pemasangan kiswah pada Ka’bah lalu menjadi tanggung jawab masyarakat Arab dari suku Quraisy.

Sementara itu dalam buku “Sejarah Ka’bah” tulisan Aboebakar Atjeh tertera riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW juga pernah memerintahkan pembuatan kiswah dari kain Yaman. Sedangkan empat khalifah pelanjut yang termasuk dalam khulafa al-rasyidin membuat kiswah dari kain benang kapas. Tertulis juga bahwa dalam sejarahnya, kiswah tak selamanya berwarna hitam.

kiswah005.jpg

Dalam beberapa catatan, kiswah pertama yang dibuat dari kain tenunan Yaman justru berwarna merah dan berlajur-lajur. Sedangkan di masa Khalifah Ma’mun ar-Rasyid, kiswah dibuat dengan warna dasar putih. Suatu masa, kiswah berwarna hijau dibuat atas perintah Khalifah An-Nasir dari Bani Abbasiyah (sekitar abad 16 masehi) dan kiswah berwarna kuning dibuat atas perintah Muhammad ibnu Sabaktakin. Dari catatan-catatan itu bisa dilihat bahwa tanggung jawab pembuatan dan pengadaan kiswah dipikulkan pada setiap khalifah yang sedang berkuasa atau dikuasakan kepada penguasa tanah Hejaz pada setiap masanya.

Biarpun demikian, ketika kekhilafahan Islam tak lagi utuh seperti pada masa-masa awal kejayaannya, beberapa raja di luar Hijaz tercatat pernah menghadiahkan kiswah kepada pemerintah Hijaz. Bahkan dalam kurun waktu yang sangat lama, perangkat kiswah pernah didatangkan dari Mesir yang terbuat dari kain sutera hitam yang biayanya diambil dari kas Kerajaan Mesir. Tradisi kiswah dari Mesir ini dimulai oleh Sultan Sulaiman yang memerintah mesir pada sekitar tahun 950-an hijriah hingga masa pemerintahan Muhammad Ali Pasya sekitar akhir tahun 1920-an. Setiap tahun, kiswah-kiswah yang dibuat di Mesir itu diantar ke Mekkah melalui jalan darat melalui suatu tradisi yang dikenal sebagai tradisi Mahmal.

Mahmal sendiri berarti tandu indah yang berfungsi sebagai sarana pengangkut kiswah. Kiswah dan hadiah-hadiah lain dalam mahmal datang bersamaan dengan rombongan haji dari Mesir yang dikepalai oleh seorang amirul hajj yang ditunjuk secara resmi oleh pemerintah Kerajaan Mesir (waktu itu Mesir masih berbentuk kerajaan, belum berbentuk republik seperti sekarang ini). Dari Mesir, setelah upacara serah terima, mahmal yang dikawal tentara Mesir berangkat ke Suez dengan kapal khusus hingga ke pelabuhan Jeddah. Setibanya di Hijaz (nama kuno Arab Saudi), mahmal diarak dengan upacara meriah hingga ke Madinah.

Suatu ketika, pengiriman kiswah dari Mesir terlambat hingga awal bulan Dzulhijjah, pastinya pada tahun 1345 H usai Perang Dunia I. Keterlambatan itu sendiri, merupakan dampak dari suasana tak stabil akibat PD I. Akibatnya, Raja Ibnu Saud (pendiri Kerajaan Arab Saudi) pun mengambil keputusan untuk segera membuat kiswah sendiri mengingat pada tarikh 10 Dzulhijjah kiswah lama mesti diganti dengan kiswah yang baru. Usaha itu berhasil lewat perusahaan tenun yang terdapat di Kampung Jiyad, Mekkah.


Usai PD I, Raja Farouq I dari Mesir kembali mengirimkan kiswah. Namun kemudian dengan berbagai pertimbangan pemerintah Kerajaan Arab Saudi memutuskan untuk membuat pabrik kiswah sendiri pada tahun 1931. Begitulah seterusnya, kiswah dibuat di Mekkah hingga sekarang.

by: sofwan.kalipaksi

kiswah009.jpg

kiswah015.jpg

Iklan

10 comments on “Kiswah: Baju Kebesaran Sang Ka’bah

  1. may i have all arabic script of ka bah and also the complete picture of ka bah from all side?

    please send to my e-mail!

    thank you much.

  2. minta Emailnya raja emirat arab

  3. saya punya kain kain kiswah/kain slimin warna garis” merah tenun, lebar 10cm x 20cm, bagi yang berminat boleh nempil potongan kecil. biasanya kami jual ukuran kecil 2x3cm. ada beberapa pengusaha yang pernah beli. bila berminat hub. agus 081330723629

  4. i have kiswah/cloth cloth cloth slimin line colour” red textile, wide 10cm x 20cm, for that intend may nempil little cut. usually we sell pocket edition 2×3cm. there are some entrepreneur ever buy. when intend hub. agus 081330723629

  5. Kami punya kain kiswah “makam Rasulullah SAW”. Bila berminat untuk menyimpannya sebagai koleksi dapat menghubungi kami di 0888 9865070.

  6. subahanaallah klo ada yg mau memberikan kiswah y gratis dan mengirimkanya kemasjid al-khoiriyah.amin ya allah

  7. i want to buy kiswah from kaabah or from maqam rasullullah saw, email me asap

  8. Saya punya selebar 60X40 CM sudah di frame ..jika mau boleh barter dengan biaya Umroh + tablet android…silahkan hubungi 60541321 atau 081282900666…

  9. makasih infonya. salam kenal ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: