Tinggalkan komentar

Siapkah Eropa Menyalip Amerika?

eropa.jpg

Sesudah Amerika, siapakah yang akan muncul menjadi superpower ekonomi dunia? Dari banyak tanggapan, tampaknya China atau Uni Eropa. Akankah?

Bagaimana analisis tentang kemungkinan Uni Eropa yang akan tampil ketimbang China. Apalagi, pencitraan Uni Eropa sebagai sebuah“negara raksasa” semakin lengkap setelah para pemimpin 25 negara anggota menandatangani konstitusi pertama di Roma, 29 Oktober 2004, tiga tahun lalu. Para ekonom Amerika dilanda keraguan. Setelah ekonomi negara adidaya kelelahan karena harus membiayai beberapa episode perang di Timur Tengah, terutama di Irak, konstelasi ekonomi dalam negeri juga menuai kritik tajam dari masyarakatnya yang memang kritis. Kritik demi kritik terdokumentasi dengan gamblang di berbagai koran nasional. Terlebih gaya lugas para jurnalis Amerika dalam mengungkap fakta satu per satu membuka persoalan yang sedang dihadapi negara mereka.

Kekuatan lobi para banker dan pebisnis kelas atas yang dahulu diiktiraf sebagai kekuatan nasional karena dianggap berjasa besar menopang stabilitas ekonomi nasional, kini sebagian dari mereka dituding-tuding karena tindakan korup mereka yang dianggap mulai mengganggu roda ekonomi. Konglomerat yang tadinya dipuja-puji pun tiba-tiba satu dua orang dari mereka diburu sebagai kriminal. Alhasil, para ekonom mereka semakin tak yakin: apakah negara ini (Amerika, red) akan melanjutkan dominasinya pada dekade berikutnya setelah berjaya pada dekade lalu.

Tak bisa dipungkiri, dekade 1990-an adalah dekade milik perekonomian Amerika dan Jepang. “Selama lebih dari sedekade negara superpower ekonomi adalah Amerika dan Jepang. Tak dapat diragukan lagi,” kata seorang komentator dari Standard & Poors. Namun Jepang beberapa tahun lalu sempat kolaps. Ditambah lagi dengan kenyataan satu dua tahun terakhir, muncul perdebatan akankah Amerika tak akan mengikuti jejak Jepang. Selama musim panas tahun lalu, para ekonom mulai dari Kantor US Federal Reserve hingga pusat saham Wall Street, perdebatan selalu seputar isu itu: akankah ekonomi Amerika akan sampai kepada sebuah periode yang stagnan dan deflatif (mengempis)—dan jawabannya selalu, “tidak”. Terdapat sebuah keyakinan yang tak kunjung hilang bahwa Amerika sekarang ini sedang berubah dengan sangat cepatnya tak akan menemui kejatuhan seperti ketakutan yang dialami warga Jepang.

Keyakinan itu didasari oleh karena tak satu asumsi pun bisa menjadi alasan buruk untuk mempertanyakan dominasi Amerika di masa depan tadi. Jikapun ada, hanya dianggap isu sesaat. Setiap era melahirkan bangsa yang dimujurkan oleh era itu sendiri. Prediksi para ekonomi tentang kebangkitan ekonomi Jerman pada tahun 1960-an dan negara-negara OPEC pada tahun 1970-an, disusul Jepang pada 1980-an dan stabilnya ekonomi Amerika pada era 1990-an semuanya terbukti. Kini, di era tahun 2000-an, akankah muncul sebuah kekuatan baru?

“Mengapa tidak Eropa?” kata Martin Hüfner, seorang Kepala Ekonom pada Germany Hypo Vereinsbank. “Lima tahun lalu, saya memberikan ceramah di Washington dalam seminar “Coming Decade of Europe” dan setiap orang melihat saya seolah saya gila. Sekarang, saya pikir saya mendapat respon,” lanjutnya. Hüfner tidak gila, Eropa Bersatu (Uni Eropa) akan menjadi lokomotif super yang akan menggerakkan ekonomi Eropa menjadi raksasa ekonomi baru menggantikan Amerika. “Eropa adalah sebuah kekuatan ekonomi dengan jumlah penduduk lebih banyak dari pada AS. Apalagi, hampir semua penduduk Eropa telah sejahtera,” lanjut Hüfner.

Masih dari kacamata Hüfner, saat ini telah terjadi suatu pergerakan yang sangat dinamis selama sedekade lalu di Eropa. Pada tahun 1992, tak satu orang pun akan percaya bahwa masyarakat Eropa akan segera menyatukan diri dalam satu Bank Sentral dan mengesampingkan mata uang mereka masing-masing untuk bergabung dalam sebuah sistem mata uang bersama, yakni euro, yang kini bahkan kursnya telah menyalip kedigdayaan Dollar Amerika.

Satu-satunya mata uang nasional yang kursnya lebih bagus dari euro hanya poundsterling. Dari data per 1 November 2004, 1 euro setara dengan 1,282 US Dollar. Jika dirupiahkan, 1 euro setara dengan Rp11.635. Euro hanya kalah dari Inggris Poundsterling: 1£ setara dengan 1,39 euro. Tapi fenomena mata uang euro yang belum berusia sedekade bukan satu-satunya ukuran. Seorang diplomat Jerman, Klaus Scharioth pada tahun 2002 lalu pernah berkata, “mengapa dunia gagal mengenali keajaiban Eropa ini?”

Bahkan ketika berkembang isapan jempol yang mengatakan bahwa euro sedang melemah akibat pasar global sehingga akan menghadirkan ketakutan bagi Eropa yang suram di masa depan, faktanya kata Martin Hüfner, mata uang euro justru telah menjadi mata uang yang digunakan bagi 1/3 surat obligasi di seluruh dunia.

Diterimanya euro di seluruh dunia, lanjut Hüfner, akan membawa pengaruh bagi semakin meraksasanya skala pasar negara-negara Eropa. Dampaknya, diperkirakan akan meningkatkan pertumbuhan GNP mereka paling tidak 1 persen setiap tahunnya. Berbagai langkah perubahan di Eropa menjadi dasar dominasi yang akan segera mereka raih. Namun, tak seorang pun meragukan bahwa Eropa perlu mengesampingkan ribuan tradisi lama dan aturan-aturan lama mereka untuk melepaskan diri dari tali kekang individu negara demi negara, demi sebuah potensi besar ekonomi kawasan. Diawali dari wilayah Anglo Saxon, selepas era Margaret Thatcher, era neoliberal yang diusung Tony Blair berhasil menset ekonomi Inggris menjadi ekonomi yang prima pada akhir tahun 1990-an. Kebijakan Blair, tak bisa dipungkiri sangat dipengaruhi oleh gerakan neoliberal yang dibawa Bill Clinton, sejawatnya dari Amerika.

Konsensus yang sama sekarang telah dimulai di seluruh benua. Di bawah kepemimpinan pemimpin sosialis Gerhard Schröder, Jerman telah menurunkan pajak perusahaan hingga 40 persen menjadi selevel dengan AS. Padahal, di dunia ekonomi makro, sektor apakah yang lebih mendasar daripada pajak? Beberapa polling pun menunjukkan bahwa selain Jerman, Prancis pun tak takut untuk mereformasi stereotip dan sugesti Eropa Lama. Di bawah pimpinan sosialis PM. Lionel Jospin, Prancis mulai membangun proses reformasi yang sama, meskipun masih secara terselubung, misalnya dengan proses privatisasi Air France yang lebih terbuka.

Di sisi lain, betul bahwa ada catatan yang menulis bahwa Eropa terlalu lambat memasuki era internet ketimbang Amerika. Bahkan, ada pendapat sinis yang hakul yakin Eropa tak akan pernah bisa mengejar prestasi kemajuan IT Amerika. Sikap yang cenderung melecehkan Eropa itu, padahal manusia Eropa terkenal dengan harga dirinya yang setinggi langit, lalu menjadi cambuk bagi banyak orang Eropa. Bahkan banyak ekonom termasuk Bradford De Long dari Universitas California, Barkeley, berpendapat bahwa Eropa sekarang mirip Amerika pada tahun 1992 yang tak pernah berhenti bekerja keras untuk meraih keajaiban.

Bayangkan, anggaran yang dihabiskan Eropa untuk sektor IT persis seperti dengan yang dikeluarkan Amerika sepuluh tahun lalu: sekitar 2,8 persen dari GNP. Sebuah Konsorsium IT di Eropa mengeluarkan pernyataan bahwa mereka sedang menjalankan rencana besar pengembangan IT dengan anggaran sampai 45 persen pada tahun 2005, seperti yang pernah dilakukan Konsorsium IT Amerika pada empat tahun pertama booming internet di negara itu.

Lebih lanjut, Eropa juga belajar dari kegagalan AS: overspending, overstaffing, dan overdoing terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan IT. Lembaga Riset Forrester memprediksikan bahwa rekoveri bagi lebih banyak teknologi tepat guna akan menolong Eropa untuk “memperpendek kesenjangan produktivitas IT dengan AS.”

Namun sinisme terhadap kebangkitan Eropa masih ada. Pada tahun 2002 lalu, pasar global yang sedang muram cenderung berasumsi bahwa ekspansi UE bagaimanapun akan melemahkan ekonomi negara-negara anggotanya. Ekonomi Jerman Barat, misalnya, ketika melambat pada pascareunifikasi setelah diserbu warga miskin dari Jerman Timur menyusul diruntukannya Tembok Berlin.

Justru sebagian besar ekonom dunia yakin bahwa pada 10 tahun yang akan datang, paling cepat 8 tahun lagi, Eropa Barat akan diperkuat oleh macam-macam ekonomi baru dari Timur yang kini sedang tumbuh dengan pesatnya. Pertumbuhan ekonomi Hungaria, Republik Ceko dan Polandia saat ini diperkirakan mencapai 4 sampai 5 persen sampai sepuluh tahun ke depan. Kemajuan semacam itu akan menjadi daya angkat Eropa secara keseluruhan.

Itu menjadi indikasi akan terjadinya pemerataan ekonomi baik di Eropa Timur maupun di Eropa Barat. Tentu saja, masih ada saja disfungsi yang masih melekat pada negara-negara eks-komunis itu. Peter Cornelius, seorang pengarah pada World Economic Forum berpendapat bahwa apa yang sedang terjadi pada beberapa ‘macan’ di Eropa Timur itu tidak berarti semuanya berjalan dengan benar. Cornelius juga membedakan karakteristik pertumbuhan mereka dengan apa yang terjadi pada negara-negara macan di Asia.

Contoh, jika Eropa memiliki masalah dengan lemahnya sistem perbankan dan mobilitas buruh—dan itu sudah terjadi—China menghadapi masalah kolapsnya bank-bank besar dan pemogokan kaum buruh.

China bukanlah pesaing UE. Meskipun dari sisi jumlah penduduk, China sudah melewati angka 1,3 miliar jiwa. Dengan asumsi ekspansi UE dengan anggota mulai dari 15 negara kemudian berkembang menjadi 30 lebih negara maka UE akan memiliki populasi total hingga 550 juta jiwa yang akan menyaingi populasi AS, yang pada tahun 2050 diperkirakan mencapai 550 juta.

Tony Blair pernah berkata, “jangan pernah memandang rendah kekuatan Eropa.” Lalu seorang pejabat pada Bank Central Eropa, Wim Duisenberg selalu memperkenalkan para direkturnya bukan dari latar kebangsaannya, tapi selalu dari Eropa. Kemudian ada poling Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) terkini, 92 persen dari pesertanya setuju bahwa melihat masa depan Eropa bukan lagi dari identitas kebangsaannya, tapi sebagai satu Eropa.

Bagaimana dengan generasi muda Eropa, mendukungkah mereka? Seribu orang anak muda Eropa yang berusia antara 15 sampai 25 tahun ketika dimintai pendapat mereka tentang hal itu justru mengusulkan agar segera dibuat sebuah pemerintah Eropa di bawah satu bendera dan satu pemerintahan dengan presiden yang dipilih dan membuka seluas-luasnya keanggotaan UE. Sepertinya jika masih ada yang tidak berpikir bahwa Eropa sedang bermetamorfosa menjadi sesuatu kekuatan raksasa, berpikirlah sekali lagi. Z.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: