Tinggalkan komentar

Wicaksono Sarosa

WICAKSAROSA 01

Dari “Fresh from Java” ke “International Knowledge-Worker”

Icon, begitu ia biasa disapa oleh saudara dan kawan-kawan sekolahnya, meski kemudian di dunia pekerjaan lebih sering dipanggil sebagai Wicak. Semasa di ITB, ia pernah dijuluki oleh bebrapa teman-temannya sebagai “fresh from Java” karena gayanya, terutama gaya bicaranya, yang sangat Jawa. Singkat kata, nuansa Jawa-nya “medok banget” ketika itu. Tapi, siapa sangka, perjalanan hidup Wicaksono Sarosa kemudian membawanya menjadi seorang instruktur pelatihan dan “knowledge-worker” di bidang perencanaan daerah yang berkelanjutan, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di berbagai tempat di luar negeri.

***

Sebagai seorang “knowledge-worker”—nama yang dipilih Wicaksono untuk profesi yang ditekuninya—alumni Jurusan Arsitektur ini terpanggil untuk selalu mempelajari kisah-kisah perencanaan pembangunan daerah yang sukses (atau tidak sukses) di suatu tempat untuk kemudian diceritakannya di tempat lain agar ditiru atau diadaptasi. Wahana penceritaannya bisa melalui forum-forum pelatihan yang intensif dan menarik, namun bisa saja sekedar melalui seminar, konferensi atau tulisan-tulisan baik di media-massa maupun melalui publikasi ilmiah.

Profesi yang mengkombinasikan keahlian penelitian dan komunikasi publik ini membawa Wicaksono ke berbagai pelosok tanah air maupun berbagai negara di Asia seperti Vietnam, Kamboja, Korea dan bahkan hingga Kerajaan Bhutan di lereng pegunungan Himalaya yang tidak mudah dikunjungi orang luar. Alumni ITB yang satu ini juga pernah menjadi dosen tamu di Australia. Kalau sekedar menjadi pembicara di seminar internasional, dia sudah melakukannya di banyak negara. Harapannya apalagi jika bukan untuk berbagi cerita dan pengalaman dari daerah atau masyarakat yang diamatinya.

Isu-isu sentral yang sering dibahas Wicaksono dalam berbagai forum transfer-pengetahuan itu di antaranya tentang manajemen pembangunan daerah atau kawasan urban secara berkelanjutan, pengembangan masyarakat (community development), terutama kaitan-kaitannya dengan penguatan modal sosial, pengembangan ekonomi lokal dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Tentang pilihan profesinya ini, Wicaksono berujar:

“Di satu sisi saya sangat menyukai perjalanan ke tempat-tempat baru, di sisi lain saya ingin hidup saya berguna bagi orang lain. Jadi, daripada sekedar mengunjungi tempat-tempat baru sekedar untuk kepuasan pribadi mengapa tidak sekalian untuk melakukan transfer pengetahuan yang saya ‘ambil’dari tempat lain. Yah., anggap saja seperti pedagang keliling. Hanya saja yang ‘diperdagangkan’ adalah pengetahuan tentang hal-hal tertentu.”

“Berbeda dengan ‘barang’, kita tidak kehilangan sesuatu ketika kita berbagi pengetahuan. Kemungkinan besar, pengetahuan kita malah bertambah karena orang yang kita bagi kemungkinan besar juga akan menceritakan pengetahuan atau pengalamanannya. Jadi tidak akan ada habisnya.”

Ada sebuah pengalaman unik, yang menyertai perjalanan karirnya sebagai knowledge-worker, terutama karena ke-Indonesiaannya. Ceritanya, ketika itu Wicaksono sedang bertugas sebagai instruktur pelatihan dalam sebuah program UNDP—sebuah badan dunia di bawah PBB yang bergerak di bidang pembangunan—di Vietnam. Ketika memasuki sesi tanya-jawab pertama, salah seorang peserta, yang adalah seorang veteran perang Vietnam sekaligus anggota dewan salah satu propinsi di negara itu bertanya: “UNDP berjanji yang akan mengirim ke sini seorang instruktur internasional, kok yang datang dari Indonesia?” Seolah-olah kata “Indonesia” tidak klop cocok jika diasosiasikan dengan kata “internasional.” Setengah jengkel, setengah geli, Wicaksono menjawab dengan singkat: “Soal mengapa UNDP memilih saya sebagai instruktur pada pelatihan ini, silakan tanya UNDP. Tapi saya berdiri di sini tidak hanya membawa pengalaman dari Indonesia, tapi juga dari beragai negara lain, khususnya di Asia.” Veteran perang Vietnam itu diakhir sesi pelatihan tiga hari menyatakan puas.

Pengalaman lain yang menarik adalah ketika Wicaksono sedang memberi suatu pelatihan di dalam negeri. Ketika selesai memberi beberapa contoh dari berbagai negara di mana upaya upaya pembangunan ekonomi lokal berhasil, salah satu peserta nyeletuk: “Wah, itu nggak bisa dilaksanakan di Indonesia, Pak!.” Kemudian Wicaksono merespon dengan memberi beberapa contoh sejenis dari dalam negeri. Si peserta masih ngotot, “Hal seperti itu di daerah saya nggak bisa diterapkan, Pak!” sambil menyebut nama daerahnya. Wicaksono langsung menimpali: “Pantas daerah Bapak tidak bisa maju, karena karena Bapak tidak pernah mau belajar dari orang lain!”.

***

Walaupun kelihatannya tidak ada hubungannya dengan ilmu Arsitektur yang pernah dipelajarinya di ITB, Wicaksono menganggap apa yang digelutinya sekarang ini tidak menyimpang jauh dari bidang studinya. Apalagi jika dikaitkan dengan studi lanjutannya hingga meraih gelar Ph.D bidang Urban and Regional Planning dari University of California at Berkeley.

Lulus dari Arsitektur ITB tahun 1984, Wicaksono kemudian terlibat dalam berbagai proyek perencanaan dan urban desain, seperti pada proyek pembangunan Bumi Serpong Damai dan Bintaro Jaya. Namun, fokus minatnya kemudian perlahan bergeser pada bidang perencanaan wilayah yang tidak semata berbicara tentang ruang dari sudut pandang fisik kewilayahan dan spasial geometris semata. “Saya justru memandang bahwa unsur-unsur keruangan non-fisik, yang lebih abstrak, lebih menarik untuk dieksplor lebih dalam,” ungkap pria yang sangat terkesan dengan buku “Architecture Beyond Architecture” karya duet penulis Cynthia C. Davidson dan Ismaïl Serageldin ini. Di dalam buku tersebut, Wicaksono menyerap sebuah pesan bahwa seorang arsitek bisa “berarsitektur” dengan cara yang tidak seperti orang kebanyakan memandang arsitektur. “Selama ini arsitektur selalu dipandang dari sudut pandang seni mendesain bangunan atau lingkungan fisik. Padahal, tidak selalu harus begitu,” tegas Wicaksono. Arsitektur bisa dipandang sebagai upaya kreatif untuk menciptakan lingkungan hunian yang nyaman dan baik, baik fisik maupun non-fisik. Tampaknya, kiprah Wicaksono sebagai seorang instruktur di bidang perencanaan daerah, sangat dipengaruhi oleh pesan buku itu.

***

Hobi membacanya membawa Wicaksono juga menjadi seorang peneliti. Selama lebih dari lima tahun, suami dari Nurmaria serta ayah dari Adi dan Astari ini diserahi mengelola lembaga penelitian bernama URDI (Urban and Regional Development Institute). Tugas itu berakhir pada awal 2007, walaupun dia masih duduk sebagai anggota pengurus yayasan yang menginduki lembaga tersebut. Sejak itu, Wicaksono lebih banyak bekerja sebagai profesional independen, baik sebagai konsultan, peneliti, fasilitator dan penulis. Salah satunya merupakan bagian dari suatu kolaborasi penelitian dan penulisan perkembangan urbanisasi di 12 negara di Asia yang dibiayai oleh Bank Pembangunan Asia dan Cities Alliance (“Urbanization and Sustainability in Asia” yang diterbitkan tahun 2006).

Sebenarnya, jauh sebelum berkarir di URDI, pada tahun 1997, ia sempat turut mendirikan sebuah perusahaan bidang urban desain bersama beberapa teman yang lain serta dimotori oleh seorang sahabatnya. Namun karena kesibukannya sebagai knowledge-worker independen inilah, keterlibatannya di perusahaan tersebut semakin berkurang. Meskipun demikian secara berkala dia tetap berusaha untuk mengikuti perkembangan kantor konsultan tersebut. Demikian pula, di tengah-tengah kesibukannya yang banyak menuntut perjalanan luar kota, Wicaksono tetap berusaha meluangkan waktunya untuk mengajar pada salah satu program pascasarjana di Universitas Trisakti.

***

Institut Teknologi Bandung, bagi seorang Wicaksono, merupakan awal bagi karir yang kini digelutinya. Di kampus Ganesha inilah Wicaksono, yang pernah menjadi Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Arsitektur ITB (yang bernama “Gunadharma”) ini belajar berorganisasi dan komunikasi publik. Namun yang lebih penting lagi adalah, melalui berbagai kegiatannya itu, dia belajar mengenal diri sendiri. Itu yang terpenting menurut Wicaksono dari yang dia dapat selama di ITB.

(ditulis berdasarkan hasil wawancara atas Wicaksono Sarosa, 2008, untuk penulisan buku Alumni ITB78)

Baca juga di sini:

  1. Wicak Sarosa @ blogspot
  2. Wicak Sarosa @ penataanruang.net

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: