1 Komentar

Action Learning: Sebuah Antisipasi Songsong Masa Depan

actionlearning.jpg

Evolusi intelektual manusia telah menghasilkan ribuan metode ilmiah agar kehidupannya tetap berada dalam level yang bermutu. Berbagai definisi tentang segala macam prinsip-prinsip ilmiah pun dirilis mulai dari yang menggunakan bahasa canggih yang hanya bisa dimengerti oleh sebagian kecil manusia intelektual hingga yang menggunakan bahasa yang bisa dimengerti banyak orang awam. Termasuk di dalamnya definisi dan metode tentang belajar, mengajar, atau mendidik hingga definisi dan metode tentang mengatur atau memanaje sekumpulan manusia.

Salah satunya metode dan asas “Action Learning” (selanjutnya kita singkat saja dengan “AL” agar hemat ruang). Dalam perbincangan saya dengan Dr. Antony Hii, salah seorang penggiat AL dari Serawak bisa disimpulkan bahwa AL merupakan sebuah metode alternatif untuk melengkapi metode-metode peningkatan sumber daya manusia yang selama ini dijadikan konsep baku di seluruh dunia melalui sistem kurikulum klasikal di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.

Metode AL memiliki formula L = P + Q. Rinciannya: L untuk learning, P untuk “program knowledge” yang diperoleh dari buku, majalah, internet atau televisi yang telah didisain untuk keperluan siswa atau mahasiswa, sedangkan Q adalah “the questioning process”yaitu proses bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi. Menurut Dr. Antony Hii, perguruan tinggi dunia sekelas Harvard dan Massachussets Institute of Technology (MIT) kini telah menerapkan sistem yang serupa dengan AL, hanya saja di Harvard asas itu disebut dengan asas “what if”: belajar mengantisipasi “bagaimana jika sesuatu hal terjadi dan apa yang mungkin terjadi di masa depan.”

Tadinya, tambah Dr. Antony, Harvard terlalu mengedepankan unsur “P” melalui instruksi-instruksi yang datang dari buku teks semata. Padahal dunia terus berubah dan berkembang. Sadar akan kelemahan metodologi itu, mereka beralih pada disain khusus dengan memperbanyak pembahasan kasus-kasus di berbagai lapangan ekonomi mikro (kasus-kasus di berbagai perusahaan besar, red) dan makro (di berbagai negara, red) serta mulai menggalakkan asas “what if”.

What if dan action learning adalah sama. Namun setiap kali metode baru diperkenalkan, ada saja kontroversi tentangnya. Menurut Dr. Richard Teare, juga seorang penggiat AL dari Revans University, awalnya terjadi tarik menarik antara penggiat AL dan asosiasi para manajer yang bergerak di bidang akademis. Kata seorang akademisi senior yang tak setuju metode itu diterapkan di dalam kelas-kelas di universitas, jika seseorang ingin menggapai derajat MBA, maka seseorang itu mesti menerima dan menguasai teori yang dulu diajarkan diterima dan diajarkan kepada para MBA pendahulunya. Atau, penentangan para akademisi yang berpendapat bahwa metode AL hanya pas diterapkan di luar kampus, semisal di perusahaan-perusahaan. Toh, akhirnya metode ini diakui oleh berbagai universitas di berbagai negara.

About these ads

One comment on “Action Learning: Sebuah Antisipasi Songsong Masa Depan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: