Tinggalkan komentar

Pemuda-Pemudi, Di Tanganmu Indonesia Hebat (oleh Patria Gintings)

Pemuda-Pemudi, Di Tanganmu Indonesia Hebat (oleh Patria Gintings)

Untuk melengkapi artikel tentang argumentasi kampanye Indonesia Hebat yang dilaksanakan oleh BP Pemilu PDI Perjuangan maka berikut saya sertakan link tulisan Patria Gintings tentang pandangannya terhadap Iklan INDONESIA HEBAT versi Hari Sumpah Pemuda

Artikel yang ditulisnya, berjudul: “Pemuda-Pemudi, Di Tanganmu Indonesia Hebat” itu memiliki tiga perspektif, yaitu Patria sebagai kader PDI Perjuangan, sebagai pemerhati komunikasi, dan sebagai pemuda Indonesia. Silahkan dibaca :) —> KLIK GAMBAR DI BAWAH INI.

Patria

8 Komentar

Pak Harto Bukan Abu Lahab

Pernah aku begitu benci Pak Harto, tapi sekarang aku sadar: aku salah!

 

Pak Harto adalah pahlawan bagi para pencintanya. Aku yakin itu. Jika almarhum Bapak masih hidup, mungkin ia akan sudah ceriwis mengomentari tarik ulur pengusulan Pak Harto sebagai Pahlawan Nasional. Ia adalah seorang Soehartois (meniru istilah Soekarnois, hehe). Sebagai cah Yogjo, almarhum Bapak memang pengagum Soeharto. Sewaktu aku kecil dulu, ia selalu bercerita tentang kisah heroik Pak Harto, terutama tentang perannya dalam Serangan Umum 1 Maret, yang terkenal dengan momen Enam Jam di Jogja itu. Ia pula yang selalu mengingatkanku untuk menonton film “Janur Kuning”, yang menampilkan Kaharudinsyah sebagai Letkol Soeharto.

Tapi entah mengapa, sejak SD pun aku sudah tak suka Pak Harto. Tak obyektif, memang. Mungkin aku silau dengan pesona Margareth Tacher, Ronald Reagen, atau Lee Kuen Yeuw yang fasih ber-english ria. Juga tentang kisah Bung Karno yang fasih multibahasa. Sedangkan Pak Harto, tentu saja tidak. Ia selalu berpidato dalam bahasa Indonesia. Sebagai anak kecil, aku punya kesan: seorang presiden harus bisa berbahasa asing. Sebagai anak buruh, situasi hidup yang serba pas-pasan menambah ketakpuasanku pada keadaan, yang ketika itu identik dengan Pak Harto.

Di usia belasan tahun, persisnya 18 tahun, ketika aku dicekoki semangat perlawanan anti NKRI, lagi-lagi ketaksukaanku atas Pak Harto tambah memuncak. Apalagi ia dianalogikan sebagai Abu Lahab, pemimpin Quraisy yang memusuhi Nabi. Tentang ini, ada baiknya kuceritakan sedikit agar lebih jelas duduk perkaranya.

Lanjutkan Membaca »

Tinggalkan komentar

Wajahku Mirip Banyak Orang? Huff …

“Di banyak kota yang pernah kusinggahi, ada saja cerita orang salah kira. Bahkan, di kotaku sendiri aku pernah ditampar  seorang supir angkot karena disangka orang lain …”

Entah sudah berapa belas kali aku disangka orang lain. Apakah karena model wajah yang dilukiskan Tuhan untukku memang pasaran? Bisa jadi. Lha, buktinya, dalam dua hari ini lagi-lagi aku disangka orang lain. Kejadian terkini tadi siang, ketika menghadiri sejenak sebuah diskusi di sela-sela even Expo Pembiayaan di Gedung SMESCO Indonesia. Seorang perempuan separuh baya menyapaku, “Apa kabar Pak Umar? Sekarang kerja di media apa?”  Ia yakin betul bahwa aku adalah Umar, seorang jurnalis bulletin internal sebuah lembaga.

Sehari sebelumnya, dalam sebuah sesi wawancara, seorang pejabat Bank Indonesia sempat menyangka aku adalah wartawan Kompas yang sudah lama ia kenal. Ketika kami berpapasan di muka lift dan saling menyapa, ia sempat bertanya pada diri:  “apakah ia (maksudnya aku) sudah keluar dari Kompas dan bekerja di Kementerian Koperasi dan UKM?”.
Lanjutkan Membaca »

1 Komentar

Mas Parimin Mencabut Pakubumi

ConstructionArt-RGB

Ini tentang seorang sahabat yang kini telah tiada. Mendahuluiku dan kami para sahabatnya. Ia seorang “pejuang” penuh sahaja. Mungkin, ia bukan seorang patriot. Tapi ia adalah peluru yang siap melesat ke mana saja. Namanya tak kan pernah ku lupa: Parimin.

Semangat Parimin mewakili sosok orang desa yang enggan hidup manja. Meski ia lancar baca dan tulis, seingatku Ia tak lulus Sekolah Dasar.  Ia sosok yang polos. Tak banyak bicara ketika melaksanakan perintah. Jarang berteori. Yang ia yakini: pengabdian adalah segalanya. Ia tak peduli apakah malaikat pencatat merekap amal jihadnya atau tidak. Fyuuuh, sebuah sikap yang bagiku menampar banyak pribadi. Termasuk aku, tentunya.

Senyum Parimin adalah fenomena langka. Sesekali saja ia tersenyum. Sebaliknya, ia hampir selalu membuatku tersenyum karena ketulusannya. Juga, karena kepolosannya. Pertanyaan-pertanyaannya di luar dugaan. Bagi orang lain, mungkin, ia melontarkan pertanyaan bodoh. Bagiku tidak.

Satu pertanyaan Parimin tak kan pernah kulupa, kecuali jika kelak aku telah tertawan penyakit pikun. Pertanyaan Parimin kala itu kaitan erat dengan latar belakangku sebagai mahasiswa jurusan Planologi–yang berkaitan dengan ilmu tata kota.  Begini ceritanya:

Lanjutkan Membaca »

3 Komentar

Koleksi Buku Darul Islam

Bulat sudah tekad saya untuk mengumpulkan berbagai literatur tentang Darul Islam. Meski sebenarnya, merupakan bagian dari upaya sambilan membangun perpustakaan mini, tapi berburu buku-buku Darul Islam kini menjadi salah satu prioritas. Tak hanya tentang DI tentunya, tapi juga tentang Syarikat Islam atau Sarekat Islam (SI), organisasi yang menjadi wadah awal kiprah Kartosoewirjo. Karena itu, dalam kelompok ini buku-buku tentang HOS Tjokroaminoto menjadi salah satu target buruan.
Uniknya, banyak pihak yang tertarik dengan buku-buku tersebut. Beberapa ingin meminjam untuk menulis tesis.

Kemarin, upaya mengumpulkan buku-buku lawas tentang Darul Islam mulai membuahkan hasil. Dua buku kini mengisi koleksi kepustakaan di rumah, yakni:

  1. Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo karya Pinardi, terbitan diterbitkan BP Aryaguna tahun 1964;
  2. Abdul Qahhar Mudzakkar: Dari Patriot hingga Pemberontak karya Anhar Gonggong, diterbitkan Grasindo tahun 1992.
  3. Darul Islam: Sebuah Pemberontakan, karya Van Dijk, diterbitkan Grafiti Press.
    Lanjutkan Membaca »
1 Komentar

Kartosoewirjo versi Tempo

Hari ini, 16 Agustus 2010, Majalah TEMPO memuat tulisan panjang tentang Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK). Cover depan majalah pun memuat ilustrasi grafis wajah Proklamator Negara Islam Indonesia itu.  Dalam laporan khusus ini, saya memang sempat urun info, secara terpisah dengan beberapa narasumber lain, seperti: Sardjono Kartosoewiryo dan Solahudin–peneliti Darul Islam, yang juga senior saya di Majalah Panji Masyarakat pada pertengahan dekade 1990-an silam.

Kontribusi saya tak banyak dalam laporan panjang TEMPO ini. Dari awal, ketika pertama kali saya dihubungi Idrus F Shahab (redaktur senior Tempo yang juga pernah menjadi senior saya di Majalah Panji Masyarakat), pihak TEMPO telah memberi informasi bahwa angle laporan mereka adalah tentang sosok Kartosoewirjo. Tentu saja, sedapat mungkin dilengkapi dengan berbagai single out tentang kiprah sang Imam NII itu. Sebagai orang yang pernah bergabung bersama gerakan NII selama 15 tahun(khususnya NII faksi Al-Zaytun atau lebih dikenal sebagai NII KW-9), saya jelas tak mengenal langsung sosok Kartosoewiryo. Bertemu dengan anak-anak beliau pun tak pernah. Karena itu, saya merasa tak berhak bercerita tentang sejarah perjuangan SMK, berikut lika-liku serta dinamika yang menyertainya. “Yang saya tahu, ya yang saya alami,” kata saya kepada tim penulis TEMPO.
Lanjutkan Membaca »

2 Komentar

Komik Gandrung

Boekoe Gandroeng #2

Pada tulisan terdahulu, yang saya beri judul Boekoe Gandroeng #1, ada bagian tulisan yang berbunyi begini:

Demi anak-anak, perpustakaan juga dilengkapi dengan kumpulan buku-buku komik dan kartun, seperti: Trilogi Komik Riwayat Peradaban, komik Filsuf Jagoan, biografi grafis Che Guevara, komik Bersabdalah Zarathustra - Nietzsche, komik Mein Kampf – Hitler, kartun Biografi Mahatma Gandhi, hingga kartun buku “On The Origin of Species” karya Charles Darwin.

Buku-buku itu, memang sengaja saya beli untuk bacaan anak-anak saya, terutama si sulung dan si tengah. Si Sulung kini duduk di bangku kelas III SMP, sedangkan Si Tengah duduk di bangku kelas I SMP. Oh ya si bungsu masih kecil. Ia baru saja merasakan seragam sekolah putih merah.

Jujur, meski pada mulanya buku-buku tadi saya dedikasikan untuk anak-anak, tapi buku-buku ini tetap penting dibaca, tak hanya anak-anak atau remaja. tapi juga orang dewasa Apalagi, yang tidak terlalu “nyaman” dengan buku aslinya, yang jelas memerlukan energi khusus untuk  membacanya, seperti Bersabdalah Zarathustra tulisan Nietzsche, Mein Kampf karya Hitler, atau “On The Origin of Species” karya Charles Darwin, si Bapak Teori Evolusi itu.
Lanjutkan Membaca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.